Kapolri: Hoaks Luar Biasa Liarnya - Kompas.com

Kapolri: Hoaks Luar Biasa Liarnya

Kompas.com - 09/09/2017, 20:07 WIB
Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian memberikan sambutan saat acara pemusnahan sejumlah barang bukti narkoba di kompleks Bandara Soekarno-Hatta, Selasa (15/8/2017). Berbagai macam jenis narkotika yaitu 2,73 ton ganja, 1,4 ton sabu, 1.264.445 butir ekstasi, 36.000 happy five, dan 5,6 juta butir psikotropika golongan IV akan dimusnahkan secara serentak  oleh Kepolisian Republik Indonesia dan Badan Narkotika Nasional ( BNN).KOMPAS.com / ANDREAS LUKAS ALTOBELI Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian memberikan sambutan saat acara pemusnahan sejumlah barang bukti narkoba di kompleks Bandara Soekarno-Hatta, Selasa (15/8/2017). Berbagai macam jenis narkotika yaitu 2,73 ton ganja, 1,4 ton sabu, 1.264.445 butir ekstasi, 36.000 happy five, dan 5,6 juta butir psikotropika golongan IV akan dimusnahkan secara serentak oleh Kepolisian Republik Indonesia dan Badan Narkotika Nasional ( BNN).
hoaks

hoaks!

Berdasarkan verifikasi Kompas.com sejauh ini, informasi ini tidak benar.


JAKARTA, KOMPAS.com -
Kapolri Jenderal (pol) Tito Karnavian mengatakan, saat ini informasi hoaks di media sosial sudah sangat mudah menyebar. Menurut Tito, informasi bohong atau hoaks cepat menyebar karena bisa dibuat siapa saja.

Hal itu disampaikan Tito saat menjadi pembicara dalam Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Komunikator Politik Nasional Partai Golkar, di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu (9/9/2017).

" Hoaks itu sekarang ini luar biasa liarnya. Semua orang bisa buat apapun di medsos. Kalau positif yang viral oke, kalau negatif, dia dibuat lagi secara profesional seperti Saracen itu," kata Tito.

Oleh karena itu, Tito menegaskan bahwa kebebasan harus dibatasi. Dia menyatakan kepolisian akan menindak tegas pembuat dan penyebar hoaks di dunia maya seperti kelompok Saracen.

(baca: Menkominfo Bantah Hanya Berantas Hoaks yang Serang Pemerintah)

Menurut Tito, kelompok Saracen beroperasi dengan cara membeli akun media sosial yang sudah mempunyai banyak pengikut. Setelah itu, mereka menyebarkan hoaks dari akun tersebut dengan tujuan tertentu.

"Kerjaannya tiap hari begitu. Akun Facebook yang ada satu juta follower dibeli sama dia. Bisa bayangkan dia tinggal posting berita, agenda tertentu. Bisa mengadu bangsa. Ini harus ada aturan-aturan, kuncinya rule of law," ucap Tito.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Rikwanto mengatakan, kepolisian tengah menelusuri aliran dana yang diterima Saracen beberapa tahun terakhir.

"Saracen masih penelusuran. Untuk rekening yang berkaitan Saracen, kami tarik ke belakang 3-4 tahun ke belakang," ujar Rikwanto, saat ditemui di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu (9/9/2017).

Penyidik Polri menengarai ada 14 rekening terkait dugaan tindak pidana penyebaran ujaran kebencian dan muatan SARA oleh kelompok Saracen. Rekening-rekening tersebut dihimpun dari data yang tersimpan dalam harddisk drive milik para tersangka.

Polisi meminta bantuan Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan (PPATK) untuk menganalisa aliran dana masuk dan keluar di rekening tersebut.

Dalam kasus ini, polisi menetapkan empat tersangka, yaitu JAS, MFT, SRN, dan AMH. Kelompok Saracen menetapkan tarif sekitar Rp 72 juta dalam proposal yang ditawarkan ke sejumlah pihak.

