Masinton Ungkap Proses Konsolidasi Mahasiswa untuk Jatuhkan Soeharto

Kompas.com - 21/05/2016, 12:12 WIB
KOMPAS.com/NABILLA TASHANDRA Anggota Komisi III DPR RI Masinton Pasaribu saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (6/10/2015).

JAKARTA, KOMPAS.com - Peristiwa pendudukan Gedung DPR/MPR RI oleh mahasiswa pada 18 Mei 1998 merupakan salah satu peristiwa bersejarah dalam proses pelengseran Soeharto dari tampuk kekuasaan.

Dalam peristiwa ini, ribuan mahasiswa dari berbagai kampus bergabung menduduki gedung DPR/MPR untuk mendesak Soeharto mundur. Peristiwa tersebut tentu tidak terjadi begitu saja tanpa ada sebab yang melatarbelakanginya.

Seorang politisi dari Partai Demokasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) yang saat itu juga menjadi salah satu pelaku sejarah, Masinton Pasaribu, menceritakan rangkaian peristiwa sebelum mahasiswa menduduki gedung DPR/MPR RI kepada Kompas.com.

Masinton menuturkan, sebelum aksi turun ke jalan hingga peristiwa pendudukan gedung DPR, mahasiswa telah melakukan pra-kondisi di kampus-kampus dengan melakukan aksi mimbar bebas.


Dalam aksi mimbar bebas tersebut siapa saja bisa menyampaikan aspirasinya dengan berorasi.

Aksi mimbar bebas di kampus-kampus dilakukan sejak krisis moneter melanda Indonesia akhir tahun 1997, juga ketika Soeharto ditetapkan kembali menjadi presiden melalui sidang umum MPR tahun 1997.

Mahasiswa mulai melakukan penolakan atas pengangkatan kembali Soeharto sebagai presiden. Keadaan diperparah dengan kenaikan harga baham pokok dan bahan bakar minyak (BBM) akibat krisis moneter.

"Kami mahasiswa saat itu semakin giat melakukan mimbar bebas di masing-masing kampus. Saat itu saya masih menjadi mahasiswa di Sekolah Tinggi Hukum Indonesia," tutur Masinton, saat ditemui di kawasan Thamrin, Selasa (17/5/2016).

Seluruh gerakan mahasiwa, kata Masinton, terkonsentrasi di beberapa simpul pergerakan seperti Komunitas Aksi Mahasiswa se-Jabodetabek, Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Se-Jakarta (FKSMJ) dan beberapa simpul lainnya.

"Ada banyak simpul mahasiswa, tidak tunggal," ujarnya.

Saat itu Masinton dan beberapa aktivis mahasiswa mulai bergabung dengan mahasiswa di kampus-kampus lain seperti Atma Jaya, Universitas Kristen Indonesia, Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (sekarang Universitas Negeri Jakarta), Universitas Indonesia, Trisakti, Universitas Tarumanegara, Universitas Mercubuana dan lain sebagainya.

Semua mahasiswa di masa itu melakukan solidaritas dengan mendatangi kampus-kampus yang melakukan mimbar bebas. Dari mimbar bebas tersebut kemudian terbangun jaringan dan solidaritas antarkampus.

Aktivis mahasiswa mulai saling berjejaring satu sama lain yang direkatkan oleh satu tujuan, menjatuhkan Soeharto.

Setelah mimbar bebas berlangsung selama beberapa bulan, mahasiswa mulai merasa protes dari dalam kampus saja tidak cukup, tapi juga harus disuarakan dengan turun ke jalan.

"Ketika seluruh kampus yang ada sudah terkonsolidasi dengan baik, kami memutuskan untuk turun ke jalan," ucap Masinton.

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorBayu Galih
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Wiranto: Rizieq Shihab Tak Bisa Pulang karena Punya Masalah Pribadi

Wiranto: Rizieq Shihab Tak Bisa Pulang karena Punya Masalah Pribadi

Nasional
Pemerintah Bentuk Satgas Wacana Pemulangan WNI Simpatisan ISIS di Suriah

Pemerintah Bentuk Satgas Wacana Pemulangan WNI Simpatisan ISIS di Suriah

Nasional
Diperiksa Riza Kasus BLBI, Rizal Ramli Dikonfirmasi soal Misrepresentasi

Diperiksa Riza Kasus BLBI, Rizal Ramli Dikonfirmasi soal Misrepresentasi

Nasional
Pengusaha Didakwa Suap Bupati Talaud Tas dan Perhiasan Total Rp 595,8 Juta

Pengusaha Didakwa Suap Bupati Talaud Tas dan Perhiasan Total Rp 595,8 Juta

Nasional
Prabowo Kumpulkan Dewan Pembina di Hambalang, Bahas Hasil Pertemuan dengan Jokowi

Prabowo Kumpulkan Dewan Pembina di Hambalang, Bahas Hasil Pertemuan dengan Jokowi

Nasional
Jokowi Pastikan Blok Masela Serap Banyak Tenaga Kerja Lokal

Jokowi Pastikan Blok Masela Serap Banyak Tenaga Kerja Lokal

Nasional
Pengacaranya Serang Hakim PN Jakarta Pusat, Tomy Winata Percepat Kepulangan ke Indonesia

Pengacaranya Serang Hakim PN Jakarta Pusat, Tomy Winata Percepat Kepulangan ke Indonesia

Nasional
Menhan Ryamizard: Stop Pelonco, Nggak Ada Gunanya!

Menhan Ryamizard: Stop Pelonco, Nggak Ada Gunanya!

Nasional
Pengacaranya Serang Hakim PN Jakarta Pusat, Tomy Winata Minta Maaf

Pengacaranya Serang Hakim PN Jakarta Pusat, Tomy Winata Minta Maaf

Nasional
Janji Jokowi soal Dana Abadi Kebudayaan Diharapkan Jadi Pendukung Kegiatan Komunitas Seni

Janji Jokowi soal Dana Abadi Kebudayaan Diharapkan Jadi Pendukung Kegiatan Komunitas Seni

Nasional
Gerindra Incar Kursi Ketua MPR, Ace Hasan Sebut Golkar Lebih Pantas

Gerindra Incar Kursi Ketua MPR, Ace Hasan Sebut Golkar Lebih Pantas

Nasional
Wiranto: Akhir-akhir Ini Pemerintah Hadapi Kondisi Rawan Keamanan

Wiranto: Akhir-akhir Ini Pemerintah Hadapi Kondisi Rawan Keamanan

Nasional
Tomy Winata Menyesali Pengacaranya Serang Hakim PN Jakarta Pusat

Tomy Winata Menyesali Pengacaranya Serang Hakim PN Jakarta Pusat

Nasional
Rekonsiliasi, Fraksi Gerindra Usulkan Gerindra Ketua MPR, PDI-P Ketua DPR

Rekonsiliasi, Fraksi Gerindra Usulkan Gerindra Ketua MPR, PDI-P Ketua DPR

Nasional
Menyerang Hakim dalam Persidangan, Apa Hukumannya?

Menyerang Hakim dalam Persidangan, Apa Hukumannya?

Nasional
Close Ads X