Soal Papua, Quraish Shihab: Kita Harus Saling Terbuka dan Memaafkan

Kompas.com - 23/08/2019, 17:24 WIB
Cendekiawan Muslim Quraish Shihab saat pembukaan Konferensi Internasional Alumni Al Azhar Mesir di Islamic Center NTB di Mataram, Rabu (18/10). Konferensi Internasional Alumni Al Azhar yang diselenggarakan hingga 20 Oktober 2017 itu bertemakan Moderasi Islam Dimensi dan Orientasi yang diikuti oleh 400 peserta dari 15 negara di antaranya akan membahas permasalahan fatwa keagamaan di era media sosial serta dakwah kontemporer di era perkembangan teknologi informasi .ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/nz/17. AHMAD SUBAIDICendekiawan Muslim Quraish Shihab saat pembukaan Konferensi Internasional Alumni Al Azhar Mesir di Islamic Center NTB di Mataram, Rabu (18/10). Konferensi Internasional Alumni Al Azhar yang diselenggarakan hingga 20 Oktober 2017 itu bertemakan Moderasi Islam Dimensi dan Orientasi yang diikuti oleh 400 peserta dari 15 negara di antaranya akan membahas permasalahan fatwa keagamaan di era media sosial serta dakwah kontemporer di era perkembangan teknologi informasi .ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/nz/17.

JAKARTA, KOMPAS.com - Cendekiawan Muslim Quraish Shihab mengimbau agar semua pihak yang terlibat dalam permasalahan yang terjadi di Papua bisa saling terbuka dan memaafkan.

Hal tersebut disampaikan Quraish Shihab dalam konferensi pers tentang Papua yang digelar Gerakan Suluh Kebangsaan di Hotel Sahid Jaya, Jakarta Pusat, Jumat (23/8/2019).

"Kita semua mendambakan kedamaian dan kemajuan bangsa ini. Dalam konteks Papua, selain dalam tindakan, kegiatan, dan kebijakan kita, pasti ada yang salah atau disalahpahami," ujar Quraish.

"Dari sini saya lihat titik tolaknya itu kita harus saling terbuka dan saling memaafkan. Ini tingkat pertamanya," lanjut dia.


Baca juga: Gerakan Suluh Kebangsaan Dorong Pendekatan Konstruktif dan Persuasif soal Masalah Papua

Ia mengatakan, jangan ada anggapan bahwa yang harus meminta maaf adalah yang bersalah. Hal tersebut justru merupakan suatu kewajiban.

Namun, kata dia, mereka yang bersikap benar tetapi sikapnya disalahpahami juga harus menyampaikan permintaan maafnya.

"Kalau kita lihat peristiwa yang terjadi kemarin ini. Itu bisa dibagi dua. Ada yang salah paham dan tersinggung, ada pemicu kesalahpahaman dan ketersinggungan," terang dia.

Baca juga: Mahfud MD: Papua Harus Dapat Perlakuan dan Pelayanan Sama dari Pemerintah

Oleh karena itu, kata dia, maka yang salah paham dan tersinggung hendaknya saling memaafkan.

Pasalnya, kata dia, hal itulah yang diajarkan oleh agama dan budaya yang ada di Indonesia.

Adapun sejumlah tokoh bangsa yang tergabung dalam Gerakan Suluh Kebangsaan menyerukan beberapa hal berkaitan dengan kondisi Papua saat ini.

Baca juga: Mahfud MD: Rasisme Sangat Berbahaya

Tokoh-tokoh tersebut antara lain mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD, Cendekiawan Muslim Quraish Shihab, mantan Menteri Luar Negeri Alwi Shihab, Rektor UIII Komarudin Hidayat, putri Presiden Keempat RI Gus Dur Alisa Wahid, Achmad Suaedy, Romo Beny Susetyo dan Romo Frans Magnis Suseno, hingga istri Gus Dur Shinta Nuriyah Wahid.

Salah satu seruan yang disampaikan adalah agar semua pihak menahan diri dan berpartisipasi aktif dalam menciptakan suasana kondusif di Papua.

Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X