Mempertanyakan Eksistensi Komunikasi Lingkungan di Indonesia

Kompas.com - 18/09/2017, 08:22 WIB
Sejumlah petugas membersihkan sampah-sampah yang mengotori Pantai Senggigi di Batulayar, Gerung, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), Rabu (13/9/2017). Upaya pembersihan tersebut untuk kenyamanan wisatawan yang berkunjung. ANTARA FOTO/ADITYA PRADANA PUTRASejumlah petugas membersihkan sampah-sampah yang mengotori Pantai Senggigi di Batulayar, Gerung, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), Rabu (13/9/2017). Upaya pembersihan tersebut untuk kenyamanan wisatawan yang berkunjung.
EditorLaksono Hari Wiwoho

TIDAK banyak yang tahu bahwa saat ini mata dunia tengah menyoroti Indonesia lebih tajam lagi.

Akhir tahun 2016, pemerintah Indonesia telah menyerahkan dokumen Nationally Determined Contribution (NDC) kepada Secretariat United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) sebagai bentuk komitmen pemerintah Indonesia untuk menurunkan emisi sebesar 29 persen dengan upaya sendiri, dan 41 persen dengan dukungan internasional sampai dengan tahun 2030.

Komitmen pemerintah Indonesia tersebut telah dikukuhkan dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2016 tentang Persetujuan Paris atas Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-bangsa tentang Perubahan Iklim. Keluarnya UU No. 16/2016 ini mengisyaratkan penurunan emisi karbon adalah keniscayaan. Artinya, target penurunan tersebut harus tercapai.

Saat ini, pemerintah Indonesia tengah berjuang untuk mempertahankan agar kenaikan suhu di Indonesia tidak lebih dari 2 derajat Celcius. Banyak yang beranggapan bahwa sumbangsih transportasi dan industri adalah yang terbesar dalam menyebabkan polusi lingkungan dan gas rumah kaca sehingga kedua sektor itulah yang terus menjadi perhatian masyarakat untuk segera diatasi.

Padahal, sesuai penjelasan Kepala Badan Penelitian, Pengembangan, dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Henry Bastaman, ada lima sektor utama dalam mengurangi emisi karbon, yaitu energi, sampah, proses dan produksi industri, pertanian, dan kehutanan. Kontribusi penurunan emisi karbon yang paling banyak justru bisa didapatkan dari sektor lahan dan kehutanan, yaitu sebesar 17 persen.

Direktur Lingkungan Hidup Kementerian Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) Medrildzam pernah mengatakan bahwa isu perubahan iklim bukan hanya tentang isu lingkungan. Isu ini terkait erat dengan pembangunan ekonomi dan pengentasan kemiskinan negara-negara berkembang sesuai dengan prinsip pembangunan berkelanjutan.

Dilema sektor lahan dan kehutanan ketika menjadi tulang punggung pemenuhan target penurunan emisi adalah investasi dan pembangunan nasional ataupun daerah yang membutuhkan sektor lahan itu sendiri.

Kebutuhan lahan akan terus bertambah, sementara ketersediaan lahan akan statis. Ada waktunya ketersediaan lahan tidak lagi dapat menampung kebutuhan lahan yang semakin tinggi.

Oleh karena itu, perlu ada strategi kebijakan pembangunan nasional dan daerah yang memulai konsep pembangunan hijau. Tujuan dari konsep ini adalah pembangunan yang tetap memperhatikan kelestarian lingkungan walaupun pembangunan terus berlanjut.

Suatu daerah tidak mungkin berhenti membangun. Namun, dengan konsep pembangunan hijau, dampak peningkatan karbon yang ekstrim dari pembangunan dapat ditekan.

Sejauh ini, strategi perencanaan pembangunan hijau terus digiatkan oleh organisasi-organisasi non-profit (NGO) di bidang lingkungan agar dapat diarusutamakan ke dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) dan disinergikan dengan rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN).

Akan tetapi, proses pelaksanaannya tidaklah mudah. Pasalnya, isu lingkungan saat ini masih kalah populer dari isu-isu politik, hukum, ekonomi, dan sebagainya sehingga seringkali perencanaan tersebut hanya berakhir sebagai dokumen formal di meja para pembuat kebijakan.

Oleh karena itu, perencanaan pembangunan hijau di sektor lahan, selain memerlukan analisis spasial yang tepat, dibutuhkan juga komunikasi lingkungan yang berfungsi.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mantan Gubernur Lemhanas Letjen TNI (Purn) Sayidiman Suryohadiprojo Meninggal Dunia

Mantan Gubernur Lemhanas Letjen TNI (Purn) Sayidiman Suryohadiprojo Meninggal Dunia

Nasional
Ketua IDI: Menkes Cepat soal Vaksinasi, tetapi Belum Maksimal Tekan Penularan Covid-19

Ketua IDI: Menkes Cepat soal Vaksinasi, tetapi Belum Maksimal Tekan Penularan Covid-19

Nasional
UPDATE Banjir Kalsel: 5 Orang Meninggal, 27.111 Rumah Terendam, 112.709 Warga Mengungsi

UPDATE Banjir Kalsel: 5 Orang Meninggal, 27.111 Rumah Terendam, 112.709 Warga Mengungsi

Nasional
Kasus Covid-19 Catat Rekor 4 Hari Beruntun, Pemerintah Dinilai Tak Antisipasi Prediksi

Kasus Covid-19 Catat Rekor 4 Hari Beruntun, Pemerintah Dinilai Tak Antisipasi Prediksi

Nasional
Gempa Majene, BNPB: Sulawesi Barat Tanggap Darurat Bencana

Gempa Majene, BNPB: Sulawesi Barat Tanggap Darurat Bencana

Nasional
UPDATE Gempa Majene-Mamuju: 46 Meninggal, 826 Luka-luka

UPDATE Gempa Majene-Mamuju: 46 Meninggal, 826 Luka-luka

Nasional
Ibu Negara Iriana Jarang Tampak Dampingi Jokowi, Ini Penjelasan Istana

Ibu Negara Iriana Jarang Tampak Dampingi Jokowi, Ini Penjelasan Istana

Nasional
UPDATE: 13.224 Kasus Baru Covid-19 Tersebar di 33 Provinsi, DKI Terbanyak

UPDATE: 13.224 Kasus Baru Covid-19 Tersebar di 33 Provinsi, DKI Terbanyak

Nasional
UPDATE 16 Januari: Ada 69.414 Suspek Terkait Covid-19

UPDATE 16 Januari: Ada 69.414 Suspek Terkait Covid-19

Nasional
UPDATE 16 Januari: Tambah 8.662, Pasien Sembuh dari Covid-19 Jadi 727.358

UPDATE 16 Januari: Tambah 8.662, Pasien Sembuh dari Covid-19 Jadi 727.358

Nasional
UPDATE 16 Januari: Ada 143.517 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia

UPDATE 16 Januari: Ada 143.517 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia

Nasional
UPDATE 16 Januari: Bertambah 283, Pasien Covid-19 Meninggal Kini 25.767 Orang

UPDATE 16 Januari: Bertambah 283, Pasien Covid-19 Meninggal Kini 25.767 Orang

Nasional
UPDATE 16 Januari: 63.300 Spesimen Terkait Covid-19 Diperiksa dalam Sehari

UPDATE 16 Januari: 63.300 Spesimen Terkait Covid-19 Diperiksa dalam Sehari

Nasional
Tambah 14.224 Kasus Covid-19 dalam Sehari, Indonesia Catat Rekor Lagi

Tambah 14.224 Kasus Covid-19 dalam Sehari, Indonesia Catat Rekor Lagi

Nasional
UPDATE 16 Januari: Tambah 14.224, Kini Ada 896.642 Kasus Covid-19 di Indonesia

UPDATE 16 Januari: Tambah 14.224, Kini Ada 896.642 Kasus Covid-19 di Indonesia

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X