Kompas.com - 10/05/2021, 15:40 WIB
Hamengku Buwono IX bersama Presiden Soeharto setelah acara pelantikan IpphosHamengku Buwono IX bersama Presiden Soeharto setelah acara pelantikan

JAKARTA, KOMPAS.com - Pesawat Garuda MD-11 lepas landas dari Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, mengantarkan Presiden Soeharto meninggalkan Tanah Air menuju Kairo, Mesir, pada 9 Mei 1998.

Di tengah situasi politik dan keamanan nasional yang tak menentu lantaran menguatnya desakan reformasi, Pak Harto melawat ke Mesir dalam rangka menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-15.

Gelombang unjuk rasa yang menuntut Soeharto lengser berlangsung sejak awal Mei 1998 hingga menjelang keberangkatan Pak Harto ke Mesir.

Tuntutan agar Soeharto lengser juga dilatarbelakangi krisis moneter parah yang mengguncang Indonesia pada 1997 yang menyebabkan harga bahan pokok melambung tinggi dan sejumlah ketidakpuasan masyarakat yang merasakan keotoriteran rezim Orde Baru.

Baca juga: Cerita di Balik Aksi Mahasiswa Kuasai Gedung DPR Saat Reformasi 1998

Tak hanya di Jakarta, unjuk rasa berlangsung di hampir seluruh kota-kota besar di Indonesia seperti di Surabaya, Medan, dan Yogyakarta. Unjuk rasa pun pecah menjadi kerusuhan yang memakan korban jiwa.

Sebelum lepas landas ke Mesir, Pak Harto pun menyadari situasi dalam negeri sedang tidak menentu kala ia melawat. 

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kendati demikian, ia mengatakan kepergiannya ke Mesir merupakan kepentingan nasional yang akan berdampak besar bagi rakyat Indonesia. Ia pun memercayai masyarakat akan membantu pemerintah menjaga stabilitas nasional yang terus diupayakan dalam kondisi krisis saat itu.

"Saya percaya, rakyat menyadari betapa pentingnya stabilitas nasional, khususnya stabilitas politik. Lebih-lebih di saat kita akan mengadakan perbaikan-perbaikan akibat krisis. Semua ini memerlukan ketenangan, keamanan, dan ketentraman," kata Soeharto dilansir dari pemberitaan Kompas 10 Mei 1998.

Namun ternyata situasi keamanan dan politik nasional tak kunjung membaik dan justru bertambah panas kala ditinggal Soeharto ke Mesir.

Baca juga: 21 Tahun Lalu, Soeharto Persingkat Kunjungan ke Mesir...

Akibatnya Pak Harto mempersingkat masa kunjungannya di Mesir. Beberapa agenda kunjungan Pak Harto di Mesir pun mengalami perubahan. Pertemuan dengan Presiden Mesir Hosni Mobarak yang jadwalnya berada di Istana Al Ittihadiyah juga dibatalkan.

Acara diganti dengan kunjungan Presiden Mubarak kepada Presiden Soeharto di Hotel Sheraton Heliopolis (tempat Soeharto menginap).

Sebelum meninggalkan Kairo, Soeharto menyempatkan diri mengunjungi dan meletakkan karangan bunga di Tugu Prajurit.

Pak Harto pun mempercepat jadwal kepulangannya ke Tanah Air sehingga sudah terbang kembali ke Jakarta pada 14 Mei 1998.

Seribanya di Tanah Air Pak Harto dihadapkan pada aksi mahasiswa yang semakin meluas menuntutnya mundur.

Baca juga: 8 Maret 1998, Saat Soeharto Bersedia Menjadi Presiden (Lagi)...

Adapun sehari sebelum kepulangannya ke Jakarta, peristiwa berdarah telah terjadi. Aksi damai untuk menyerukan belasungkawa terhadap mahasiswa Universitas Trisakti yang meninggal berujung kerusuhan. Beberapa titik di Jakarta terjadi kerusuhan pada 13 dan 14 Mei 1998.

Puncaknya pada 18 Mei 1998, mahasiswa berhasil menguasai gedung DPR/MPR. Saat itulah, posisi Soeharto semakin terpojok.

Sebab, pada hari itu juga pimpinan DPR/MPR yang diketuai Harmoko meminta Soeharto untuk mundur dari jabatannya sebagai presiden.

Namun, Soeharto berusaha melakukan perlawanan. Salah satunya adalah dengan menawarkan pembentukan Komite Reformasi sebagai pemerintahan transisi hingga dilakukannya pemilu berikutnya.

Soeharto pun menawarkan sejumlah tokoh seperti Abdurrahman Wahid dan Nurcholish Madjid untuk bergabung. Namun, sejumlah tokoh yang ditemui Soeharto pada 19 Mei 1998 itu menolak.

Baca juga: Saat Soeharto Ngotot Pergi ke Mesir di Kala Negara Sedang Darurat 

Menurut Nurcholis, dilansir dari Kompas, ide Komite Reformasi itu sendiri berasal dari Presiden Soeharto. Nurcholis membantah bahwa ada tokoh yang mengusulkan itu saat bertemu Soeharto di kediaman Jalan Cendana, Jakarta Pusat.

