KPK: Hasto Hanya Berasumsi di Sidang Praperadilan Budi Gunawan

Kompas.com - 11/02/2015, 13:07 WIB
Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal PDI-P Hasto Kristiyanto duduk di ruang sidang untuk menjadi saksi sidang Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (10/2/2014). Hasto akan bersaksi untuk praperadilan penetapan Komjen  Budi sebagai tersangka. KOMPAS.com/IHSANUDDINPelaksana Tugas Sekretaris Jenderal PDI-P Hasto Kristiyanto duduk di ruang sidang untuk menjadi saksi sidang Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (10/2/2014). Hasto akan bersaksi untuk praperadilan penetapan Komjen Budi sebagai tersangka.
Penulis Ihsanuddin
|
EditorSandro Gatra


JAKARTA, KOMPAS.com
 — Salah satu kuasa hukum Komisi Pemberantasan Korupsi, Catharina Muliana Girsang, menilai kesaksian yang disampaikan Pelaksana Tugas Sekjen PDI-P Hasto Kristiyanto di sidang praperadilan Komjen Budi Gunawan, Selasa (10/2/2015), bukan fakta yang bisa menguatkan posisi pemohon.

"Itu hanya asumsi saja," kata Catharina di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu (11/2/2015) siang.

Pasalnya, kata dia, Hasto tidak mengetahui bagaimana prosedur penetapan tersangka oleh KPK. Hasto juga tidak mengetahui bukti apa yang dimiliki KPK sehingga bisa menetapkan Budi sebagai tersangka.

Hasto hanya berasumsi dari keterangan yang disebutnya didapatkan dari Ketua Abraham Samad, yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya. Padahal, lanjut Catharina, Hasto dihadirkan sebagai saksi fakta sehingga dia seharusnya hanya mengungkapkan fakta yang dia ketahui, bukan asumsi atau pendapat.

Catharina meyakini hakim tak akan mempertimbangkan keterangan Hasto itu.

"Karena penetapan tersangka bukan hanya satu orang Ketua KPK. Kemarin dijelaskan penyidik kan, SOP (standar operasional prosedur)-nya, semua penyelidik, penyidik para struktural, ikut semua di situ (dalam penetapan tersangka)," ujar Catharina.

Dalam sidang kemarin, Hasto kembali menyebut bahwa kekesalan Abraham Samad terhadap Budi Gunawan menjadi penyebab ditetapkannya calon kapolri itu sebagai tersangka. Hal tersebut, kata Hasto, diawali dari manuver politik Abraham pada Pilpres 2014 lalu. (Baca: Bersaksi di Sidang Praperadilan, Hasto Kembali Sebut Abraham Geram kepada Budi Gunawan)

Saat itu, menurut Hasto, Abraham melobi elite PDI-P agar bisa menjadi calon wakil presiden, tetapi gagal. Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri memutuskan Jusuf Kalla mendampingi Jokowi. (Baca: Hasto Pilih Tes Kebohongan daripada Ungkap Bukti dan Saksi Tambahan)

"Saya sampaikan beliau tak jadi cawapres. Beliau bilang, 'Saya tahu siapa yang menjegal saya, Budi Gunawan. Saya sudah lakukan penyadapan'," kata Hasto.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X