Kompas.com - 10/08/2020, 11:00 WIB
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menyampaikan pidato saat pengumuman pasangan calon kepala daerah di kantor PDIP, Menteng, Jakarta, Rabu (19/2/2020). Dokumen PDI-PKetua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menyampaikan pidato saat pengumuman pasangan calon kepala daerah di kantor PDIP, Menteng, Jakarta, Rabu (19/2/2020).
|
Editor Bayu Galih

JAKARTA, KOMPAS.com - Politikus Partai Gerindra, Andre Rosiade mengatakan, kehadiran Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri di Kongres Luar Biasa Partai Gerindra pada Sabtu (8/8/2020), dalam rangka memenuhi undangan sebagai Presiden RI ke-5.

Andre menjelaskan, tokoh-tokoh yang diundang di KLB memang terbatas karena digelar di tengah pandemi Covid-19.

"Kongres ini luar biasa dengan protokol kesehatan ketat. Peserta dibatasi, bahkan pengurus DPP hanya sebagian yang hadir.

Jadi yang diundang memang terbatas. Maka, yang memberikan sambutan hanya Pak Jokowi (Joko Widodo) sebagai presiden dan Ibu Mega sebagai Presiden ke-5 RI yang juga Ketum PDI-P," kata Andre saat dihubungi, Senin (10/8/2020).

Baca juga: Prabowo Kembali Jadi Ketum, Pengamat: Gerindra Masih Kurang Percaya Diri

Sebagai informasi, Megawati dan Jokowi memberikan sambutan dalam KLB Partai Gerindra secara virtual.

Ia mengatakan, agenda KLB dibuat seefisien mungkin agar cepat selesai dan mudah diikuti secara virtual.

Menurut Andre, Partai Gerindra bakal mengundang tokoh-tokoh serta ketua umum partai lainnya andai kongres digelar dalam situasi yang berbeda.

"Kalau kongres dalam situasi normal, tentu semua ketum partai dan tokoh kami undang. Karena virtual, waktunya terbatas dan harus selesai hari itu juga. Jadi agenda dipadat-padatkan," kata dia.

Andre pun menyatakan terlalu dini jika kehadiran Megawati secara virtual di KLB diartikan sebagai sinyal koalisi pada Pemilu 2024.

Baca juga: Gerindra Gelar Kongres, Kehadiran Jokowi-Megawati, hingga Usulan Prabowo Capres 2024

Ia menegaskan hubungan keduanya memang terjalin baik sedari dulu.

"Secara personal hubungan Ibu Mega dan Pak Prabowo sangat baik. Kepulangan Pak Prabowo ke Indonesia awal tahun 2000-an itu karena bantuan almarhum Pak Taufiq Kiemas, suami Ibu Mega. Jadi memang hubungan keluarga besar Pak Prabowo dan Ibu Mega baik," ujar Andre.

Ia mengatakan, masih terlalu jauh membicarakan Pemilu 2024, baik itu pileg atau pilpres.

Namun, kata Andre, Prabowo menegaskan bahwa Partai Gerindra tidak menutup diri untuk bekerja sama dengan partai mana pun.

"Kalau bicara 2024, Partai Gerindra terbuka berkoalisi dengan seluruh partai yang merah-putih dalam bingkai NKRI. Jadi kami siap kerja sama dengan partai apapun, termasuk jika dengan PDI Perjuangan," tuturnya.

"Jadi terbuka, tapi masih jauh bicara 2024. Politik kan dinamis dan tidak bisa diprediksi," kata Andre Rosiade.

Baca juga: Di Balik Prabowo Kembali Pimpin Gerindra...

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Soal Serangan di Masjid Al Aqsa, Wamenag: Tindakan Israel Keji dan Langgar HAM

Soal Serangan di Masjid Al Aqsa, Wamenag: Tindakan Israel Keji dan Langgar HAM

Nasional
Kejaksaan Bakal Lelang Aset Sitaan Kasus Asabri dan Jiwasraya

Kejaksaan Bakal Lelang Aset Sitaan Kasus Asabri dan Jiwasraya

Nasional
Perjalanan Kasus Terpidana Korupsi Simulator SIM Djoko Susilo, dari Vonis hingga PK

Perjalanan Kasus Terpidana Korupsi Simulator SIM Djoko Susilo, dari Vonis hingga PK

Nasional
Jokowi Dinilai Bisa Batalkan TWK untuk Buktikan Tak Dukung 75 Pegawai KPK Dipecat

Jokowi Dinilai Bisa Batalkan TWK untuk Buktikan Tak Dukung 75 Pegawai KPK Dipecat

Nasional
Kemenag: Shalat Idul Fitri di Masjid Hanya untuk Zona Hijau dan Kuning

Kemenag: Shalat Idul Fitri di Masjid Hanya untuk Zona Hijau dan Kuning

Nasional
Jokowi Minta Bulog Beradaptasi dengan Perkembangan Zaman

Jokowi Minta Bulog Beradaptasi dengan Perkembangan Zaman

Nasional
PBNU Desak Pemerintah Ambil Langkah Diplomatik Atas Pengusiran Paksa Warga Palestina oleh Polisi Israel

PBNU Desak Pemerintah Ambil Langkah Diplomatik Atas Pengusiran Paksa Warga Palestina oleh Polisi Israel

Nasional
Isu Dugaan Mafia Alutsista, Menhan Prabowo Dorong Laporkan ke KPK atau Polri

Isu Dugaan Mafia Alutsista, Menhan Prabowo Dorong Laporkan ke KPK atau Polri

Nasional
BP2MI Akan Siapkan Surat Jalan bagi 1.278 Pekerja Migran yang Kini Dikarantina di Wisma Atlet untuk Kembali ke Daerah

BP2MI Akan Siapkan Surat Jalan bagi 1.278 Pekerja Migran yang Kini Dikarantina di Wisma Atlet untuk Kembali ke Daerah

Nasional
Djarot: Bupati Nganjuk Bukan Anggota dan Tidak Punya KTA PDI-P

Djarot: Bupati Nganjuk Bukan Anggota dan Tidak Punya KTA PDI-P

Nasional
Indonesia Kutuk Serangan Bom di Sekolah Afghanistan

Indonesia Kutuk Serangan Bom di Sekolah Afghanistan

Nasional
Soal Larangan Mudik, Ketua DPR Minta Distribusi Logistik Tak Terganggu

Soal Larangan Mudik, Ketua DPR Minta Distribusi Logistik Tak Terganggu

Nasional
[POPULER NASIONAL] Respons Kemenkumham soal Masuknya 157 WNA China | KPK Sesalkan Beredarnya Surat Keputusan soal Tes Wawasan Kebangsaan

[POPULER NASIONAL] Respons Kemenkumham soal Masuknya 157 WNA China | KPK Sesalkan Beredarnya Surat Keputusan soal Tes Wawasan Kebangsaan

Nasional
Kemenag soal Takbiran: Keliling Tak Boleh, di Masjid 10 Persen dari Kapasitas

Kemenag soal Takbiran: Keliling Tak Boleh, di Masjid 10 Persen dari Kapasitas

Nasional
ICW Duga TWK Bermotif untuk Hentikan Perkara Besar di KPK

ICW Duga TWK Bermotif untuk Hentikan Perkara Besar di KPK

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X