Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jokowi dan Anwar Ibrahim Sepakat Lawan Diskriminasi Minyak Sawit yang Dilakukan Uni Eropa

Kompas.com - 09/01/2023, 18:02 WIB
Dian Erika Nugraheny,
Bagus Santosa

Tim Redaksi


BOGOR, KOMPAS.com - Perdana Menteri (PM) Malaysia Anwar Ibrahim dan Presiden Joko Widodo sepakat melawan diskriminasi minyak sawit yang dilakukan Uni Eropa.

Hal itu disampaikan PM Anwar Ibrahim dalam keterangannya usai bertemu Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan Bogor pada Senin (9/1/2023).

"Berkenaan isu diskriminasi minyak sawit oleh Kesatuan (Uni) Eropa, saya dan Bapak Presiden bersetuju supaya Malaysia dan Indonesia terus bekerja sama rapat bagi menangani sebarang diskriminasi minyak sawit di peringkat antarbangsa," ujar PM Anwar.

Baca juga: Jokowi-Anwar Ibrahim Bertemu, Sepakat Lawan Diskriminasi terhadap Sawit

Menurutnya, diskriminasi itu tidak berasas dan tidak mencerminkan kelestarian industri minyak sawit terutama di Malaysia dan Indonesia.

Di sisi lain, diskriminasi bertentangan dengan komitmen Uni Eropa dan organisasi perdagangan dunia (WTO) soal perdagangan bebas.

Selain membahas soal minyak sawit, PM Anwar dan Presiden Jokowi juga membahas perkembangan situasi di Myanmar.

Kedua pemimpin pun sepakat bahwa lima poin konsensus yang sudah disepakati negara-negara ASEAN merupakan solusi terbaik bagi Myanmar saat ini.

Baca juga: Jokowi: Malaysia Bukan Hanya Tetangga Dekat Indonesia

"Usaha melaksanakan persetujuan ini perlu diteruskan selaras dengan keputusan para Pemimpin ASEAN di Sidang Puncak ASEAN pada November tahun lalu. Pihak berkuasa tentara Myanmar didesak memberikan komitmen sepenuhnya dalam melaksanakan Kemufakatan Lima Perkara ini secara segera dan bermakna demi kesejahteraan rakyat Myanmar," jelasnya.

Selain itu, PM Anwar dan Presiden Jokowi juga membahas mengenai hubungan Amerika Serikat dengan China.

"Khususnya bagaimana persepakatan antara keduanya dapat terus menyumbang kepada keamanan dan kestabilan rantau, serta ekonomi dunia. Malaysia terus komit untuk mengekalkan hubungan baik dengan semua negara," tambahnya.

Baca juga: Sebut Bukan Diplomatik Biasa, PM Anwar Ibrahim Harapkan Jokowi Segera Kunjungi Malaysia

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menerima PM Anwar Ibrahim di Istana Kepresidenan Bogor pada Senin pagi.

Selain menanam pohon bersama, keduanya juga menyempatkan diri berkeliling Kebun Raya Bogor dengan menaiki mobil boogie dan berbincang santai.

Dalam pertemuan kedua negara pada Senin, Presiden Jokowi didampingi sejumlah menteri yakni Menteri BUMN Erick Thohir, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah, Menteri Investasi Bahlil Lahadalia Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, Kepala Otorita IKN Nusantara Bambang Susantono, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dan Menseneg Pratikno.

Sementara itu, PM Malaysia didampingi sejumlah pejabat antara lain Menteri Luar Negeri Malaysia, Zambry Abdul Kadir, Menteri Perdagangan Luar Negeri dan Industri Malaysia Tengku Zafrul Abdul Aziz dan Menteri Besar Selangor Amirudin Shari.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Pendukung Prabowo-Gibran Akan Gelar Aksi di MK Kamis dan Jumat Besok

Pendukung Prabowo-Gibran Akan Gelar Aksi di MK Kamis dan Jumat Besok

Nasional
Menteri PAN-RB Enggan Komentari Istrinya yang Diduga Diintimidasi Polisi

Menteri PAN-RB Enggan Komentari Istrinya yang Diduga Diintimidasi Polisi

Nasional
Pengemudi Fortuner yang Mengaku Adik Jenderal Juga Dilaporkan Korban ke Puspom TNI

Pengemudi Fortuner yang Mengaku Adik Jenderal Juga Dilaporkan Korban ke Puspom TNI

Nasional
LPSK Berikan Perlindungan Fisik kepada Eks Ajudan dan Sopir Syahrul Yasin Limpo

LPSK Berikan Perlindungan Fisik kepada Eks Ajudan dan Sopir Syahrul Yasin Limpo

Nasional
Menko PMK Sebut Pembangunan 'Buffer Zone' Pelabuhan Merak Terhambat Pembebasan Lahan

Menko PMK Sebut Pembangunan "Buffer Zone" Pelabuhan Merak Terhambat Pembebasan Lahan

Nasional
Pemerintah Bakal Rekrut 200.000 CASN untuk Ditempatkan di IKN

Pemerintah Bakal Rekrut 200.000 CASN untuk Ditempatkan di IKN

Nasional
MK: Amicus Curiae yang Diserahkan Setelah Tanggal 16 April Tak Jadi Pertimbangan dalam RPH

MK: Amicus Curiae yang Diserahkan Setelah Tanggal 16 April Tak Jadi Pertimbangan dalam RPH

Nasional
Ungkit Prabowo-Gibran Selalu Dituding Curang, TKN: Kami Sulit Menahan Pendukung untuk Tidak Reaktif

Ungkit Prabowo-Gibran Selalu Dituding Curang, TKN: Kami Sulit Menahan Pendukung untuk Tidak Reaktif

Nasional
Pemerintah Sebut Sistem 'One Way', 'Contraflow' dan Ganjil-Genap Terus Disempurnakan

Pemerintah Sebut Sistem "One Way", "Contraflow" dan Ganjil-Genap Terus Disempurnakan

Nasional
2 Pegawai Maskapai Swasta Ditangkap, Selundupkan Narkoba ke Kabin Pesawat

2 Pegawai Maskapai Swasta Ditangkap, Selundupkan Narkoba ke Kabin Pesawat

Nasional
Momen Emosional SYL Tanggapi Keterangan Eks Ajudannya

Momen Emosional SYL Tanggapi Keterangan Eks Ajudannya

Nasional
Pemerintah Ingin Ada Aplikasi yang Intergrasikan Program Mudik Gratis

Pemerintah Ingin Ada Aplikasi yang Intergrasikan Program Mudik Gratis

Nasional
Pemerintah Klaim Macet Panjang ke Pelabuhan Merak Bakal Hilang Setelah Ada 'Buffer Zone'

Pemerintah Klaim Macet Panjang ke Pelabuhan Merak Bakal Hilang Setelah Ada "Buffer Zone"

Nasional
Anwar Usman Boleh Tangani Sengketa Pileg di MK, kecuali yang Libatkan PSI

Anwar Usman Boleh Tangani Sengketa Pileg di MK, kecuali yang Libatkan PSI

Nasional
Matangkan Pemindahan ASN ke IKN, Menpan-RB: Ini Bukan Hanya Pindah Tempat Kerja

Matangkan Pemindahan ASN ke IKN, Menpan-RB: Ini Bukan Hanya Pindah Tempat Kerja

Nasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com