Senjakala Perenungan Manusia

Kompas.com - 26/07/2017, 19:52 WIB
Ilustrasi. kieferpixIlustrasi.
EditorHeru Margianto

 

Cara kita menganggit pengetahuan hari ini, berbeda jauh dengan para pendahulu.  Hidup yang serba mudah, membuat kita sulit memahami bahwa segala sesuatu ada maksud dan tujuannya. Anak-anak manusia yang lahir, jelas membutuhkan bekal ilmu bagi hidup mereka.

Tak semua kita bakal jadi pemimpin. Tak semua kita harus jadi insinyur. Tak semua. Hidup yang pusparagam begini, tak bisa didekati dengan pola dan pendekatan seragam.

Sekolah, harusnya menggunakan pemahaman begini dalam proses belajar-mengajarnya agar menghasilkan manusia pembelajar. Kita hanya perlu menjadi diri sendiri. Utuh menyeluruh.

Alexander Graham Bell, sang penemu ulung itu, dibesarkan pada era ketika universitas lebih banyak melahirkan sarjana tinimbang ilmuwan, apalagi begawan.

Sementara kita, hidup dalam zaman manakala sekolah dan perguruan tinggi lebih senang melahirkan golongan buruh.

Sudah hampir setengah abad kondisi ini berlangsung sejak perseteruan sengit mazhab Wina dan Frankfurt, namun kita tak jua sadar betapa sekolah hari ini di banyak negara hanya dijadikan penopang industri.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Abad materialisme sungguh benar menggerus kemanusiaan kita. Dalam banyak sendi kehidupan, kita melulu terjebak pada formalitas belaka. Tak pernah menjeluk ke ranah makna.

Sejatinya, pendidikan adalah harapan. Adalah perjuangan. Perlawanan, pada ketidaktahuan kita akan kondisi nyata kehidupan.

Jika kita tahu apa yang sejatinya diketahui, maka hasilnya adalah pengetahuan. Belajar itu menembus batas. Bahkan tak berhenti sampai liang lahat.

Semua kita tumbuh secara usia, kejiwaan, logika berpikir, keyakinan, dan spiritualitas. Pertumbuhan usia, kejiwaan, dan logika berpikir, akan memunculkan watak manusia yang sangat khas. Sulit didedah. Bahkan dengan metodologi penelitian paling rigid sekali pun.

Kita bisa mengerti segala tingkah laku orang per orang hanya dengan mengamati mereka. Namun, jelas itu menghabiskan waktu dan usia.

Semakin kita mengamati, kian nyata terlihat betapa tidak masuk akal pengamatan tersebut. Sementara saat bersamaan, kita tak jua paham dengan diri sendiri.

Saya pernah diajak diskusi oleh seorang kawan asal Jerman. Ia mengakui dirinya agnostik sejak lahir. Pun dengan orangtua dan keluarga besarnya.

Ia tak sepenuhnya menyatakan bahwa Tuhan dan agama hanya omong kosong belaka. Sebaliknya, ia meyakini bahwa pengetahuan yang dimilikinya terkait hal itu, jauh dari memadai.

Buah dari pohon keyakinannya membawa ia pada pencarian sejati tentang kebenaran dan jalan lurus yang sebelumnya telah ditempuh para Nabi dan Rasul Tuhan. Ranah inilah yang disebut spiritualitas.

Andai sebagian besar umat beragama mau bertungkus lumus dalam soal ini, klaim tunggal pemegang kebenaran takkan pernah jadi prahara.

Suatu hari, Lao Tze (600-531 SM) pernah berkata, "Kebaikan dalam perkataan menciptakan keyakinan. Kebaikan dalam pikiran membuahkan kedalaman. Kebaikan dalam memberi menciptakan kasih sayang."

Setiap manusia pasti melewati masa peralihan pada tingkat keyakinan. Percaya atau tidak pada Zat yang adikodrati, keyakinannya itu bakal menghunjam di kedalaman hidup kita, dan mencuatkan rasa kasih sayang.

Di puncak pencapaian spiritual itulah, kita akan mengerti untuk apa semua ini diadakan Tuhan.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pemerintah Percepat Capaian Kepemilikan Akta Kelahiran Anak

Pemerintah Percepat Capaian Kepemilikan Akta Kelahiran Anak

Nasional
Azis Syamsuddin Dikabarkan Berstatus Tersangka, Golkar Hargai Proses Hukum di KPK

Azis Syamsuddin Dikabarkan Berstatus Tersangka, Golkar Hargai Proses Hukum di KPK

Nasional
20 Tersangka Kasus Peredaran Uang Palsu Ditangkap, Polisi: Ada yang Residivis

20 Tersangka Kasus Peredaran Uang Palsu Ditangkap, Polisi: Ada yang Residivis

Nasional
Komisi VIII DPR Ingatkan Perlunya Mitigasi jika Ada Siswa atau Guru Positif Covid-19

Komisi VIII DPR Ingatkan Perlunya Mitigasi jika Ada Siswa atau Guru Positif Covid-19

Nasional
Sebaran 160 Kasus Kematian akibat Covid-19, Tertinggi di Aceh

Sebaran 160 Kasus Kematian akibat Covid-19, Tertinggi di Aceh

Nasional
Menduga di Jabar, Polisi Dalami Lokasi Pembuatan Uang Palsu Dollar AS

Menduga di Jabar, Polisi Dalami Lokasi Pembuatan Uang Palsu Dollar AS

Nasional
Menurut KPU, Hal Ini Harus Diperbaiki untuk Cegah KPPS Meninggal Saat Pemilu 2024

Menurut KPU, Hal Ini Harus Diperbaiki untuk Cegah KPPS Meninggal Saat Pemilu 2024

Nasional
Lewat Program Pejuang Muda, Mensos Ajak Mahasiswa “Baca” Masa Depan

Lewat Program Pejuang Muda, Mensos Ajak Mahasiswa “Baca” Masa Depan

Nasional
UPDATE: 46.980.347 Juta Orang Sudah Divaksinasi Covid-19 Dosis Kedua

UPDATE: 46.980.347 Juta Orang Sudah Divaksinasi Covid-19 Dosis Kedua

Nasional
Kemenkes Sebut Mayoritas Nakes Pakai Moderna ketimbang AstraZeneca sebagai Vaksin 'Booster'

Kemenkes Sebut Mayoritas Nakes Pakai Moderna ketimbang AstraZeneca sebagai Vaksin "Booster"

Nasional
UPDATE 23 September: Ada 353.860 Suspek Terkait Covid-19 di Indonesia

UPDATE 23 September: Ada 353.860 Suspek Terkait Covid-19 di Indonesia

Nasional
UPDATE 23 September: 47.997 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia

UPDATE 23 September: 47.997 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia

Nasional
UPDATE: Tambah 248.125, Total Spesimen Covid-19 yang Diperiksa 37.348.941

UPDATE: Tambah 248.125, Total Spesimen Covid-19 yang Diperiksa 37.348.941

Nasional
UPDATE 23 September: Kasus Sembuh Covid-19 Tambah 4.386, Total Jadi 4.012.448

UPDATE 23 September: Kasus Sembuh Covid-19 Tambah 4.386, Total Jadi 4.012.448

Nasional
Kepada Pelajar, Jokowi: Vaksin Covid-19 Ini Jadi Rebutan 220 Negara

Kepada Pelajar, Jokowi: Vaksin Covid-19 Ini Jadi Rebutan 220 Negara

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.