Penolakan juga disampaikan sejumlah tokoh yang tidak menghadiri pertemuan. Ketua Umum PP Muhammadiyah PP Amien Rais misalnya, yang mempermasalah mengenai ketidakjelasan kapan pemilu itu akan dilakukan.

Menurut Amien Rais dan sejumlah tokoh, Komite Reformasi merupakan cara Soeharto untuk mengulur waktu dan tetap berkuasa.

Soeharto semakin terpukul setelah 14 menteri di bawah koordinasi Menko Ekuin Ginandjar Kartasasmita menolak bergabung dalam Komite Reformasi atau kabinet baru hasil reshuffle.

Bahkan, dalam pernyataan tertulis yang disusun di Gedung Bappenas pada 20 Mei 1998, 14 menteri itu secara implisit meminta Soeharto untuk mundur.

Baca juga: 21 Mei 1998, Saat Soeharto Dijatuhkan Gerakan Reformasi...

Soeharto sadar posisinya semakin lemah. Kegalauan Jenderal yang Tersenyum itu mencapai puncaknya pada Rabu malam itu, 20 Mei 1998.

Atas sejumlah pertimbangan, dia pun memutuskan untuk mundur esok harinya, 21 Mei 1998.



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jokowi: Selamat dan Terima Kasih Greysia/Apriyani!

Jokowi: Selamat dan Terima Kasih Greysia/Apriyani!

Nasional
Sebut Skenario Terburuk 70.000 Kasus Per Hari, Menkes: Alhamdulillah Puncaknya Itu 57.000, Sekarang Mulai Turun

Sebut Skenario Terburuk 70.000 Kasus Per Hari, Menkes: Alhamdulillah Puncaknya Itu 57.000, Sekarang Mulai Turun

Nasional
Menteri PPPA: Kesulitan Ekonomi Jadi Modus Utama Iming-iming kepada Korban TPPO

Menteri PPPA: Kesulitan Ekonomi Jadi Modus Utama Iming-iming kepada Korban TPPO

Nasional
ICW Duga Pimpinan KPK Tak Mau Tangkap Harun Masiku

ICW Duga Pimpinan KPK Tak Mau Tangkap Harun Masiku

Nasional
Mensos Risma Tekankan Pentingnya Gotong Royong dalam Penanganan Pandemi

Mensos Risma Tekankan Pentingnya Gotong Royong dalam Penanganan Pandemi

Nasional
Pinangki Tak Kunjung Dieksekusi, Anggota Komisi III Minta Kejagung Peka Tangani Kasus yang Disorot Publik

Pinangki Tak Kunjung Dieksekusi, Anggota Komisi III Minta Kejagung Peka Tangani Kasus yang Disorot Publik

Nasional
Kemenag Realokasikan Rp 1,981 Triliun untuk Penanganan Pandemi Covid-19

Kemenag Realokasikan Rp 1,981 Triliun untuk Penanganan Pandemi Covid-19

Nasional
Covid-19 Diklaim Turun, Menkes: Presiden Ajak Kita Bersyukur tapi Tetap Waspada

Covid-19 Diklaim Turun, Menkes: Presiden Ajak Kita Bersyukur tapi Tetap Waspada

Nasional
Kemenag: Mobilitas Kiai Tinggi, Riskan Terkena Covid-19

Kemenag: Mobilitas Kiai Tinggi, Riskan Terkena Covid-19

Nasional
Sebaran Kasus Varian Alpha, Delta, dan Beta per 30 Juli, Terbanyak di DKI Jakarta

Sebaran Kasus Varian Alpha, Delta, dan Beta per 30 Juli, Terbanyak di DKI Jakarta

Nasional
KPK Ancam Pidanakan Pihak yang Sengaja Rintangi Pencarian Harun Masiku

KPK Ancam Pidanakan Pihak yang Sengaja Rintangi Pencarian Harun Masiku

Nasional
Soal Nasib PPKM, Menkes: Sudah Dibahas, Keputusan Disampaikan Presiden atau Menko

Soal Nasib PPKM, Menkes: Sudah Dibahas, Keputusan Disampaikan Presiden atau Menko

Nasional
Penundaan Eksekusi Dinilai Tak Wajar, Pinangki Diistimewakan Kejaksaan?

Penundaan Eksekusi Dinilai Tak Wajar, Pinangki Diistimewakan Kejaksaan?

Nasional
Besok, Dewas KPK Gelar Sidang Dugaan Pelanggaran Etik Lili Pintauli

Besok, Dewas KPK Gelar Sidang Dugaan Pelanggaran Etik Lili Pintauli

Nasional
Menkes: Tolong, Vaksin Booster Dosis Ketiga Hanya untuk Tenaga Kesehatan

Menkes: Tolong, Vaksin Booster Dosis Ketiga Hanya untuk Tenaga Kesehatan

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X