Ethnographic Journalism, Ketika Wartawan dan Ilmuwan Menjadi Satu Tubuh

Kompas.com - 13/08/2016, 13:57 WIB
EditorAmir Sodikin

Crammer dan David (2004), seperti dikutip oleh Hermann di dalam tulisannya, menjelaskan bahwa wartawan etnografi harus mencari “inner truth” dari kelompok tertentu melalui metode meleburkan diri bersama para informan, dan sekaligus menjadi seperti mereka.

Setelah menjadi “orang lain” selama melakukan observasi, seorang wartawan akan bisa merasakan dan menemukan kebenaran dari apa yang dialami oleh pihak yang dia liput.

Setelah itu, dia bisa memberitakan apa adanya, bukan hanya berdasarkan apa yang ia lihat dan dengar, namun juga berdasarkan apa yang ia rasakan. Di sinilah letak subyektivitas ethnographic journalism yang menggugat prinsip obyektivitas jurnalisme pada umumnya.

Gugatan terhadap obyektivitas ini membawa kita kepada gugatan kedua, yaitu gugatan terhadap sudut pemberitaan (angle). Pada umumnya, jurnalisme tidak pernah lepas dari sudut pemberitaan.

Bahkan, kadang kala, wartawan seperti sudah “membuat” berita sebelum ia berangkat meliput. Observasi dan wawancara “sekedar” menjadi cara untuk mengonfirmasi arah pemberitaan yang telah dirancang sebelumnya.

Etnografi menentang hal itu, demikian Hermann menulis di dalam artikelnya. Oleh karena itu, seorang wartawan yang mengadopsi metode etnografi tidak akan memiliki sudut berita apapun ketika berangkat meliput.

Ia mendatangi, mengamati, dan menjadi seperti narasumber karena ia benar-benar ingin tahu. Ketiadaan sudut pemberitaan itu akan dengan sendirinya menghilangkan sikap curiga (skeptis) yang menjadi ciri khas wartawan.

Ini adalah gugatan ketiga ethnographic journalism. Sebagai gantinya, sifat “skeptis” itu diganti dengan “empati”.

Artinya, seorang wartawan etnografi akan menemui narasumber tidak untuk mengonfirmasi kecurigaan atau sudut pemberitaan, melainkan untuk berempati dan merasakan. Kata kunci “empati” ini akan mengarahkan wartawan-wartawan etnografi kepada liputan-liputan yang berkaitan dengan kepentingan publik.

Ketiga gugatan di atas (ketiadaan obyektivitas, sudut pemberitaan, dan skeptisisme) akan memunculkan gugatan keempat, yaitu jangka waktu liputan yang sangat lama.

Hal itu terlihat dari kisah Ted Conover yang memerlukan waktu hingga satu tahun untuk bisa benar-benar merasakan hidup sebagai seorang sipir penjara dan menemukan kebenaran di dalamnya.

Ethnographic journalism memang menawarkan sentuhan baru bagi para wartawan. Namun, yang namanya sentuhan tidak selalu menyenangkan.

Sentuhan kadang dianggap sebagai pelecehan. Tidak ada yang bisa menyalahkan jika kalangan jurnalis merasa terlecehkan oleh gugatan yang dibawa oleh ethnographic journalism.

Mereka yang percaya bahwa jurnalisme harus memiliki angle, bersifat obyektif, singkat, dan cepat, tentu akan menolak ethnographic journalism. Namun, pada saat yang sama, tidak ada yang juga bisa menyalahkan mereka yang mencoba memberikan kesempatan bagi genre baru di dalam jurnalisme ini.

Siapa tahu, ethnographic journalism adalah solusi untuk mengganti jurnalisme yang penuh kepentingan dan jurnalisme dangkal karena hanya menuruti rutinitas isu secara tergesa-gesa.

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pemerintah Alokasikan Rp 60 Miliar untuk Santunan Tenaga Kesehatan, 34 Persen Telah Digunakan

Pemerintah Alokasikan Rp 60 Miliar untuk Santunan Tenaga Kesehatan, 34 Persen Telah Digunakan

Nasional
117 Calon Hakim MA Lulus Administrasi, Proses Seleksi Masuk Tahap II

117 Calon Hakim MA Lulus Administrasi, Proses Seleksi Masuk Tahap II

Nasional
Anak dan Menantu Jokowi di Panggung Pilkada 2020

Anak dan Menantu Jokowi di Panggung Pilkada 2020

Nasional
[POPULER NASIONAL] Ancaman Kapolri untuk Anak Buahnya | Nama Cucu Keempat Presiden

[POPULER NASIONAL] Ancaman Kapolri untuk Anak Buahnya | Nama Cucu Keempat Presiden

Nasional
Menpan RB: Seleksi CPNS Dibuka Kembali pada 2021 dengan Formasi Terbatas

Menpan RB: Seleksi CPNS Dibuka Kembali pada 2021 dengan Formasi Terbatas

Nasional
Polemik Aturan Proses Hukum Jaksa Harus Seizin Jaksa Agung, Ramai Dikritik hingga Dicabut

Polemik Aturan Proses Hukum Jaksa Harus Seizin Jaksa Agung, Ramai Dikritik hingga Dicabut

Nasional
Kejagung Cari Penyebar Dokumen Pedoman soal Proses Hukum Jaksa Harus Seizin Jaksa Agung

Kejagung Cari Penyebar Dokumen Pedoman soal Proses Hukum Jaksa Harus Seizin Jaksa Agung

Nasional
SBY: Perang Lawan Covid-19 Masih Panjang

SBY: Perang Lawan Covid-19 Masih Panjang

Nasional
Ancaman terhadap Petani dan Potensi Konflik Agraria dalam RUU Cipta Kerja

Ancaman terhadap Petani dan Potensi Konflik Agraria dalam RUU Cipta Kerja

Nasional
SBY: Pandailah Alokasikan APBN, Apalagi Kita Tambah Utang..

SBY: Pandailah Alokasikan APBN, Apalagi Kita Tambah Utang..

Nasional
KPA Sebut RUU Cipta Kerja Berpotensi Memperparah Konflik Agraria

KPA Sebut RUU Cipta Kerja Berpotensi Memperparah Konflik Agraria

Nasional
Surabaya Berubah Jadi Zona Oranye, Satgas Sebut Penanganan Kasus Membaik

Surabaya Berubah Jadi Zona Oranye, Satgas Sebut Penanganan Kasus Membaik

Nasional
MAKI Laporkan Dugaan Komunikasi Pejabat Kejagung dengan Djoko Tjandra

MAKI Laporkan Dugaan Komunikasi Pejabat Kejagung dengan Djoko Tjandra

Nasional
Tak Lengkapi Syarat Ini, Sekolah di Zona Hijau dan Kuning Batal Beroperasi

Tak Lengkapi Syarat Ini, Sekolah di Zona Hijau dan Kuning Batal Beroperasi

Nasional
Aturan soal Proses Hukum Jaksa Harus Seizin Jaksa Agung Akhirnya Dicabut

Aturan soal Proses Hukum Jaksa Harus Seizin Jaksa Agung Akhirnya Dicabut

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X