Kasus Suap Ketua DPRD Kota Malang, KPK Periksa Wakil Wali Kota - Kompas.com

Kasus Suap Ketua DPRD Kota Malang, KPK Periksa Wakil Wali Kota

Kompas.com - 14/02/2018, 11:32 WIB
Juru Bicara KPK, Febri Diansyah, di gedung KPK, Kuningan, Jakarta, Selasa (13/2/2018).Kompas.com/Robertus Belarminus Juru Bicara KPK, Febri Diansyah, di gedung KPK, Kuningan, Jakarta, Selasa (13/2/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Komisi Pemberantasan Korupsi memanggil belasan saksi terkait kasus suap terkait pembahasan APBD-P Pemerintah Kota Malang tahun 2015.

Para saksi yang diperiksa antara lain Wakil Wali Kota Malang Sutiaji dan anggota DPRD Kota Malang Bambang Sumarto.

Saksi lainnya yakni pemilik CV Dwi Tunggal, Hariyadi; pemilik CV Menara Utama, Fitrianingsih; pemilik CV Barokah Jaya, Subandi; pemilik CV Esas Segitigma, Ajad Sudrajat; pemilik CV Reksa Bangun Utama, Anna Yulitasari.

Kemudian, pemilik CV Duta Prima Teknik, Sukarno Yudho Arisandi; pemilik CV Nyiur Utama Raya, Moch Ali Imron; pemilik CV Ngadeg Dewe, Bambang Suprayitno; pemilik CV Fiko Tama, Suherno; dan pemilik CV Bonanza, Nurhayati.

"Para saksi tersebut diperiksa untuk tersangka MAW," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah, saat dikonfirmasi, Rabu (14/2/2018).

MAW yang dimaksud Febri adalah Mantan Ketua DPRD Kota Malang Moch Arief Wicaksono.

(Baca juga: Diperiksa KPK, Ketua DPRD Kota Malang Ditanya Peran Wali Kota)

Arief sebelumnya ditetapkan sebagai tersangka dalam dua kasus, yakni kasus dugaan suap terkait pembahasan APBD Perubahan Kota Malang Tahun Anggaran 2015; dan kasus dugaan suap penganggaran kembali proyek pembangunan Jembatan Kendung Kandang, dalam APBD Kota Malang Tahun Anggaran 2016 pada 2015.

Dalam dua kasus tersebut, Arief diduga menerima uang ratusan juta dari dua pihak. Pada kasus pertama, dia menerima Rp 700 juta untuk pembahasan APBD Perubahan Kota Malang tersebut.

Suap diduga diberikan Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Pengawasan Bangunan (DPUPPB) Kota Malang Jarot Edy Sulistyono.

Sementara, pada kasus suap pengganggaran kembali Jembatan Kendung Kandang, Arief diduga menerima Rp 250 juta. Uang suap itu diduga berasal dari Komisaris PT ENK, Hendarwan Maruszaman.

Dalam kasus ini, KPK telah menetapkan ketiganya sebagai tersangka. Arief disangkakan sebagai pihak penerima suap, sementara Jarot dan Hendarwan sebagai pemberi suap.

Kompas TV Penyidik KPK Geledah Kantor Bappeda


Komentar

Close Ads X