Kompas.com - 16/10/2014, 10:31 WIB
Anggota Komisi III DPR-RI, Ruhut Sitompul, menghadiri rapat dengar pendapat dengan Komnas HAM di Gedung DPR/MPR-RI, Senayan, Jakarta, Senin (21/2/2011).  TRIBUN NEWS/DANY PERMANA Anggota Komisi III DPR-RI, Ruhut Sitompul, menghadiri rapat dengar pendapat dengan Komnas HAM di Gedung DPR/MPR-RI, Senayan, Jakarta, Senin (21/2/2011).
|
EditorSandro Gatra


JAKARTA, KOMPAS.com
- Juru Bicara Partai Demokrat Ruhut Sitompul berang mendengar kritikan terhadap rencana Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyambut Joko Widodo (Jokowi) di Istana Negara setelah prosesi pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih, Senin (20/10/2014). Menurut Ruhut, para pengkritik tersebut tak mengerti etika dan budaya Indonesia.

"Yang mengkritik itu enggak tahu diri, jangan semuanya salah SBY. Kalau ada pengamat yang mengkritik, itu namanya pengamat sontoloyo," kata Ruhut, di Kompleks Gedung Parlemen, Jakarta, Kamis (16/10/2014).

Ruhut menjelaskan, apa yang dilakukan SBY adalah upaya membangun kultur di masa peralihan kepemimpinan. Ia menilai tak ada hal yang salah, khususnya ketika dilihat dari sisi norma dan budaya ketimuran.

"Jangan lihat sisi tata negaranya, tapi lihat etika dan sopan santunnya. Memangnya ketika Jokowi (jadi) presiden, SBY bisa diusir seenaknya?" ucap Ruhut.

SBY akan menggelar penyambutan untuk Jokowi di Istana Negara dalam seremoni yang dikemas secara militer. Penyambutan itu direncanakan digelar pada Senin petang, setelah Jokowi dilantik menjadi presiden pada pagi harinya.

Rencana SBY menggelar penyambutan untuk Jokowi di Istana Negara itu mengundang tanya. Setelah pelantikan presiden di MPR pada hari itu, SBY bukan lagi tuan rumah di Istana Negara. (Baca: Sebagai Apa SBY Sambut Jokowi di Istana Setelah Pelantikan Presiden?)

"Agak aneh (rencana penyambutan itu). Pak Jokowi sudah dilantik (menjadi presiden). SBY sebagai apa (saat menggelar penyambutan Jokowi itu)?" tanya Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Andalas, Saldi Isra, Kamis.

"Ketika (Jokowi) sudah dilantik, kuasa sudah berpindah dan tuan rumah (di Istana Negara) adalah Jokowi," ujar Saldi.

Ketua Fraksi Partai Nasdem di DPR Victor Laiskodat juga mengkritik rencana tersebut. (baca: Nasdem Kritik Rencana SBY Sambut Jokowi di Istana Setelah Pelantikan)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.