Jumat, 28 November 2014

News / Nasional

Sosok

Dea Tunggaesti, Si Jelita Pengacara Nazaruddin (1)

Jumat, 26 Agustus 2011 | 10:50 WIB

KOMPAS.com – Nama Dea Tunggaesti mendadak tenar setelah sosoknya tampil di televisi sebagai pengacara Muhammad Nazaruddin, tersangka kasus dugaan suap pembangunan wisma atlet SEA Games 2011 di Palembang.

Pamornya berkibar di dunia maya. Dalam waktu singkat, akun Twitter dan Facebook-nya diburu orang. Di Twitter ada orang yang membuat akun atas nama dirinya, @deatungga. Akun palsu ini kerap meniru tweet yang dibuatnya. Sekadar informasi, akun asli dea adalah @deatungga_. Hingga tulisan ini dibuat, followers-nya mencapai 2.005 orang.

Di Facebook tak kalah seru. Ribuan notifikasi mampir di laman Facebook-nya. Ia belum sempat merespon. Ia kini juga punya laman fans. Hingga berita ini dibuat, sudah ada 2.914 Facebooker yang menorehkan jempol (like) di laman itu, mengalahkan laman fans adiknya, Rheisa Kartikasari (Runner Up Putri Indonesia 2010), yang mencatat 2.489 jempol.

Sosok Dea pertamakali muncul di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyampaikan pernyataan soal surat Nazaruddin kepada Presiden. Setelah itu, ia beberapa kali tampil di televisi dalam kapasitas yang sama. Dengan tangkas ia beradu argumen dengan sejumlah narasumber mengenai perkembangan kasus yang menjerat kliennya. Muda, cantik, dan cerdas.

Usia Dea belum menginjak kepala tiga. Silakan hitung, Dea lahir 26 September 1982. Ia menyelesaikan pendidikan strata satunya di Universitas Pelita Harapan, strada dua di Universtitas Gajah Mada, dan kini tengah menyelesaikan studi doktoralnya di Universitas Padjajaran.

Sebelum meniti karir sebagai pengacara, Dea sempat icip-icip sebagai bintang iklan, video klip, hingga layar lebar. Saat menempuh pendidikan S1 ia pernah terlibat dalam film layar lebar berjudul “30 Hari Mencari Cinta”. Di film itu ia melakoni pemeran pembantu. Dea juga pernah menjadi model video klip Sheila On 7 "Pejantan Tangguh" dan Kahitna. Selebihnya, Dea lebih banyak menjadi model iklan seperti "Softener Soklin", "Pepsodent", "Macaroni la fonte" dan "Softex".

"Tapi semuanya saya tinggalkan ketika lulus kuliah S-1," kata Dea dalam perbincangan dengan Tribunnews di Jakarta, Kamis (25/8/2011) malam.

Dea menempuh pendidikannya di Sekolah Dasar Siemens di Kelapa Gading. Di kelas 5 SD, dia pindah ke kota apel, Malang, Jawa Timur. Di sana ia bersekolah di SD Santa Maria hingga kelas 2 SMP, lalu kembali ke Jakarta dan bersekolah di Dian Harapan hingga SMU.

Ganti haluan

Pernah meniti karir sebagai artis, kenapa Dea banting haluan menjadi pengacara, berjibaku dengan dunia yang keras yang didominasi lelaki? Ia mengaku sejak kecil memang bercita-cita menjadi pengacara.

"Sempat bercita-cita menjadi pramugari atau sekretaris tetapi akhirnya saya tertarik menjadi lawyer," ungkapnya.

Dea bercerita, keinginannya menjadi pengacara timbul setelah ibunya sering berbicara mengenai hukum kepadanya. Bersama adiknya, Rheisa Kartikasari (Runner Up Putri Indonesia 2010), Dea dibesarkan Sang Bunda.

"Kebetulan orangtua saya cerai, saya sejak kecil bareng sama ibu dan adik saya. Setiap malam perbincangan kami tentang hukum," kata anak sulung dari pasangan Agus Bahagianto dan Dewi Pandansari.

Dea sosok yang ayu, apakah tidak tertarik mengikuti jejak sang adik yang menjadi Putri Lingkungan? "Enggak deh, saya sudah tua. Adik saya saja," kata Dea sambil tersenyum.

Apakah Anda penggemar Dea? Jangan patah hati. Hatinya terjerat asmara lelaki Italia.

(Bersambung)

 

Selanjutnya:
Dea Tunggaesti, Si Jelita Pengacara Nazaruddin (2)

 


Editor : Heru Margianto
Sumber: