Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 23/04/2021, 12:56 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Masuknya ratusan warga negara India dari negara itu ke Indonesia mengejutkan masyarakat Tanah Air. Sebab, saat ini India mengalami lonjakan kasus Covid-19 yang sangat tinggi.

Terlebih, para ahli menyebutkan adanya mutasi ganda dari varian virus corona B.1.617 yang menyebabkan penularan Covid-19 di India lebih cepat terjadi.

Menanggapi situasi terbaru ini, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris menyarankan pemerintah melakukan pembatasan perjalanan dari negara India ke Indonesia.

Menurut dia, pembatasan perlu dilakukan hingga situasi pandemi Covid-19 di negara tersebut membaik.

Baca juga: Pimpinan Komisi IX: Pemerintah Harus Larang Perjalanan dari India ke Indonesia untuk Antisipasi Penyebaran Covid-19

Charles mengaku sangat simpati terhadap peningkatan kasus Covid-19 yang terjadi di India. Namun, ia menilai pemerintah juga harus melindungi masyarakat Indonesia dari penularan Covid-19.

"Dalam hal ini pemerintah harus memberlakukan kebijakan larangan masuk bagi pelaku perjalanan dari wilayah India sampai situasi di India sudah membaik," kata Charles saat dihubungi, Jumat (23/4/2021).

Menurut Charles, kebijakan pembatasan perjalanan tersebut dapat dibuat dengan mengecualikan WNI yang hendak pulang dari India.

"Kebijakan ini bisa saja dikecualikan bagi WNI yang pulang dari India, dengan mengikuti karantina ketat selama 14 hari," ucapnya.

Baca juga: UPDATE 23 April: Bertambah 4 Orang, Kini ada 83 WNI Terjangkit Covid-19 di India

Positif Covid-19, tapi bersurat negatif

Kedatangan ratusan warga India ke Indonesia disampaikan Kasubdit Karantina Kesehatan Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Benget Saragih.

Sebagaimana dikutip dari Tribunnews.com, Kamis (22/4/2021), dia mengatakan, ratusan WN India tersebut datang menggunakan pesawat charter dari India dan mendarat di Bandara Soekarno-Hatta.

"Betul (WNA tiba dari India), mereka melalui Soekarno-Hatta, naik pesawat charter dari India," ujar Benget.

Baca juga: Kemenkes: 132 WN India Masuk Indonesia dengan Pesawat Carter

Benget menuturkan, para WNA tiba pada Rabu malam (21/4/2021) pukul 19.30 WIB dengan pesawat QZ9BB ex MMA.

"Dengan jumlah WNA dari India 127 orang," ucapnya.

Hingga Jumat (23/4/2021), jumlah WNA asal India yang masuk ke Indonesia tercatat sebanyak 132 orang.

Ilustrasi ruang tunggu bandaraUnsplash/Marco Lopez Ilustrasi ruang tunggu bandara
Saat datang, mereka sebenarnya telah membawa surat negatif Covid-19. Namun, setelah diperiksa ulang di Indonesia, sembilan orang dinyatakan positif.

"Walaupun mereka membawa hasil negatif dari luar negeri, kemarin kita melakukan swab PCR dari satu hotel, ada Hotel Ibis Thamrin 67 orang ditempatkan di sana, sembilan yang positif, dan ini sudah kita lakukan evakuasi dan diisolasi," ujar Benget saat dihubungi Kompas.com.

Benget menjelaskan, ratusan warga India itu tidak dilarang masuk ke Indonesia lantaran memenuhi kriteria sebagai WNA yang diperbolehkan.

Baca juga: Fraksi PPP Pertanyakan Adanya Larangan Mudik tetapi WN India Diperbolehkan Masuk Indonesia

Mereka memiliki kartu izin tinggal terbatas (Kitas). Ketentuan ini sesuai urat Edaran (SE) Nomor 8 Tahun 2021 tentang Protokol Kesehatan Perjalanan Internasional pada Masa Pandemi Covid-19.

Meski demikian, pengawasan dan perkembangan terus dilakukan Kemenkes terhadap WN India tersebut guna memastikan mereka yang tiba bebas virus corona.

Upaya itu dilakukan dengan melakukan karantina kepada para WNA itu selama lima hari serta melakukan pemeriksaan swab polymerase chain reaction (PCR) 2 kali yakni pada hari saat tiba di hotel dan di hari kelima.

Baca juga: Kemenkes Usulkan Larangan Sementara WN India Masuk ke Indonesia

Kemudian, ratusan WN India itu juga tidak diperkenanankan keluar dari kamar hotel selama masa karantina.

"Jika ada hasil pemeriksaan swab PCR positif maka akan dilakukan isolasi di faskes sampai sembuh. Untuk hasil PCR yang CT Valuenya kurang dari 30 akan dilakukan surveilans genome sequencing di Litbangkes untuk mendeteksi varian baru," ujar Benget.

