Demokrasi di Indonesia Dinilai Belum Dewasa

Kompas.com - 12/12/2018, 15:12 WIB
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana Afdal Makurraga Putra saat diskusi Seminar Nasional: Peran Media Massa di Era Demokrasi Digital oleh Habibie Center, di Hotel Le Meridien, Jakarta Pusat, Rabu (12/12/2018).  KOMPAS.com/Devina HalimDosen Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana Afdal Makurraga Putra saat diskusi Seminar Nasional: Peran Media Massa di Era Demokrasi Digital oleh Habibie Center, di Hotel Le Meridien, Jakarta Pusat, Rabu (12/12/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana Afdal Makurraga Putra menilai budaya demokrasi di Indonesia masih belum dewasa.

Salah satu indikatornya, menurut dia, sikap intoleransi. Ia mengatakan, kebebasan berpendapat saat ini tidak diikuti dengan rasa saling menghargai terhadap perbedaan pendapat tersebut.

"Yang terjadi di sini adalah budaya demokrasinya tidak (tinggi atau dewasa), kemudian datanglah seperti tidak saling menghargai perbedaan," ujar Afdal seusai acara diskusi Seminar Nasional: Peran Media Massa di Era Demokrasi Digital oleh Habibie Center, di Hotel Le Meridien, Jakarta Pusat, Rabu (12/12/2018).

Baca juga: Fadli Zon: Kebebasan HAM dan Demokrasi Alami Kemunduran

Afdal mengatakan, perbedaan pendapat kadang menjadi bahan olok-olok atau bullying. Selain itu, dalam konteks Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019, perbedaan pilihan dapat memicu adu fisik hingga menimbulkan korban.

"Pilpresnya belum terlaksana tapi korbannya sudah terjadi," kata dia.

Indikator lainnya, informasi yang beredar di publik seharusnya menyangkut kepentingan umum.

"Informasi yang beredar itu juga harus info yang berkaitan langsung dengan kepentingan publik," ujar Afdal.

Baca juga: Kapolri: Kita Bikin Pesta Demokrasi, Rakyat Bergembira Ria

Akan tetapi, Afdal menilai, informasi yang beredar tidak substantif dan tidak ada keragaman informasi. Menurut dia, tanpa keragaman, demokrasi akan hilang.

Afdal mengatakan, dalam konteks Pilpres, menurut dia, informasi yang substantif mengenai program maupun visi misi dari masing-masing pasangan calon belum muncul. Oleh karena itu, ia mendorong hal-hal tersebut ditonjolkan.

Baca tentang


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X