Duet Jakob Oetama-PK Ojong Lahirkan "Intisari", Benih yang Berlandaskan Cita-cita

Kompas.com - 28/09/2016, 05:34 WIB
Generasi pertama Intisari, dari kiri ke kanan: Jakob Oetama, PK Ojong, Adi Subrata, dan Irawati Dokumen KompasGenerasi pertama Intisari, dari kiri ke kanan: Jakob Oetama, PK Ojong, Adi Subrata, dan Irawati
Penulis Bayu Galih
|
EditorBayu Galih

Pengantar Redaksi:

Pendiri Kompas Gramedia, Jakob Oetama, genap berusia 85 tahun pada hari ini, Selasa (27/9/2016).

 

Sebagai sebuah refleksi atas nilai yang telah diwariskan Jakob Oetama, redaksi Kompas.com menyajikan rangkaian tulisan mengenai perjalanan hidup Jakob Oetama.

Tulisan tidak hanya merangkum perjalanan hidupnya dalam membesarkan Kompas Gramedia yang didirikannya, namun juga warna kehidupannya sebagai seorang pendidik, seorang wartawan, dan seorang pengusaha.

Meski begitu, peran terakhirnya selalu dijalani dengan kerendahan hati. Sebab, seorang Jakob Oetama lebih senang dan bangga disebut wartawan, ketimbang pengusaha.

--

Duet Jakob-Ojong

Jakob Oetama percaya bahwa kehidupan memiliki jalan yang telah diatur oleh Sang Maha Kuasa. Providentia Dei.

Karena itu, meskipun cita-cita menjadi pastor atau guru akhirnya ditinggalkan, namun itu tidak membuat Jakob menyesali pilihannya menjadi wartawan.

Sejumlah nama di ranah jurnalistik membuat Jakob tidak menyesali pilihan tersebut. Beberapa nama itu di antaranya adalah Pastor JW Oudejans OFM, Rosihan Anwar, dan Petrus Kanisius Ojong.

Jakob mengaku banyak belajar untuk mengasah kepekaan intelektual dan nurani kemanusiaan dari mereka.

"Saya banyak belajar ini, dan tidak menyesal ketika beralih dari cita-cita guru ke wartawan," tutur Jakob, dikutip dari buku Syukur Tiada Akhir (2011).

Namun, sosok yang begitu melekat dan dekat dalam perjalanan hidup Jakob adalah PK Ojong.

Tuhan memang mempertemukan keduanya sebagai duet di balik berdirinya grup Kompas Gramedia. Namun, jalan hidup Jakob dan Ojong berkelindan sebelum keduanya bekerja sama untuk membangun perusahaan. 

Keduanya bertemu saat menjalankan tugas sebagai wartawan. Jakob aktif mengelola majalah Penabur. Sedangkan Ojong memimpin Keng Po dan Star Weekly. Kesamaan pandangan politik juga membuat keduanya mudah berinteraksi.

Hingga suatu saat, Ojong mengajak Jakob menemui Pemimpin Umum Star Weekly, Khoe Woen Sioe. Itu terjadi pada April 1961, sebelum Jakob lulus dari Universitas Gadjah Mada.

Kepada Khoe, Ojong menilai Jakob sebagai sosok tepat untuk menggantikan dia sebagai pemimpin redaksi Star Weekly. Ojong saat itu dikenal sebagai sosok yang tidak disukai pemerintah, dan ini menjadikan Star Weekly memiliki tanda-tanda akan ditutup.

Akan tetapi, Jakob menolak tawaran itu dengan alasan masih fokus untuk menyelesaikan kuliah.

Tak lama kemudian, Ojong kembali menemui Jakob. Kali ini dengan tawaran lain, untuk membuat majalah baru.

Ojong menawarkan konsep majalah serupa Reader's Digest. Konten akan diisi bermacam sari pati ilmu pengetahuan dan teknologi dunia.

Konsep itu kemudian melahirkan majalah Intisari pada Agustus 1963. Meski berlandaskan kemanusiaan, Intisari juga dihadirkan sebagai pandangan politik keduanya yang menolak belenggu masuknya informasi dari luar.

Intisari dimaksudkan untuk menjadi pendobrak politik isolasi yang dilakukan pemerintahan Soekarno saat itu. Namun, bukan dengan tulisan yang menyerang, melainkan "tedeng aling-aling".

Ojong dan Jakob merasa perlu hadirnya media yang memuat artikel yang membuka mata dan telinga masyarakat. Sebuah media yang kaya dengan gaya human story, penuh nilai kemanusiaan.

Biji sesawi

Setelah izin diproses, maka terbitlah Intisari edisi pertama pada 17 Agustus 1963. Terbit dengan desain kompak berukuran 14 x 17,5 sentimeter dan setebal 128 halaman, edisi perdana dibidani tiga orang.

Selain Jakob dan Ojong, orang ketiga di balik lahirnya Intisari adalah J Adisubrata.