Kompas TV Polda Metro Jaya membuka posko pengaduan terkait penanganan kasus ujaran kebencian melalui media sosial.


PenulisIhsanuddin
EditorIndra Akuntono

HOAKS ATAU FAKTA?

Jika Anda mengetahui ada berita viral yang hoaks atau fakta, silakan klik tombol laporkan hoaks di bawah ini

closeLaporkan Hoaks checkCek Fakta Lain
Komentar

Terkini Lainnya

Bupati Kepulauan Seribu: Penataan Pulau Pari Tunggu Sengketa Selesai

Bupati Kepulauan Seribu: Penataan Pulau Pari Tunggu Sengketa Selesai

Megapolitan
Kalahkan Jepang, Singapura Jadi Negara Paling Aman di Dunia

Kalahkan Jepang, Singapura Jadi Negara Paling Aman di Dunia

Internasional
Ali Mochtar Ngabalin: Saya Berkewajiban Memberi Tahu Pemerintah Menjalankan Tugas Mulia

Ali Mochtar Ngabalin: Saya Berkewajiban Memberi Tahu Pemerintah Menjalankan Tugas Mulia

Nasional
Anies Pastikan Perluasan Ganjil-Genap Hanya Berlaku Selama Asian Games

Anies Pastikan Perluasan Ganjil-Genap Hanya Berlaku Selama Asian Games

Megapolitan
Petugas Mulai Bersihkan Abu Merapi yang Selimuti Candi Borobudur

Petugas Mulai Bersihkan Abu Merapi yang Selimuti Candi Borobudur

Regional
Komisi I dan Panglima TNI Gelar Rapat Bahas Pengaktifan Koopsusgab

Komisi I dan Panglima TNI Gelar Rapat Bahas Pengaktifan Koopsusgab

Nasional
Sebuah Istana Kuno Perancis Dijual dengan Harga Rp 182.000

Sebuah Istana Kuno Perancis Dijual dengan Harga Rp 182.000

Internasional
Tipu Penumpang Asing, Staf Stasiun Kereta Api Cepat di Jepang Dipecat

Tipu Penumpang Asing, Staf Stasiun Kereta Api Cepat di Jepang Dipecat

Internasional
Pemprov DKI Siapkan Kendaraan Menuju Venue Asian Games

Pemprov DKI Siapkan Kendaraan Menuju Venue Asian Games

Megapolitan
Berkah Pilgub Jatim bagi Ibu-ibu Pelipat Kertas Surat Suara

Berkah Pilgub Jatim bagi Ibu-ibu Pelipat Kertas Surat Suara

Regional
Berhak Daftar Caleg, PAN Sebut Mantan Terpidana Korupsi Tak Bersalah

Berhak Daftar Caleg, PAN Sebut Mantan Terpidana Korupsi Tak Bersalah

Nasional
Selama Asian Games, 'Volunteer' Bisa Naik Bus Transjakarta Gratis ke 'Venue'

Selama Asian Games, "Volunteer" Bisa Naik Bus Transjakarta Gratis ke "Venue"

Megapolitan
Puluhan Gelandangan dan Manusia Gerobak Terjaring Razia Pekat di Jaktim

Puluhan Gelandangan dan Manusia Gerobak Terjaring Razia Pekat di Jaktim

Megapolitan
Melihat Tahanan Narkoba Musnahkan Sabu dan Ekstasi Hasil Kejahatannya...

Melihat Tahanan Narkoba Musnahkan Sabu dan Ekstasi Hasil Kejahatannya...

Megapolitan
Ali Mochtar Ngabalin: Dalam Konsep Agama, Pemerintah Tidak Boleh Difitnah dan Dicaci Maki

Ali Mochtar Ngabalin: Dalam Konsep Agama, Pemerintah Tidak Boleh Difitnah dan Dicaci Maki

Nasional

Close Ads X