Sabtu, 20 September 2014

News / Nasional

Menhan: Penamaan KRI Usman Harun Tak Ganggu Hubungan Indonesia-Singapura

Senin, 10 Februari 2014 | 19:59 WIB
TRIBUNNEWS/DANY PERMANA Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro (kiri) memberikan keterangan kepada wartawan terkait penyerangan Lapas Cebongan, di Kantor Kemenhan, Jakarta, Kamis (11/4/2013). Dalam pernyataan resminya Purnomo menyatakan kasus penembakan terhadap empat orang tahanan oleh anggota Kopassus di LP Cebongan, Yogyakarta bukanlah pelanggaran HAM, sehingga tidak perlu dibentuk Dewan Kehormatan Militer.


JAKARTA, KOMPAS.com
- Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro mengatakan, protes dari Pemerintah Singapura terkait rencana penamaan "KRI Usman Harun" pada salah satu unit kapal TNI Angkatan Laut  tak mengganggu hubungan kedua negara. Sebagai negara yang bertetangga, Purnomo menganggap wajar jika terjadi kesalahpahaman antara satu sama lain.

"Tidak, itu bukan masalah besar. Itu biasa terjadi antar tetangga. Tetangga ada di sana dan akan terus ada di sana selamanya. Seperti Anda dengan tetangga Anda. Kadang hal-hal kecil terjadi," ujar Purnomo di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta, Senin (10/2/2014).

Purnomo mengatakan, wilayah hubungan antar kedua negara sejauh ini amat luas. Hubungan tersebut mencakup kerjasama militer, seperti army to army dan pendidikan serta pelatihan. "Semua berlangsung cukup baik dan terus berjalan. Enggak ada masalah," kata Purnomo.

Terkait dengan penamaan kapal milik TNI AL itu, Purnomo menjelaskan, ada tiga kapal jenis multi role light fregate yang diberi nama, yaitu KRI Bung Tomo 357, KRI John Lie 358, dan KRI Usman Harun 359. Ketiga kapal itu, kata dia, akan datang ke Indonesia pada awal semester II.

Mengenai nama kapal Usman Harun, Purnomo mengatakan, pihak Singapura sudah menyampaikan rasa keprihatinan kepada dirinya. Kedua negara memang memiliki perspektif yang berbeda. "Tapi kita sudah sampaikan posisi kita. Kita punya alasan kuat bagaimana kita menetapkan nama," kata Purnomo.

Seperti diberitakan, di tengah polemik protes Singapura itu, Kementerian Pertahanan Singapura membatalkan pertemuan dialog pertahanan dengan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia yang sedianya akan digelar di Singapura bersamaan dengan acara kedirgantaraan, Singapore Airshow, 11-16 Februari 2014. Panglima TNI juga menerima pembatalan perihal undangan delegasi Indonesia ke Singapore Airshow yang jumlahnya mencapai 100 orang.

Karena Singapura membatalkan dialog bilateral itu, Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Minggu (9/2) pagi, mendadak membatalkan kunjungannya ke Singapura yang semula direncanakan dimulai hari Minggu kemarin hingga Rabu (12/2). Kementerian Pertahanan Singapura menolak untuk berkomentar terkait pembatalan pertemuan dialog antara militernya dan Indonesia.

TNI AL tetap teguh akan memakai nama KRI Usman Harun untuk salah satu fregat ringan yang tengah dipesan dari Inggris. Bagi TNI AL, keputusan itu final.

Usman Harun merupakan dua Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Presiden 050/TK/1968. Usman bin Said dan Harun bin Muhammad Ali adalah prajurit KKO (kini Korps Marinir TNI AL) yang dihukum mati Singapura karena mengebom gedung perkantoran di kawasan Orchard, MacDonald House, pada 10 Maret 1965.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis: Rahmat Fiansyah
Editor : Sandro Gatra