Edisi kedua, Intisari mendapat tambahan tenaga baru, yaitu Irawati. Untuk memperkaya isi, Jakob dan Ojong menghubungi sejumlah orang yang benar-benar menguasai bidangnya.

Nama ekonom Widjojo Nitisastro, yang nantinya dikenal sebagai arsitek utama perekonomian Orde Baru, bersedia menyumbang tulisan.

Tidak hanya itu, duet Jakob dan Ojong juga tidak ragu keluar-masuk kampung demi menemui ahli ilmu purbakala dan sastra Jawa Kuno, RM Ng Poerbatjaraka.

Kerja keras dalam membangun Intisari dimaknai Jakob seperti menanam biji sesawi. Berawal dari cita-cita teguh, "biji sesawi" itu kemudian tumbuh melahirkan "karya-karya" lain.

Intisari menjadi benih yang kemudian menginspirasi untuk melahirkan "taman bunga", yang kemudian dikenal sebagai kelompok Kompas Gramedia.

"Semua berkat kerja keras, kerja bersama disertai doa. Inilah sintesa kerja keras dan doa," tutur Jakob.

***

Baca juga rangkaian tulisan Jakob Oetama yang lain:

 

- Jakob Oetama, Bermula sebagai Seorang Guru
- Persimpangan Pilihan Jakob Oetama, Menjadi Guru atau Wartawan...

Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Epidemiolog Khawatir Narasi Vaksinasi Gotong Royong Membuat Pemerintah Abaikan 3T

Epidemiolog Khawatir Narasi Vaksinasi Gotong Royong Membuat Pemerintah Abaikan 3T

Nasional
KPK Masih Periksa Nurdin Abdullah dan 5 Orang yang Terjerat OTT di Sulsel

KPK Masih Periksa Nurdin Abdullah dan 5 Orang yang Terjerat OTT di Sulsel

Nasional
Soal Permenkes 10/2021, YLBHI Nilai Pelibatan Pihak Ketiga Rawan Muncul Korupsi

Soal Permenkes 10/2021, YLBHI Nilai Pelibatan Pihak Ketiga Rawan Muncul Korupsi

Nasional
UPDATE 27 Februari: 55.495 Spesimen Covid-19 Diperiksa dalam Sehari

UPDATE 27 Februari: 55.495 Spesimen Covid-19 Diperiksa dalam Sehari

Nasional
UPDATE 27 Februari: Ada 78.746 Suspek Terkait Covid-19

UPDATE 27 Februari: Ada 78.746 Suspek Terkait Covid-19

Nasional
UPDATE 27 Februari: Tambah 7.382, Pasien Sembuh dari Covid-19 Capai 1.136.054

UPDATE 27 Februari: Tambah 7.382, Pasien Sembuh dari Covid-19 Capai 1.136.054

Nasional
UPDATE 27 Februari: 1.616.165 Tenaga Kesehatan Disuntik Vaksin Covid-19 Dosis Pertama

UPDATE 27 Februari: 1.616.165 Tenaga Kesehatan Disuntik Vaksin Covid-19 Dosis Pertama

Nasional
UPDATE 27 Februari: 35.981 Orang Meninggal akibat Covid-19 di Indonesia

UPDATE 27 Februari: 35.981 Orang Meninggal akibat Covid-19 di Indonesia

Nasional
UPDATE 27 Februari: Ada 157.039 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia

UPDATE 27 Februari: Ada 157.039 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia

Nasional
UPDATE 27 Februari: 1.329.074 Kasus Covid-19 di Indonesia, Tambah 6.208

UPDATE 27 Februari: 1.329.074 Kasus Covid-19 di Indonesia, Tambah 6.208

Nasional
Kemenkes Imbau Perusahaan Perhatikan Kesehatan Karyawan Sebelum Disuntik Vaksin Covid-19

Kemenkes Imbau Perusahaan Perhatikan Kesehatan Karyawan Sebelum Disuntik Vaksin Covid-19

Nasional
Kemenkes Beri 6 Tips Sebelum Disuntik Vaksin Covid-19

Kemenkes Beri 6 Tips Sebelum Disuntik Vaksin Covid-19

Nasional
Ketua PDI-P Sulsel: Nurdin Abdullah Tak Tahu-menahu atas OTT yang Menimpanya

Ketua PDI-P Sulsel: Nurdin Abdullah Tak Tahu-menahu atas OTT yang Menimpanya

Nasional
Gubernur Sulsel Ditangkap KPK, Busyro Muqoddas: Bukti Radikalisme Korupsi

Gubernur Sulsel Ditangkap KPK, Busyro Muqoddas: Bukti Radikalisme Korupsi

Nasional
Bantah Info Puluhan Wartawan Terkapar, Kemenkes: 5 Orang Diobservasi karena Keluhan Pasca-vaksinasi Covid-19

Bantah Info Puluhan Wartawan Terkapar, Kemenkes: 5 Orang Diobservasi karena Keluhan Pasca-vaksinasi Covid-19

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X