Lonjakan kasus tajam, ancaman mutasi ganda

Dikutip dari pemberitaan New York Times, India mencatat sebanyak 312.731 kasus harian Covid-19 pada Kamis (21/4/2021).

Penambahan kasus harian di India ini melampaui yang terjadi sebelumnya di Amerika Serikat, yakni 300.669 kasus baru Covid-19 pada 8 Januari 2021.

Kondisi pandemi di India saat ini disebutkan telah terjadi sejak Maret 2021.

Saat itu, pembatasan di negara tersebut dilonggarkan dan masyarakat mulai banyak yang beraktivitas di luar rumah tanpa menggunakan masker.

Para ahli pun menduga, kondisi tersebut diperparah dengan adanya mutasi baru varian Covid-19 dan mutasi ganda di India yang lebih cepat menular.

Baca juga: Korban Meninggal Covid-19 di India Diduga 10 Kali Lipat Lebih Tinggi, Ini Alasannya...

Petugas medis mengambil sampel dari swab mulut seorang pria muda yang tes Covid-19, sementara orang-orang lainnya mengantre giliran tes di sebuah rumah sakit Hyderabad, India, pada Senin (19/4/2021).AP PHOTO/MAHESH KUMAR A Petugas medis mengambil sampel dari swab mulut seorang pria muda yang tes Covid-19, sementara orang-orang lainnya mengantre giliran tes di sebuah rumah sakit Hyderabad, India, pada Senin (19/4/2021).
Pasien Covid-19 di India saat ini banyak yang berusia muda. Beberapa dokter menduga orang-orang di bawah usia 45 tahun rentan tertular karena pergi bekerja dan sering makan di luar, tetapi tidak ada bukti pastinya.

Anak-anak muda itu juga bisa lebih rentan terhadap varian mutasi ganda baru, yang ditemukan pada 60 persen sampel di Maharashtra, negara bagian dengan dampak corona di India terparah.

Pelarangan sejumlah negara

Benget Saragih mengatakan, pemerintah sedang membahas rencana untuk pelarangan sementara untuk WNA asal India masuk ke Indonesia.

"Sebagaimana Singapura tadi malam per pukul 23.00 sudah melarang WN India masuk ke Singapura, jadi Indonesia akan ikut menerapkan itu, karena memang virus yang ada di India ini sangat cepat menular dan sangat berbahaya," ucapnya.

Namun, dia belum dapat memastikan kapan pemerintah akan mengumumkan secara resmi pelarangan sementara WNA asal India masuk ke Indonesia.

Baca juga: Kemenkes: 9 Orang WN India Positif Covid-19, Jalani Isolasi di Hotel

Dia menegaskan, Kemenkes sudah mengusulkan adanya pelarangan sementara WNA asal India masuk ke Indonesia di tengah terjadinya lonjakan kasus Covid-19.

"Kemenkes sudah mengusulkan untuk stop sementara (WNA India) masuk ke Indonesia dan kami usulkan juga untuk WNI yang berkunjung ke India atau WNA yang pernah berkunjung ke India misalnya transit, kita lakukan karantina 14 hari, lebih ketat lagi," ujar dia.

Sementara itu selain Singapura, Kanada juga melarang penerbangan pesawat dari India dan Pakistan selama 30 hari terhitung mulai Kamis (22/4/2021) waktu setempat.

Sebagaimana dilansir dari Reuters, larangan tersebut merupakan bagian pencegahan penyebaran Covid-19.

Baca juga: Corona di India Memburuk, Infrastruktur Kesehatan Runtuh, Oksigen dan Tempat Tidur Habis

Menteri Kesehatan Kanada Patty Hajdu mengatakan, warga India menyumbang 20 persen dari semua kedatangan internasional.

Dari semua warga India yang mendarat di Kanada, 50 persen di antaranya positif terinfeksi Covid-19 saat dites petugas bandara.

"Para ahli kesehatan masyarakat akan memiliki waktu untuk mengevaluasi epidemiologi yang sedang berlangsung di kawasan itu dan untuk menilai kembali situasinya," kata Hajdu.

Sebelumnya, Inggris berencana memasukkan India ke “daftar merah” penerbangan internasional karena tingginya jumlah kasus Covid-19.

Baca juga: Komisi IX Usulkan 132 WN India Diisolasi di Pulau, seperti Saat ABK di Pulau Sebaru

Selain itu, Perancis memberlakukan karantina 10 hari untuk pelancong dari Brasil, Chile, Argentina, Afrika Selatan, dan India.

Adapun, Uni Emirat Arab (UEA) telah menangguhkan semua penerbangan dari India.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.