Di Sisa Jabatannya, Mendikbud Matangkan Sistem Zonasi Percepat Pemerataan Pendidikan Berkualitas

Kompas.com - 05/11/2018, 12:10 WIB
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy, melakukan kunjungan kerja ke 3 pondok pesantren (ponpes) di Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur (21/10/2018). Dok. KemendikbudMenteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy, melakukan kunjungan kerja ke 3 pondok pesantren (ponpes) di Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur (21/10/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Di sisa akhir masa kepemimpinannya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Efendy akan mematangkan penerapan sistem zonasi dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Sistem Zonasi, kata Muhadjir, merupakan upaya untuk mempercepat pemeretaan kualitas di sektor pendidikan.

“Merancang sistem induk kependidikan untuk periode berikutnya yaitu mematangkan sistem zonasi (zoning system) ini menjadi grand design untuk menyelesaikan sebagian besar persoalan pendidikan,” tutur Muhadjir kepada Kompas.com, Senin (5/11/2018).

Mendikbud menuturkan, sistem zonasi merupakan bentuk penyesuaian kebijakan dari sistem rayonisasi. Rayonisasi yakni lebih pada capaian siswa di bidang akademik, sementara sistem zonasi lebih menekankan pada jarak atau radius antara rumah siswa dengan sekolah.

Artinya, siapa yang lebih dekat dengan sekolah lebih berhak mendapaktan pelayanan pendidikan dari sekolah itu.

Baca juga: Cerita Ridwan Kamil Saat Anaknya Terdampak Sistem Zonasi PPDB

Muhadjir menjelaskan, tujuan dari penerapan sistem zonasi yakni untuk menjamin pemerataan akses pendidikan bagi siswa.

“Harapannya pemerataan pendidikan yang berkualitas. Ada sekolah favorit dengan asumsi lukusan yang bagus-bagus tapi ada sekolah yang lulusan tidak bagus karena lulusan yang tidak bagus yang nanggung tidak hanya sekolah tapi negara kan,” tutur Muhadjir.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Namun, dalam awal penerapannya tidak sedikit yang menyampaikan keluhan dari para orang tua siswa yang dianggap merugikan calon siswa berprestasi.

Menanggapi hal itu, Mendikbud menegaskan, bahwa pada prinsipnya sistem zonasi lebih mendekatkan tempat tinggal siswa dengan sekolah dan menggunakan jarak/radius bukan nilai.

Baca juga: Sistem Zonasi Cegah Kisruh Penerimaan Siswa Baru

“Itu pasti biasa namanya berubah mereka terutama orang tua yang berburu sekolah favorit untuk anaknya. Segala cara sekarang tidak boleh ya kecewa termasuk para pejabat yang sekarang minta hak anaknya masuk ke sekolah dikategori favorit sekarang tidak boleh kecewa,” kata Muhadjir.

“Tapi itu kan soal waktu, sekarang sudah tidak banyak protes-protes,” sambung Muhadjir.

Muhadjir menambahakan, fokus yang menjadi pekerjaan rumah selain sistem zonasi adalah pembenahan kualitas guru.

“Terutama pertama tentang status guru, kedua profesionalisme nya yang kualitas-kualitas yang disyaratkan terpenuhi yaitu kualitas akademik dan kompetensi yang diwujudkan dengan sertifikasi,” tutur Muhadjir.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

BPOM: Vaksin Merah Putih Bakal Diuji Klinis sebagai Booster

BPOM: Vaksin Merah Putih Bakal Diuji Klinis sebagai Booster

Nasional
Tahan Tangis, Mensos Risma: Jangan Pandang Rendah Penyandang Disabilitas

Tahan Tangis, Mensos Risma: Jangan Pandang Rendah Penyandang Disabilitas

Nasional
Ketua DPR: Indonesia Harus Ajak Negara Maju Atasi Perubahan Iklim

Ketua DPR: Indonesia Harus Ajak Negara Maju Atasi Perubahan Iklim

Nasional
Di Bali, Jokowi Bermain Bulu Tangkis Lawan Hendra Setiawan

Di Bali, Jokowi Bermain Bulu Tangkis Lawan Hendra Setiawan

Nasional
Satgas Sebut BOR RS Rujukan dan Kasus Aktif Covid-19 Meningkat

Satgas Sebut BOR RS Rujukan dan Kasus Aktif Covid-19 Meningkat

Nasional
Saksikan BWF World Tour Finals, Jokowi Sempatkan Sapa Atlet Bulu Tangkis RI

Saksikan BWF World Tour Finals, Jokowi Sempatkan Sapa Atlet Bulu Tangkis RI

Nasional
Ukur Capaian Reformasi Birokrasi, LAN Gelar Seminar Indeks Kualitas Kebijakan

Ukur Capaian Reformasi Birokrasi, LAN Gelar Seminar Indeks Kualitas Kebijakan

Nasional
'Seharusnya Ibu Menteri Sosialisasikan Bahasa Isyarat, Bukan Paksa Tuli Bicara'

"Seharusnya Ibu Menteri Sosialisasikan Bahasa Isyarat, Bukan Paksa Tuli Bicara"

Nasional
Satgas: Dasar Hukum Karantina 10 Hari untuk Pelaku Perjalanan Internasional Segera Diumumkan

Satgas: Dasar Hukum Karantina 10 Hari untuk Pelaku Perjalanan Internasional Segera Diumumkan

Nasional
Percepat Vaksinasi, Kemenkes Minta Kabupaten dan Kota Gunakan Jenis Vaksin yang Tersedia

Percepat Vaksinasi, Kemenkes Minta Kabupaten dan Kota Gunakan Jenis Vaksin yang Tersedia

Nasional
Dubes RI untuk Uni Eropa: Abai Prokes dan Tolak Vaksinasi Jadi Faktor Merebaknya Covid-19 di Eropa

Dubes RI untuk Uni Eropa: Abai Prokes dan Tolak Vaksinasi Jadi Faktor Merebaknya Covid-19 di Eropa

Nasional
Pencoblosan Pemilu Direncanakan 21 Februari 2024, PKB: Yang Penting Jangan di Tengah Idul Fitri

Pencoblosan Pemilu Direncanakan 21 Februari 2024, PKB: Yang Penting Jangan di Tengah Idul Fitri

Nasional
Ketum PKB Nilai Usul Pimpinan MPR agar Sri Mulyani Dicopot Tidak Produktif

Ketum PKB Nilai Usul Pimpinan MPR agar Sri Mulyani Dicopot Tidak Produktif

Nasional
Satgas: Mobilitas Masyarakat dengan Kereta Api dan Pesawat Meningkat 5 Bulan Terakhir

Satgas: Mobilitas Masyarakat dengan Kereta Api dan Pesawat Meningkat 5 Bulan Terakhir

Nasional
UPDATE: Cakupan Vaksinasi Covid-19 Dosis Kedua Capai 46,88 Persen

UPDATE: Cakupan Vaksinasi Covid-19 Dosis Kedua Capai 46,88 Persen

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.