Salurkan Bansos di Wilayah "Blankspot", Kemensos Rilis "EDC Offline"

Kompas.com - 23/10/2017, 08:05 WIB
Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa Kompas.com/Kurnia Sari AzizaMenteri Sosial Khofifah Indar Parawansa
|
EditorBayu Galih

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah terus melakukan inovasi dalam penyaluran bantuan sosial ( bansos) non tunai.

Bila sebelumnya, pemerintah meluncurkan mesin electronic data capture (EDC) berbasis sistem operasi Android, kini Kementerian Sosial bersama BNI meluncurkan EDC offline guna memperluas jangkauan dan memudahkan penyaluran bansos non tunai.

Peluncuran EDC offline tersebut dilakukan di Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto, Minggu (22/10/2017).

"Jadi di wilayah yang sinyalnya lemah atau tidak ada sinyal sama sekali, pencairan secara non tunai dapat tetap dilakukan," kata Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa dalam keterangan tertulis, Senin (23/10/2017).

(Baca juga: Pemerintah Matangkan Sistem Bansos Terintegrasi Satu Kartu)

Khofifah memaparkan, sebelumnya penggunaan EDC sangat mengandalkan sinyal selular. Namun, dengan keberadaan EDC offline ini maka hambatan tersebut dapat teratasi. Mengingat masih adanya wilayah di Indonesia yang berkategori blankspot.

"Sistem kerja EDC offline dengan menggunakan kartu yang digesek pada mesin EDC lalu diverifikasi melalui e-KTP dan finger print sangat simple karena tidak harus bergantung pada sinyal karena data penerima sudah di-input terlebih dahulu ke dalam EDC," ujar dia.

Khofifah menambahkan, revolusi bansos non tunai yang dilakukan Kementerian Sosial merupakan wujud implementasi dari Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 63 Tahun 2017 tentang Penyaluran Bantuan Sosial Secara Nontunai.

Presiden, kata Khofifah, meminta agar bantuan sosial ke depannya tidak lagi diberikan dalam bentuk tunai, namun melalui sistem perbankan. Hal tersebut sesuai dengan Strategi Nasional Keuangan Inklusif.

(Baca juga: Penyaluran Bansos Didorong Secara Non-Tunai)

Karena itu, Khofifah meyakini penyaluran secara non tunai yang dilakukan Kemensos mampu mengerek kenaikan indeks keuangan inklusif hingga 75 persen pada 2019 dari posisi pada 2014 yang tercatat 36 persen.

Bank Indonesia (BI) sendiri memprediksi tingkat inklusi keuangan pada tahun 2017 ini mencapai 50 persen-60 persen. Angka ini berdasarkan hasil survei internal yang dilakukan oleh pihak bank sentral.

Menurut Khofifah, teknologi yang dibenamkan dalam Kartu Keluarga Sejahtera dengan fitur saving account dan e- wallet adalah yang pertama di dunia. Fitur e-wallet yang terdapat dalam KKS memungkinkan pengelompokkan nominal bantuan beserta peruntukkannya.

"Kondisi geografis Indonesia belum memungkinkan untuk seluruh wilayah menerapkan sistem online. Intinya agar semua menjadi mudah," kata dia.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X