Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Hinca IP Pandjaitan XIII
Politikus

Politikus, sekretaris jenderal Partai Demokrat. Menulis untuk menyebarkan kebaikan, menabur optimisme sebagai bagian dari pendidikan politik bagi anak bangsa dalam kolom yang diberi judul: NONANGNONANG. Dalam budaya Batak berarti cerita ringan dan bersahaja tetapi penting bercirikan kearifan lokal. Horas Indonesia.

Brexit, Referendum dan Catatan SBY

Kompas.com - 27/06/2016, 07:05 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
EditorAmir Sodikin

ASEAN itu adalah asosiasi dengan  tujuan utama perdamaian dalam konteks politik dan keamanan. Belakangan kesuksesan ini bisa merambah sampai ke soal ekonomi dan budaya, yang disebut ASEAN Values.

Tetapi, kata SBY, ASEAN harus belajar dari Inggris kenapa keluar dari EU. ASEAN jangan terlalu kaku, rigid, dan memaksakan diri seperti di  EU. ASEAN harus bisa mengelola kemajemukannya.

Tanpa Timor Leste, ASEAN tidak lengkap. Indonesia mendukung tetapi ada negara lain yang menolaknya karena dilihat dari sisi ekonomi semata yang tidak berdampak. Sesungguhnya ASEAN harus berpijak pada tiga pilar ASEAN: ekonomi, politik dan budaya secara utuh.

Referendum, pilihan demokratis atau konyol?

Dalam perspektif tools demokrasi, referendum sudah dikenal sangat lama. Ia sebuah keniscayaan. Ia terasa adil bagi yang menang dan sebaliknya kejam bagi yang kalah.

Ia menjadi sarana yang diagungkan dan hebat bagi yang menang tapi dianggap paling konyol bagi yang kalah.

Indonesia punya pengalaman pahit ketika kedaulatannya dipertaruhkan di "meja raksasa" bernama referendum untuk menentukan apakah Timor Timur tetap berada di dalam kedaulatan Indonesia atau merdeka sendiri.

Banyak yang menyalahkan pilihan itu, meski tak sedikit yang memujinya. Padahal, referendum tak pernah salah, ia hanya sebuah tools. Yang menang dan yang kalah punya perasaan, sayang sekali referendum tak punya perasaan.

Keputusan sudah diambil. Referendum sudah melahirkan sejarah baru di Inggris. Sekarang tinggal bagaimana mengelola dampak referendum itu sendiri. Soal benar atau salah pilihan masyarakat Inggris itu, sejarahlah yang akan nenjadi pengadil yang terbijak.

"Itu risiko yang harus dihadapi oleh pemimpin Inggris dan pemimpin dunia secara bersama-sama, termasuk kita di Indonesia", kata SBY sambil mengajak saya diskusi di ruang kecil di Cikeas menanti datangnya tiga elit PKS berdiskusi dengan Partai Demokrat.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com