Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Beberkan Data di Lampung dan Jakarta, TKN Anggap BPN Klaim Menang Berdasar "Secuil" TPS

Kompas.com - 23/04/2019, 07:22 WIB
Jessi Carina,
Inggried Dwi Wedhaswary

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin membeberkan temuan soal perbandingan hasil penghitungan suara mereka dengan versi Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga.

Data yang diadu adalah data penghitungan suara di dua provinsi yaitu Lampung dan DKI Jakarta.

"Contohnya di Lampung. Lampung itu terdiri dari 26.265 buah TPS (tempat pemungutan suara) dan 8 TPS DPTb (daftar pemilih tambahan)," ujar Juru bicara TKN Jokowi-Ma'ruf, Arya Sinulingga, di Posko Cemara, Menteng, Senin (22/4/2019).

Arya mengatakan, pasangan Jokowi-Ma'ruf sejauh ini unggul di provinsi tersebut.

Baca juga: TKN Sebut BPN Sengaja Buat Isu Pemilu Curang karena Tak Bisa Gugat ke MK

Berdasarkan catatan TKN, Jokowi-Ma'ruf mendapatkan 56,93 persen dan Prabowo-Sandiaga mendapat 43,07 persen.

Arya menyebutkan, klaim tersebut dibuat setelah 52 persen data penghitungan suara di Lampung masuk real count room Jokowi-Ma'ruf.

Menurut Arya, klaim ini lebih valid karena sample TPS yang digunakan mencapai setengah total TPS di Lampung.

Sebaliknya, kata dia, BPN Prabowo-Sandiaga mengklaim unggul di Lampung hanya dengan sedikit sampel TPS.

Baca juga: TKN: Kami Sudah Buka Real Count Room, Apakah Kubu 02 Berani Buka?

"Data yang mereka ambil di Lampung itu hanya 30 TPS. Jadi kecurigaan kami yang mengatakan bahwa mereka datanya tidak valid, ternyata terbukti, satu itu di Lampung," kata Arya.

DKI Jakarta

Arya juga menjelaskan kejanggalan klaim BPN Prabowo-Sandiaga atas kemenangan di Jakarta.

Ia menyebutkan, Jokowi-Ma'ruf unggul dengan perolehan suara 55,87 persen di Jakarta. Sementara, Prabowo-Sandiaga mendapatkan suara 44,13 persen.

Arya mengatakan, hasil itu berasal dari 40 persen data yang masuk ke real count room TKN Jokowi-Ma'ruf. Adapun, jumlah TPS yang ada di Jakarta ada 29.010 TPS.

Baca juga: TKN: BPN Tak Tempatkan Saksi di Semua TPS, Bagaimana Bisa Kirim C1?

Hasil penghitungan TKN lagi-lagi berbeda dengan BPN yang mengklaim Prabowo-Sandiaga menang di Jakarta.

Arya menilai, penyebabnya juga sama, karena jumlah TPS yang dipakai sebagai sampel.

"Hasil kami berbeda dengan mereka. Versi mereka, menang di Jakarta dengan suara 73 persen dan kami 26 persen. Tapi data yang mereka gunakan itu hanya 468 TPS," kata Arya.

Dia berpendapat, 30 TPS di Lampung dan 468 TPS di Jakarta tidak mampu merepresentasikan kemenangan di daerah itu.

Ketika ditanya bagaimana TKN mendapatkan data sampel TPS yang digunakan BPN Prabowo-Sandiaga, Arya mengatakan, mereka mendapatkan informasi yang terpercaya.

Baca juga: Moeldoko Persilakan Pihak yang Curiga Ikut Pantau War Room TKN

Arya mengatakan, TKN Jokowi-Ma'ruf sendiri selalu menunggu data masuk hingga 40 atau 50 persen sebelum akhirnya menyatakan unggul.

Dia menilai, ini merupakan upaya yang dilakukan BPN Prabowo-Sandiaga untuk membangun citra.

"Seolah-olah mereka menang padahal tidak. Kemudian mengatakan kecurangan supaya rakyat percaya bahwa mereka itu benar," kata dia.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Baca tentang
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Usai Dihujat Karena Foto Starbucks, Zita Anjani Kampanye Dukung Palestina di CFD

Usai Dihujat Karena Foto Starbucks, Zita Anjani Kampanye Dukung Palestina di CFD

Nasional
Kemenag: Jangan Tertipu Tawaran Berangkat dengan Visa Non Haji

Kemenag: Jangan Tertipu Tawaran Berangkat dengan Visa Non Haji

Nasional
'Presidential Club' Dinilai Bakal Tumpang Tindih dengan Wantimpres dan KSP

"Presidential Club" Dinilai Bakal Tumpang Tindih dengan Wantimpres dan KSP

Nasional
Soal Presidential Club, Pengamat: Jokowi Masuk Daftar Tokoh yang Mungkin Tidak Akan Disapa Megawati

Soal Presidential Club, Pengamat: Jokowi Masuk Daftar Tokoh yang Mungkin Tidak Akan Disapa Megawati

Nasional
Gaya Politik Baru: 'Presidential Club'

Gaya Politik Baru: "Presidential Club"

Nasional
Kemenag Rilis Jadwal Keberangkatan Jemaah Haji, 22 Kloter Terbang 12 Mei 2024

Kemenag Rilis Jadwal Keberangkatan Jemaah Haji, 22 Kloter Terbang 12 Mei 2024

Nasional
Luhut Minta Orang 'Toxic' Tak Masuk Pemerintahan, Zulhas: Prabowo Infonya Lengkap

Luhut Minta Orang "Toxic" Tak Masuk Pemerintahan, Zulhas: Prabowo Infonya Lengkap

Nasional
PDI-P Yakin Komunikasi Prabowo dan Mega Lancar Tanpa Lewat 'Presidential Club'

PDI-P Yakin Komunikasi Prabowo dan Mega Lancar Tanpa Lewat "Presidential Club"

Nasional
Zulhas: Semua Mantan Presiden Harus Bersatu, Apalah Artinya Sakit Hati?

Zulhas: Semua Mantan Presiden Harus Bersatu, Apalah Artinya Sakit Hati?

Nasional
Soal 'Presidential Club', Yusril: Yang Tidak Mau Datang, Enggak Apa-apa

Soal "Presidential Club", Yusril: Yang Tidak Mau Datang, Enggak Apa-apa

Nasional
Soal Presidential Club, Prabowo Diragukan Bisa Didikte Presiden Terdahulu

Soal Presidential Club, Prabowo Diragukan Bisa Didikte Presiden Terdahulu

Nasional
Soal 'Presidential Club', Golkar Yakin Prabowo Bisa Menyatukan para Presiden Terdahulu

Soal "Presidential Club", Golkar Yakin Prabowo Bisa Menyatukan para Presiden Terdahulu

Nasional
Tanggapi Isu 'Presidential Club', PDI-P: Terlembaga atau Ajang Kongko?

Tanggapi Isu "Presidential Club", PDI-P: Terlembaga atau Ajang Kongko?

Nasional
Cak Imin Sebut PKB Jaring Calon Kepala Daerah dengan 3 Kriteria

Cak Imin Sebut PKB Jaring Calon Kepala Daerah dengan 3 Kriteria

Nasional
Golkar: 'Presidential Club' Bisa Permudah Prabowo Jalankan Pemerintahan

Golkar: "Presidential Club" Bisa Permudah Prabowo Jalankan Pemerintahan

Nasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com