Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ketua Pansus: Masyarakat Papua Ingin Otsus Dievaluasi Menyeluruh

Kompas.com - 31/03/2021, 11:52 WIB
Nicholas Ryan Aditya,
Diamanty Meiliana

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Suara masyarakat Papua menginginkan agar implementasi Otonomi Khusus (Otsus) Papua dilakukan evaluasi secara menyeluruh.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Panitia Khusus (Pansus) Revisi Undang-Undang (RUU) Nomor 21 tahun 2001 tentang Otsus Papua DPR RI Komarudin Watubun usai mengikuti rapat internal di DPR, Selasa (30/3/2021).

Komarudin menilai, masyarakat Papua tidak hanya menginginkan besaran dana Otsus Papua dan pemekaran wilayah, tetapi terkait pula masih adanya dugaan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).

"Kan bukan hanya soal itu, namun ada soal pelanggaran HAM. Namun itu aspirasi, dalam negara demokrasi boleh-boleh saja namun semua nanti melalui pembahasan di pansus dan sikap serta fraksi akan melihat urgensinya," kata Komarudin seperti dikutip Antara, Selasa.

Baca juga: Mahfud: Pengawasan Penggunaan Dana Otsus Papua Bakal Ditingkatkan

Ia berpandangan, DPR perlu mendengarkan suara masyarakat dan melihat situasi yang terjadi di Papua.

Kendati demikian, Komarudin mengungkapkan bahwa sejauh ini ada dua pasal yang diajukan pemerintah dalam RUU Otsus Papua di antaranya besaran dana Otsus dan kewenangan pemekaran wilayah.

"Jadi ada dua pasal yang diajukan pemerintah dalam revisi UU Otsus Papua. Kita tidak bisa menutup mata bahwa Otsus Papua ada kekurangannya jadi mari diperbaiki," jelasnya.

Terkait besaran dana Otsus, Komarudin menilai usulan dana untuk otsus Papua dan Papua Barat naik dari 2 persen menjadi 2,5 persen dari Dana Alokasi Umum (DAU).

Ia berpendapat, pemerintah tidak cukup hanya menaikkan dana otsus, tetapi perlu diperketat regulasi, evaluasi dan pengawasannya.

Baca juga: Kejati Temukan Dugaan Penyelewengan Dana Otsus Mencapai Rp 4 M di Dinas Pendidikan Papua

Hal tersebut, kata dia, perlu dilakukan agar tidak mengulangi kesalahan yang terjadi selama ini.

"Banyak atau sedikit dana otsus itu sangat bergantung bagaimana manajemen pengelolaannya. Karena selama ini dana otsus yang diberikan sebesar 2 persen dari DAU selama 20 tahun belum dirasakan masyarakat dengan baik, penyebabnya tidak ada regulasi yang baik mengatur secara rinci dan tidak ada evaluasi yang benar," ungkap Komarudin.

Selain itu, terkait pemekaran wilayah, politikus PDI-P ini mengatakan bahwa seharusnya datang dari usulan DPRP dan MRP.

Ia menambahkan, faktanya selama puluhan tahun, masyarakat Papua mengusulkan adanya Provinsi Papua Selatan.

Akan tetapi, menurutnya usulan itu dibatasi UU sehingga tidak diproses sampai saat ini. Oleh karenanya, pemerintah mengusulkan adanya revisi terkait pengaturan pemekaran wilayah dalam RUU Otsus Papua.

Baca juga: DPR Minta Pemerintah Perhatikan Dugaan Penyimpangan Anggaran Dana Otsus Papua

"Sekarang pemerintah (menginginkan) agar pemekaran selain usulan dari bawah, pemerintah juga ada ruang untuk melakukan usulan tersebut," ujarnya.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Prabowo Minta Pendukung Tak Gelar Aksi saat MK Bacakan Putusan Sengketa Pilpres 2024

Prabowo Minta Pendukung Tak Gelar Aksi saat MK Bacakan Putusan Sengketa Pilpres 2024

Nasional
Demokrat Sampaikan Kriteria Kadernya yang Bakal Masuk Kabinet Mendatang

Demokrat Sampaikan Kriteria Kadernya yang Bakal Masuk Kabinet Mendatang

Nasional
Antam Fokus Eksplorasi 3 Komoditas, Pengeluaran Preliminary Unaudited  Capai Rp 17,43 Miliar

Antam Fokus Eksplorasi 3 Komoditas, Pengeluaran Preliminary Unaudited Capai Rp 17,43 Miliar

Nasional
KPK Akan Panggil Kembali Gus Muhdlor sebagai Tersangka Pekan Depan

KPK Akan Panggil Kembali Gus Muhdlor sebagai Tersangka Pekan Depan

Nasional
Gibran Dikabarkan Ada di Jakarta Hari Ini, TKN: Agenda Pribadi

Gibran Dikabarkan Ada di Jakarta Hari Ini, TKN: Agenda Pribadi

Nasional
Unjuk Rasa di Patung Kuda Diwarnai Lempar Batu, TKN Minta Pendukung Patuhi Imbauan Prabowo

Unjuk Rasa di Patung Kuda Diwarnai Lempar Batu, TKN Minta Pendukung Patuhi Imbauan Prabowo

Nasional
Pemerintahan Baru Indonesia dan Harapan Perdamaian Rusia-Ukraina

Pemerintahan Baru Indonesia dan Harapan Perdamaian Rusia-Ukraina

Nasional
Prabowo Terima Kunjungan Eks PM Inggris Tony Blair di Kemenhan, Ini yang Dibahas

Prabowo Terima Kunjungan Eks PM Inggris Tony Blair di Kemenhan, Ini yang Dibahas

Nasional
KPK Sebut Surat Sakit Gus Muhdlor Ganjil: Agak Lain Suratnya, Sembuhnya Kapan Kita Enggak Tahu

KPK Sebut Surat Sakit Gus Muhdlor Ganjil: Agak Lain Suratnya, Sembuhnya Kapan Kita Enggak Tahu

Nasional
Panglima AL Malaysia Datang ke Indonesia, Akan Ikut Memperingati 3 Tahun KRI Nanggala

Panglima AL Malaysia Datang ke Indonesia, Akan Ikut Memperingati 3 Tahun KRI Nanggala

Nasional
Beralasan Sakit, Gus Muhdlor Tak Penuhi Panggilan KPK

Beralasan Sakit, Gus Muhdlor Tak Penuhi Panggilan KPK

Nasional
Minta MK Urai Persoalan pada Pilpres 2024, Sukidi: Seperti Disuarakan Megawati

Minta MK Urai Persoalan pada Pilpres 2024, Sukidi: Seperti Disuarakan Megawati

Nasional
PPATK Bakal Tindaklanjuti Informasi Jokowi soal Indikasi Pencucian Uang lewat Aset Kripto Rp 139 Triliun

PPATK Bakal Tindaklanjuti Informasi Jokowi soal Indikasi Pencucian Uang lewat Aset Kripto Rp 139 Triliun

Nasional
Latihan Operasi Laut Gabungan 2024, Koarmada I Siapkan KRI Halasan untuk Tembak Rudal Exocet

Latihan Operasi Laut Gabungan 2024, Koarmada I Siapkan KRI Halasan untuk Tembak Rudal Exocet

Nasional
Yusril: Tak Ada Bukti Kuat Kubu Prabowo-Gibran Curang di Pilpres 2024

Yusril: Tak Ada Bukti Kuat Kubu Prabowo-Gibran Curang di Pilpres 2024

Nasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com