Polri Sebut Tindakan Anarko Sindikalisme Serupa dengan Gerakan di Luar Negeri

Kompas.com - 03/05/2019, 13:38 WIB
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Humas Brigjen (pol) Dedi Prasetyo di Gedung Humas Mabes Polri, Jakarta, Jumat (3/5/2019). CHRISTOFORUS RISTIANTO/KOMPAS.com Kepala Biro Penerangan Masyarakat Humas Brigjen (pol) Dedi Prasetyo di Gedung Humas Mabes Polri, Jakarta, Jumat (3/5/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jendaral (Pol) Dedi Prasetyo, menyebutkan, tindakan kelompok Anarko Sindikalisme yang melakukan sejumlah tindakan memancing kerusuhan pada peringatan Hari Buruh mencontoh pola-pola gerakan serupa di luar negeri.

"Ya, istilahnya meminjam nama yang sudah trending di dunia internasional. Pola-polanya juga seperti itu melakukan tindakan vandalisme," ujar Dedi di Gedung Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (3/5/2019).

Dedi menjelaskan, anggota Anarko Sindikalisme terinspirasi terhadap gerakan-gerakan kelompok serupa di berbagai negara, seperti di Rusia.

Baca juga: 5 Fakta Aksi May Day di Indonesia, Aksi Anarkis Kelompok Anarko hingga Ziarah di Makam Pejuang Buruh Marsinah


Pada prinsipnya, lanjut Dedi, kelompok Anarko Sindikalisme dan gerakan kelompok serupa di luar negeri mengajak para buruh untuk tidak mengikuti regulasi pemerintah dan perusahaan terkait buruh.

"Mereka ingin mengatur sebebas-bebasnya, mulai dari sistem kerja, penggajian, dan sebagainya," terangnya.

Ia menjelaskan, kepolisian kini masih mendalami motif dari kelompok Anarko Sindikalisme yang melakukan tindakanya di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Malang, Surabaya, dan Makassar.

Beberapa lembaga terkait, seperti diungkapkan Dedi, juga ikut membantu menelisik anggota tersebut, mulai dari Kementerian Ketenagakerjaan, Kementerian Hukum dan HAM, Kementerian Luar Negeri, dan badan intelijen.

Baca juga: Pasca-aksi Kelompok Baju Hitam, Siswa Penyandang Disabilitas Takut ke Sekolah hingga Jejak Vandalisme Dimana-mana

Sebelumnya, Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian menyebutkan kelompok tersebut merupakan sebuah fenomena internasional, bukan lokal.

Tito mengatakan, terdapat doktrin yang berasal dari luar negeri perihal pekerja. Misalnya, doktrin itu mengatakan bahwa pekerja jangan dikekang aturan.

Hal tersebut, kata Tito, sudah lama berkembang di negara seperti Rusia, Amerika Selatan, dan Eropa. Namun, kelompok itu baru terlihat bermunculan di Indonesia beberapa tahun lalu.

Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X