Napak Tilas Gus Dur, dari NU Menuju Istana

Kompas.com - 07/09/2017, 07:57 WIB
[ARSIP FOTO] Ketua Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) versi Musyawarah Luar Biasa Parung Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memberikan tausyiah di hadapan peserta Dialog Kebangsaan Pemberantasan Korupsi di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Minggu (15/6/2008). KOMPAS / TOTOK WIJAYANTO[ARSIP FOTO] Ketua Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) versi Musyawarah Luar Biasa Parung Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memberikan tausyiah di hadapan peserta Dialog Kebangsaan Pemberantasan Korupsi di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Minggu (15/6/2008).
|
EditorSabrina Asril

JAKARTA, KOMPAS.com - Kalau ditanya siapa Kyai yang pernah memimpin Indonesia? Rasa-rasanya tak butuh waktu lama bagi kita untuk menjawab Gus Dur.

Meski memiliki keterbatasan fisik, namun kepiawaian dalam memimpin ormas Islam terbesar Nahdlatul Ulama (NU) dan merangkul komunitas di luar NU telah menempatkan pemilik nama lengkap Abdurrahman Wahid itu menjadi Presiden ke-4 Republik Indonesia.

Perjalanan Gus Dur menuju istana tak lepas dari dukungan warga NU dan komunitas non-NU. Kendati sebelumnya di kalangan NU sendiri, beberapa kali ada upaya mendongkel kepemimpinan Gus Dur.

Harus diakui, masuknya Gus Dur di puncak tangga kepemimpinan NU tergolong mudah, tidak berliku, dan bisa dibilang seperti berjalan di jalan tol.

(Baca: Selamat Ulang Tahun, Gus Dur!)

Disarikan dari buku Gila Gus Dur terbitan LKIS, Gus Dur secara formal baru aktif di NU sekitar tahun 1970-an. Posisinya melesat jauh ke puncak organisasi tatkala ditunjuk menggantikan KH Idham Chalid pada Muktamar NU tahun 1984.

Ada sejumlah alasan mengapa Gus Dur bisa dengan cepat masuk di jajaran elit NU. Saat aktif di NU, organisasi tersebut tengah dihadapkan pada masalah titik berat orientasi. Sebagai konsekuensi aktifnya NU berpolitik, titik berat perhatian NU pun lebih pada masalah-masalah politik.

Realitas tersebut berbeda dengan orientasi NU ketika pertama kali didirikan, yaitu sebagai jam'iyah diniyah ijtima'iyah yang berarti organisasi keagamaan kemasyarakatan. Titik berat orientasi politik kala itu justru tak mampu mengagregasikan kepentingan warga NU, sebab corak political society Indonesia bersifat otoritarian.

(Baca: Benarkah Gus Dur Miliki Kemampuan Gaib?)

Gus Dur pun hadir membawa gagasan strategi kembali ke khittah 1926, untuk menyiasati political society yang otoriter.

Meski demikian, NU tidak pasif sama sekali. Dalam berpolitik, warga NU bisa masuk ke partai-partai yang ada, sembari pendekatan ke penguasa. Gagasan yang ditawarkan Gus Dur ini pun diterima oleh para kyai NU.

Selain faktor situasi sosial politik, jalan tol kepemimpinan Gus Dur di NU adalah masalah silsilah keluarga.

Darah biru NU ceramah di gereja

Berasal dari keluarga terpandang di lingkungan NU, membuat Gus Dur relatif lebih mudah diterima di kalangan NU dan para kyai sepuh.

Dari pihak ayah, Gus Dur adalah cucu dari Kyai Hasyim Asy'ari, pendiri NU. Sementara dari pihak ibu, ia adalah cucu dari Kyai Bisri Sansuri, seorang ahli fiqh, Rais Aam PBNU.

Di samping itu semua, alasan lain yang tak kalah penting yaitu kualitas pribadi Gus Dur. Tak heran, dengan faktor-faktor itu tadi, Gus Dur terpilih sebagai pimpinan baru PBNU dalam Muktamar NU ke-27 di Situbondo.

Meski mendapat dukungan penuh dan kepemimpinan di internal NU makin menguat, namun kepemimpinan Gus Dur tak lepas dari tantangan.

