Keyakinan Kapolda tentang "Chat" Firza Husein dan Sentilan Gus Nuril soal Mendadak NU

Kompas.com - 07/02/2017, 07:22 WIB
Rumah baru pemberin negara untuk Presiden keenam Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono. Rumah terletak di Jalan Mega Kuningan Timur VII, Jakarta Selatan. Gambar diambil pada Selasa (31/1/2017). KOMPAS.com/SHEILA RESPATIRumah baru pemberin negara untuk Presiden keenam Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono. Rumah terletak di Jalan Mega Kuningan Timur VII, Jakarta Selatan. Gambar diambil pada Selasa (31/1/2017).
EditorAmir Sodikin

Solihun menganggap Pemprov DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Ahok tidak memperhatikan kondisi jalan di lingkungan tempat tinggalnya.

Berdasarkan pantauan Kompas.com, jalan di sana belum diaspal. Jalan terlihat becek karena masih beralaskan tanah basah dengan pasir dan kerikil. Terlihat banyak kubangan terbentuk akibat banyak lubang di sana.

Solihun mengaku berulang kali meminta perbaikan jalan kepada kelurahan setempat.

"Beberapa kali kami minta (perbaikan jalan), dibilangnya enggak bisa dari kelurahan karena (status kepemilikan) lahannya," ujar Solihun kepada Ahok di Sekretariat RT 010, Jatinegara, Cakung, Jakarta Timur, Senin (6/2/2017).

Baca selengkapnya di sini. 

Baca juga: Ahok: Aku Jangan "Dibandingin" sama Pak Prabowo, Dia Capres... 


5. Pendemo di Rumah SBY Bagikan Selebaran Berisi Penolakan Isu SARA

Pihak kepolisian telah mengidentifikasi pendemo di rumah Presiden keenam Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, Senin (6/2/2017).

Kasubag Humas Polres Metro Jakarta Selatan Kompol Purwanta mengatakan, ratusan pendemo itu merupakan massa Silaturahmi Mahasiswa Indonesia yang juga peserta Jambore di Cibubur.

"Massa aksi datang menggunakan 11 bus besar dan 2 kopaja," ujar Purwanta saat dihubungi, Senin.

Massa yang datang sekitar pukul 14.30 itu berorasi di rumah SBY di Jalan Mega Kuningan Timur VII, Setiabudi, Jakarta Selatan.

Menurut Purwanta, mereka membentangkan spanduk yang memuat tulisan "Terapkan nilai-nilai Pancasila kepada pendidikan", "Menolak dan lawan isu SARA upaya adu domba rakyat", dan "Tolak dan lawan organisasi radikal yang anti-Pancasila, NKRI harga mati".

"Massa aksi juga membagikan selebaran yang bertuliskan menolak dan lawan isu SARA dan seluruh upaya adu domba rakyat," ujar Purwanta.

Baca selengkapnya di sini. 

Baca juga:
Polisi Bubarkan Pengunjuk Rasa di Depan Rumah SBY 
Wiranto Sarankan SBY Lapor Polisi soal Demo di Depan Rumahnya 
Yenny Wahid Sayangkan Pernyataan SBY Terkait Aksi Unjuk Rasa 
SBY Dinilai Mainkan Dramaturgi Politik untuk Raih Simpati 

 

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Satgas Sebut Belum Ada Gejala Khas yang Timbul akibat Varian Omicron

Satgas Sebut Belum Ada Gejala Khas yang Timbul akibat Varian Omicron

Nasional
Megaproyek IKN, 20.000 Masyarakat Adat Tersingkir dan Dugaan 'Hapus Dosa' Korporasi

Megaproyek IKN, 20.000 Masyarakat Adat Tersingkir dan Dugaan "Hapus Dosa" Korporasi

Nasional
Bahaya Omicron di Depan Mata, Kasus Aktif Covid-19 Naik 3.000 Hanya dalam Sepekan

Bahaya Omicron di Depan Mata, Kasus Aktif Covid-19 Naik 3.000 Hanya dalam Sepekan

Nasional
15 Tahun Aksi Kamisan dan Negara yang Seakan Lari dari Tanggung Jawab

15 Tahun Aksi Kamisan dan Negara yang Seakan Lari dari Tanggung Jawab

Nasional
Kasus Covid-19 Terus Meningkat, TNI dan Polri Diminta Siapkan Isolasi Terpusat di Tiap Daerah

Kasus Covid-19 Terus Meningkat, TNI dan Polri Diminta Siapkan Isolasi Terpusat di Tiap Daerah

Nasional
Kala Hakim Itong 'Ngamuk', Sebut KPK Omong Kosong dan Mendongeng Saat Ditetapkan Tersangka Suap Rp 1,3 Miliar

Kala Hakim Itong "Ngamuk", Sebut KPK Omong Kosong dan Mendongeng Saat Ditetapkan Tersangka Suap Rp 1,3 Miliar

Nasional
Kasus Hakim PN Surabaya, Ini Kode Komunikasi yang Dipakai Para Tersangka..

Kasus Hakim PN Surabaya, Ini Kode Komunikasi yang Dipakai Para Tersangka..

Nasional
Polisi Diminta Tak Diam soal Dugaan Pelat Polri Arteria, IPW: Ini Pelanggaran Hukum

Polisi Diminta Tak Diam soal Dugaan Pelat Polri Arteria, IPW: Ini Pelanggaran Hukum

Nasional
Aturan Terbaru Kemenkes: Pasien Covid-19 Omicron Bisa Isoman, Berikut Syaratnya

Aturan Terbaru Kemenkes: Pasien Covid-19 Omicron Bisa Isoman, Berikut Syaratnya

Nasional
Jadi Tersangka KPK, Hakim Itong Isnaini Punya Harta Rp 2,1 Miliar

Jadi Tersangka KPK, Hakim Itong Isnaini Punya Harta Rp 2,1 Miliar

Nasional
KPK Duga Hakim Itong Terima Suap dari Pihak Lain yang Beperkara di PN Surabaya

KPK Duga Hakim Itong Terima Suap dari Pihak Lain yang Beperkara di PN Surabaya

Nasional
Hakim PN Surabaya Itong Isnaini Ditahan di Rutan KPK

Hakim PN Surabaya Itong Isnaini Ditahan di Rutan KPK

Nasional
Warga Mengeluh Belum Dapat Bantuan hingga 3 Hari Kebanjiran, Ini Kata Sekcam Benda

Warga Mengeluh Belum Dapat Bantuan hingga 3 Hari Kebanjiran, Ini Kata Sekcam Benda

Nasional
Perang Lawan Covid-19 di Jabodetabek yang Capaian Vaksinasinya TInggi, Luhut Minta Percepat Booster

Perang Lawan Covid-19 di Jabodetabek yang Capaian Vaksinasinya TInggi, Luhut Minta Percepat Booster

Nasional
Saat Arteria Dahlan Sebut Pelat Mobil Mirip Polisi Hanya Tatakan, tapi Terdaftar di Sistem

Saat Arteria Dahlan Sebut Pelat Mobil Mirip Polisi Hanya Tatakan, tapi Terdaftar di Sistem

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.