KOMPAS.com
- Di luar dugaan, keterangan para saksi dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Jumat (5/7/2013), tak mendapat aneka bantahan dari terdakwa Irjen Djoko Susilo. Djoko tersenyum ketika disindir saksi yang pernah menjual rumah kepada Djoko.

Dalam sidang perkara dugaan korupsi pengadaan simulator berkendara Korlantas Polri, jaksa penuntut umum pada Komisi Pemberantasan Korupsi menampilkan gambar rumah di Yogyakarta. ”Apa betul ini rumah yang Ibu jual?” tanya jaksa Pulung kepada saksi.

”Iya, betul, tapi kok sudah jelek ya,” celetuk saksi Saroyini Wuran Rahayu, pemilik lama sebidang tanah dan rumah di Jalan Langenastran Kidul, Keraton Panembahan, Yogyakarta. Mendengar komentar Saroyini, Djoko tersenyum sambil memperhatikan foto rumah yang telah dia beli itu.

”Waktu saya renovasi 8 tahun lalu, cantik sekali rumahnya,” kenang Saroyini. Sebagai orang yang tinggal di lingkungan keraton, ketika menjual rumah, Saroyini sebenarnya tak sekadar mengejar asal terjual. Ia telah melakukan penyaringan internal, siapa yang layak mendapatkan rumahnya.

Ia merasa sreg ketika pertama melihat Pak Djoko dan Bu Djoko, begitu Saroyini memanggil pasangan suami istri calon pembeli rumahnya. Ia tak tahu Bu Djoko yang mana, apakah istri pertama, kedua, atau ketiga. Bu Djoko, menurut surat dakwaan jaksa, adalah istri pertama Djoko, Suratmi.

Saroyini sudah menebak prejengan atau penampilan suami-istri itu yang dikatakan Saroyini pakaian Pak Djoko dan Bu Djoko begitu modis dan perlente. ”Wah, pasti nanti akan tambah bagus rumah saya,” kata Saroyini.

Syarat lain untuk kriteria pembeli rumahnya, yang seharusnya tak terucap di persidangan, ”Saya harus kenal dulu yang beli karena ini dalam beteng (benteng). Kalau yang beli orang luar Jawa, gimana?” Begitu curahan hati Saroyini.

Menjelang akhir sidang, Ketua Majelis Hakim Suhartoyo mencoba mengklarifikasi soal ”curhat” yang bisa dimaknai lain oleh pihak lain. ”Maksud Ibu tadi soal orang luar Jawa gimana?” tanya Suhartoyo.

”Iya, saya kok berpikiran jelak ya, berprasangka buruk,” ujar Saroyini. ”Nanti dimarahi sama rakyat Indonesia lho,” kata Suhartoyo. ”Betul-betul saya mohon maaf,” jawab Saroyini tangkas. ”Jangan marah, ya, yang luar Jawa,” kata Suhartoyo.

Saroyini sempat penasaran, siapa gerangan priayi modis yang telah membeli rumahnya di atas lahan 600 hektar dengan harga Rp 2 miliar itu. Ia bertanya, apa sebenarnya kegiatan Pak Djoko.