(Baca: Di Balik Misteri Tidur Gus Dur)

Musababnya, banyak gagasan Gus Dur yang dinilai kontroversial, seperti gagasan tentang "pribumisasi Islam", "hubungan Islam dan negara", pluralisme dan demokrasi, termasuk keberaniannya memberikan ceramah di hadapan orang Kristiani di gereja.

Upaya mendongkel kepemimpinan Gus Dur yang dianggap "nakal" itu pun terjadi dua kali yaitu dalam Muktamar NU ke-28 dan ke-29.

Bahkan, pada saat Muktamar NU ke-29 di Cipasung, sempat muncul gerakan ABG alias Asal Bukan Gus Dur.

Yang terakhir itu, bahkan disebut-sebut ada campur tangan dari aparat negara karena Gus Dur dianggap berbahaya. Hal itu dikarenakan kritik dan lontaran-lontaran yang dilakukan Gus Dur.

Namun, upaya mendongkel kepemimpinan Gus Dur di NU sia-sia. Dia bertahan tiga periode atau 15 tahun hingga akhirnya terjadi gejolak reformasi '98.

Halaman:
Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Artidjo Alkostar Akan Dimakamkan di Situbondo

Artidjo Alkostar Akan Dimakamkan di Situbondo

Nasional
Jubir MA: Selamat Jalan Pak Artidjo Alkostar…

Jubir MA: Selamat Jalan Pak Artidjo Alkostar…

Nasional
UPDATE 28 Februari : 5.560 Kasus Baru Covid-19 Tersebar di 32 Provinsi, DKI Jakarta Terbanyak

UPDATE 28 Februari : 5.560 Kasus Baru Covid-19 Tersebar di 32 Provinsi, DKI Jakarta Terbanyak

Nasional
UPDATE 28 Februari: 35.434 Spesimen terkait Covid-19 Diperiksa dalam Sehari

UPDATE 28 Februari: 35.434 Spesimen terkait Covid-19 Diperiksa dalam Sehari

Nasional
UPDATE 28 Februari 2021: Terdapat 155.765 Kasus Aktif di Indonesia

UPDATE 28 Februari 2021: Terdapat 155.765 Kasus Aktif di Indonesia

Nasional
UPDATE 28 Februari: Suspek Covid-19 Capai 71.668

UPDATE 28 Februari: Suspek Covid-19 Capai 71.668

Nasional
UPDATE 28 Februari: Tambah 185, Pasien Covid-19 Meninggal Capai 36.166 Orang

UPDATE 28 Februari: Tambah 185, Pasien Covid-19 Meninggal Capai 36.166 Orang

Nasional
Menteri PPPA Sebut Pandemi Covid-19 Berdampak Besar bagi Perempuan

Menteri PPPA Sebut Pandemi Covid-19 Berdampak Besar bagi Perempuan

Nasional
UPDATE 28 Februari: Bertambah 6.649, Pasien Covid-19 Sembuh Jadi 1.142.703 Orang

UPDATE 28 Februari: Bertambah 6.649, Pasien Covid-19 Sembuh Jadi 1.142.703 Orang

Nasional
UPDATE 28 Februari: 1.691.724 Orang Telah Terima Vaksin Covid-19 Dosis Pertama

UPDATE 28 Februari: 1.691.724 Orang Telah Terima Vaksin Covid-19 Dosis Pertama

Nasional
UPDATE 28 Februari: Total Ada 1.334.634 Kasus Covid-19 di Indonesia

UPDATE 28 Februari: Total Ada 1.334.634 Kasus Covid-19 di Indonesia

Nasional
Mengenang Artidjo Alkostar, Cerita soal Salah Jurusan dan Tangani 19.708 Perkara di MA

Mengenang Artidjo Alkostar, Cerita soal Salah Jurusan dan Tangani 19.708 Perkara di MA

Nasional
Mahfud MD: Artidjo Alkostar Meninggal Dunia karena Sakit Jantung dan Paru-paru

Mahfud MD: Artidjo Alkostar Meninggal Dunia karena Sakit Jantung dan Paru-paru

Nasional
PDI-P Belum Pikirkan Kandidat Pengganti Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah

PDI-P Belum Pikirkan Kandidat Pengganti Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah

Nasional
KPK: Kami Sangat Berduka atas Wafatnya Pak Artidjo Alkostar...

KPK: Kami Sangat Berduka atas Wafatnya Pak Artidjo Alkostar...

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X