BNN: Masih Ada Jaringan Narkoba yang Lebih Besar dan Masih Lolos

Kompas.com - 14/07/2017, 15:15 WIB
Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Pol Budi Waseso memberikan keterangan pers saat gelar barang bukti pengungkapan penyelundupan narkotika jaringan internasional dari Tiongkok di gedung BNN, Jakarta Timur, Selasa (7/3/2017). Petugas BNN berhasil mengamankan tujuh tersangka dan mengamankan tiga jenis narkotika antara lain sabu seberat 48,16 kg, 3.702 butir ekstasi, dan 454 butir pil happy five, dua pucuk senjata air soft gun, tiga butir peluru ukuran 9mm, delapan mobil, dua sepeda motor, 30 telepon genggam, dan timbangan digital. KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNGKepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Pol Budi Waseso memberikan keterangan pers saat gelar barang bukti pengungkapan penyelundupan narkotika jaringan internasional dari Tiongkok di gedung BNN, Jakarta Timur, Selasa (7/3/2017). Petugas BNN berhasil mengamankan tujuh tersangka dan mengamankan tiga jenis narkotika antara lain sabu seberat 48,16 kg, 3.702 butir ekstasi, dan 454 butir pil happy five, dua pucuk senjata air soft gun, tiga butir peluru ukuran 9mm, delapan mobil, dua sepeda motor, 30 telepon genggam, dan timbangan digital.
|
EditorSabrina Asril

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Budi Waseso mengatakan, pengungkapan penyelundupan 1 ton sabu dari China ke sejumlah daerah di Indonesia berdasarkan koordinasi Badan Narkotika Daerah Banten dan Polri. Barang bukti tersebut terbilang besar dibandingkan kasus-kasus lain yang sudah terungkap.

Namun, menurut Budi, masih ada jaringan narkoba lain dengan total barang bukti yang lebih besar dibandingkan kasus tersebut.

"Ada yang lebih besar lagi. Yang lolos lebih besar dari itu," ujar Budi di kompleks Mabes Polri, Jakarta, Jumat (14/7/2017).

Berdasarkan pemantauan, jaringan tersebut akan masuk ke pulau Jawa. Untuk mencegah jaringan tersebut masuk ke Indonesia, kata Budi, maka perlu dibangun sinergitas yang kuat dalam pengawasan.

(Baca: 1 Ton Sabu yang Diselundupkan dari China Senilai Rp 2 Triliun)

Segenap lementerian dan lembaga diminta terlibat untuk memerangi narkoba, termasuk masyarakat. Sebab, jaringan narkoba internasional memiliki kekuatan yang besar untuk mengedarkan barang haram, bahkan bisa dengan mudah masuk lewat pintu-pintu "tikus".

"Karena teknologi yang mereka miliki lebih hebat dari teknologi yang kita miliki," kata Budi.

Beberapa jaringan internasional kelas kakap bahkan menggunakan alat komunikasi khusus untuk memantau pergerakan petugas keamanan. Budi mengatakan, pengedar tersebut tahu jika polisi melakukan penyadapan.

Jika menemukan celah untuk masuk, saat itu juga mereka mengedarkan narkoba ke Indonesia.

"Jaringan ini beberapa kali dia akan masuk ke beberapa daerah, tapi tidak jadi karena dia tahu kita ada di sini," kata Budi.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X