Indonesia Bantu Deradikalisasi di Marawi

Kompas.com - 13/11/2017, 11:24 WIB
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi di Istana, Jakarta, Jumat (27/10/2017). KOMPAS.com/IHSANUDDINMenteri Luar Negeri Retno Marsudi di Istana, Jakarta, Jumat (27/10/2017).
|
EditorDiamanty Meiliana

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah Indonesia menyatakan kesiapannya mendukung proses rekonstruksi dan rehabilitasi, termasuk deradikalisasi di Marawi, Filipina.

Kota tersebut telah dibebaskan Pemerintah Filipina dari penguasaan kelompok radikal beberapa waktu lalu.

Komitmen kesiapan Indonesia telah disampaikan Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi dalam Pertemuan Tingkat Menteri Luar Negeri Trilateral Indonesia-Malaysia-Filipina.

Pertemuan itu dihadiri Menlu Filipina Alan Peter Cayetano dan Menlu Malaysia Dato’ Sri Anifah, di Hotel Diamond, Manila, Minggu (12/11/2017) sore.

Pertemuan Trilateral ini merupakan tindak lanjut dari Pertemuan Trilateral sebelumnya pada Juni lalu.

Menlu menjelaskan, kerja sama antara Indonesia, Malaysia dan Filipina ini dibentuk untuk meningkatkan efektivitas penanganan kejahatan terorganisasi lintas negara, terutama terorisme, khususnya di Laut Sulu dan Sulawesi.

(Baca juga : Tiga Negara Akan Duduk Semeja Membahas Pembangunan Ulang Marawi)

Menlu Retno menilai rekonstruksi dan rehabilitasi adalah tugas yang sangat berat.

Namun dengan dukungan dan kerja sama, termasuk melalui Trilateral, ia meyakini tugas tersebut bisa diselesaikan.

“Indonesia, menunggu Pemerintah Filipina untuk dapat mengidentifikasi kebutuhan bagi upaya rekonstruksi dan rehabilitasi,” kata Menlu Retno dalam keterangan tertulis di situs resmi Sekretaris Kabinet RI, Senin (3/11/2017).

Selain rekonstruksi dan pembangunan infrastruktur, Retno mengatakan, salah satu fokus dukungan Indonesia yakni di sektor pendidikan dan deradikalisasi.

Ia menyampaikan Indonesia siap membantu mengembangkan kurikulum pendidikan agama, mengirim ulama untuk menyebarkan nilai Islam rahmatan lil alamin melalui madrasah, serta menyediakan lebih banyak beasiswa untuk para pelajar dan mahasiswa asal Marawi.

“Indonesia siap berbagi pengalaman dengan Filipina dalam proses deradikalisasi dan reintegrasi di Marawi,” tutur Retno.

Retno juga mengatakan, keberhasilan Pemerintah Filipina membebaskan kota Marawai memberikan pesan kuat bahwa terorisme dan ekstremisme bisa dikalahkan melalui kerja sama.

Namun demikian, Retno mengingatkan, pembebasan Marawi bukanlah tujuan akhir, melainkan sebuah awal dari tugas yang lebih besar lagi, yakni mewujudkan pembangunan dan perdamaian berkelanjutan di Marawi.

Retno menambahkan, langkah penting berikutnya adalah melakukan rekonstruksi dan rehabilitasi infrastruktur, reintegrasi, penyelesaian akar permasalahannya.

Selain itu juga dibutuhkan penguatan kerja sama guna mencegah terulangnya kembali tragedi seperti yang terjadi di Marawi.

Karena itu. Retno menyatakan, Indonesia menunggu Pemerintah Filipina untuk dapat mengidentifikasi kebutuhan bagi upaya rekonstruksi dan rehabilitasi.

Indonesia juga telah berinisiatif menyampaikan draf Rencana Aksi (Plan of Action) beserta peta jalan (Road Map), yang secara sistematis memuat aktivitas konkrit kerja sama Trilateral.

Kegiatan konkrit tersebut terbagi menjadi tiga bagian, yakni jangka pendek, menengah, dan panjang.

“Kedua dokumen ini selanjutnya akan dibahas secara lebih mendalam dalam Pertemuan Trilateral berikutnya, yang rencananya akan diselenggarakan di Indonesia awal tahun depan,” papar Retno.

Menangkan Samsung A71 dan Voucher Belanja. Ikuti Kuis Hoaks / Fakta dan kumpulkan poinnya. *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X