Kompas.com - 22/12/2016, 15:18 WIB
|
EditorKrisiandi

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Wahid Foundation Yenny wahid berpendapat, saat ini ruang publik dipenuhi retorika atau gagasan intoleransi. Gagasan tersebut, menurut Yenny, menjadi pintu masuk maraknya aksi radikalisme.

Oleh sebab itu, dia berpendapat seharusnya masyarakat moderat ikut memenuhi ruang publik dengan gagasan toleransi sebagai tandingan pemikiran intoleransi.

"Jika intoleransi dibiarkan maka ruang publik diisi dengan gagasan intoleran. Kalau intoleransi didiamkan saja maka ruang publik akan diisi oleh retorika gerakan intoleran. Masyarakat toleran harus mengisi ruang publik ini juga," ujar Yenny dalam diskusi Darurat Keindonesiaan dalam Intoleransi di kantor Wahid Institute, Matraman, Jakarta Pusat, Kamis (22/12/2016).

Yenny menuturkan, berdasarkan survei Wahid Foundation terkait intoleransi, yang dilaksanakan pada Maret-Mei 2016, disimpulkan bahwa kampanye massif punya peran dalam mengubah perspektif atau pola pikir orang menjadi radikal.

Kampanye bernada unjaran kebencian itu menyebar dalam berbagai medium, dari mulai media sosial hingga khotbah di rumah-rumah ibadah.

Hal tersebut, kata Yenny, diperparah lagi dengan lemahnya penegakan hukum terhadap pelaku penyebar ujaran kebencian.

"Banyak khotbah yang tidak terfilter, sementara daya berpikir kritis masyarakat umumnya masih sangat rendah," kata Yenny.

Berdasarkan survei Wahid Foundation, dari sisi radikalisme, sebanyak 7,7 persen dari 150 juta umat Islam bersedia melakukan tindakan radikal bila ada kesempatan dan sebanyak 0,4 persen justru pernah melakukan tindakan radikal.

Namun, Yenny mengingatkan meski hanya sebesar 7,7 persen, persentase tersebut cukup mengkhawatirkan.

Sebab persentase tersebut menjadi proyeksi dari 150 juta umat Islam Indonesia. Artinya jika diproyeksikan, terdapat sekitar 11 juta umat Islam Indonesia yang bersedia bertindak radikal.

Sementara itu, 72 persen umat Islam Indonesia menolak untuk berbuat radikal seperti melakukan penyerangan terhadap rumah ibadah pemeluk agama lain atau melakukan sweeping tempat yang dianggap bertentangan dengan syariat Islam.

"Bisa kita bayangkan ada sekitar 11 juta orang yang bersedia bertindak radikal. Itu sama dengan jumlah umat Islam di Jakarta dan Bali yang siap bertindak radikal, itu mengkhawatirkan," tutur Yenny.

Kompas TV 26 Ribu Warga Tolak Radikalisme
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.