Telepon Terakhir Wawan dan Peluru Tajam di Atma Jaya...

Kompas.com - 20/01/2020, 10:00 WIB
Sumarsih, ibu dari almarhum Wawan atau Norwan Wirawan, mahasiswa yang meninggal dunia dihantam peluru senjata api dalam aksi unjuk rasa yang terkenal dengan Tragedi Semanggi I tanggal 11-13 November 1998 ikut dalam aksi kamisan yang ke-508 pada Kamis (5/10/2017). Aksi digelar di depan Istana Negara, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat. Fachri FachrudinSumarsih, ibu dari almarhum Wawan atau Norwan Wirawan, mahasiswa yang meninggal dunia dihantam peluru senjata api dalam aksi unjuk rasa yang terkenal dengan Tragedi Semanggi I tanggal 11-13 November 1998 ikut dalam aksi kamisan yang ke-508 pada Kamis (5/10/2017). Aksi digelar di depan Istana Negara, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat.

JAKARTA, KOMPAS.com - Siapa sangka telepon Wawan ketika Arief Priyadi sedang memotong dahan pohon jambu di halaman rumah menjadi telepon terakhir dari putra sulungnya itu.

Siang itu, Jumat 13 November 1998, Arief tengah berada di sekitar kantornya.

Seseorang membisikinya bahwa tengah terjadi demonstrasi besar-besaran mahasiswa di kawasan Semanggi. Panglima ABRI saat itu meminta memulangkan seluruh karyawan.

Dalam bukunya yang berjudul "Saatnya Korban Bicara: Menata Derap Merajut Langkah", Arief mengaku tak merasa gelisah dengan kondisi yang semakin lama semakin tak biasa itu.

Ia tetap yakin bahwa Wawan, putranya yang kuliah di Unika Atma Jaya Jakarta, tidak ikut demonstrasi karena ia sudah mewanti-wantinya.

Wawan juga tipe anak yang patuh terhadap nasihat orangtua.

Pukul 16.15, ketika Arief sedang memotong dahan pohon jambu di halaman, telepon rumah berdering. Rupanya dari Wawan.

Baca juga: Hari-Hari Terakhir Yun Hap, Mahasiswa UI Korban Tragedi Semanggi II

Wawan sempat bertanya mengapa ayahnya itu sudah pulang kantor jam segini.

Arief menjawab, ia menerima kabar tentang adanya imbauan dari Panglima ABRI agar karyawan di perkantoran segera dipulangkan.

"Ini berati keadaan gawat, Wan! Kamu cepat pulang saja!" ujar Arief saat itu.

"Ya, penginnya cepat pulang, Pak, tetapi mana mungkin. Bawa motor, lagi! Jalan kaki saja susah! Di sini seperti mau perang, Pak," timpal Wawan.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X