Mengenang Munir, Mengenangkan Luka Sejarah - Kompas.com

Mengenang Munir, Mengenangkan Luka Sejarah

Kompas.com - 08/09/2014, 19:58 WIB
KOMPAS/AGUS SUSANTO Aktivis Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan mengenang 10 Tahun Kasus Munir dalam aksi Kamisan di Istana Negara, Kamis (4/9/2014). Pegiat HAM mendesak penegak hukum untuk membuka kembali kasus Munir untuk menjerat dan menghukum auktor intelektualis di balik pembunuhan Munir.

Catatan Kaki Jodhi Yudono

Minggu 7 September 2014, peringatan mengenang kepergian tokoh HAM Munir Said Thalib digelar di berbagai tempat. Ya, pada 7 September sepuluh tahun lalu, tepatnya 7 September 2004, lelaki berdarah Aab yang akrab disapa Munir itu wafat dalam perjalanan menuju Amsterdam.

Di atas langit Rumania, atau dua jam sebelum mendarat di Bandara Schipol Amsterdam, Munir menghembuskan nafas terakhir, setelah berjam-jam lamanya dalam penerbangan tersebut dia buang-buang air. Hanya beralaskan selimut di lantai pesawat Garuda Indonesia nomor penerbangan GA 974 tujuan Amsterdam, Munir menemui takdirnya, meninggal di
negeri jauh, tanpa didampingi keluarga dan orang-orang terdekatnya.

Waktu menunjuk pukul 05.10 GMT atau 12.10 WIB, ketika sarapan masih berlangsung dan lampu kabin masih menyala, Madjib, salah seorang kru Garuda melangkahkan kaki mengunjungi “tempat tidur” Munir. Di depan kursi 4D-E, dia melihat tubuh Munir dalam posisi miring menghadap kursi, mulutnya mengeluarkan air liur tidak berbusa, dan telapak
tangannya membiru. Dia memegang tangan Munir dan mendapati rasa dingin. Madjib yang kaget bergegas menuju kursi seorang dokter bernama dr. Tarmizi, yang dikenal Munir menjelang penerbangan. Dokter memegang pergelangan tangan Munir sambil tangan satunya menepuk-nepuk punggung. Dia berulang-ulang berujar, “Pak Munir… Pak Munir….“ Akhirnya,
dokter Tarmizi memandang Madjib. Dr. Tarmizi berkata pelan, “Pak Munir meninggal… Kok secepat ini, ya…. Kalau cuma muntaber, manusia bisa tahan tiga hari.” Madjib meminta dua kawannya, Bondan dan Asep membantunya mengangkat tubuh kaku Munir ke tempat yang lebih baik: lantai depan kursi 4J-K. Munir berbaring di atas dua lembar selimut, kedua matanya dipejamkan oleh Bondan, tubuhnya ditutupi selimut.

Bondan dan Asep membaca surat Yassin di depan jenazah Munir Said Thalib, empat puluh ribu kaki di atas tanah Rumania.

Pada tanggal 12 November 2004 dikeluarkan kabar bahwa polisi Belanda (Institut Forensik Belanda) menemukan jejak- jejak senyawa arsenikum setelah otopsi. Hal ini juga dikonfirmasi oleh polisi Indonesia. Belum diketahui siapa yang telah meracuni Munir, meskipun ada yang menduga bahwa oknum-oknum tertentu memang ingin menyingkirkannya.

Pada 20 Desember 2005 Pollycarpus Budihari Priyanto dijatuhi vonis 14 tahun hukuman penjara atas pembunuhan terhadap Munir. Hakim menyatakan bahwa Pollycarpus, seorang pilot Garuda yang sedang cuti, menaruh arsenik di makanan Munir, karena dia ingin "mendiamkan" pengkritik pemerintah tersebut. Hakim Cicut Sutiarso menyatakan bahwa sebelum pembunuhan Pollycarpus menerima beberapa panggilan telepon dari sebuah telepon yang terdaftar oleh agen intelijen senior, tetapi tidak menjelaskan lebih lanjut. Selain itu Presiden Susilo juga membentuk tim investigasi independen, namun hasil penyelidikan tim tersebut tidak pernah diterbitkan ke publik.

Pada 19 Juni 2008, Mayjen (purn) Muchdi Pr, yang kebetulan juga orang dekat Prabowo Subianto dan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra kala itu, ditangkap dengan dugaan kuat bahwa dia adalah otak pembunuhan Munir. Beragam bukti kuat dan kesaksian mengarah padanya.Namun, pada 31 Desember 2008, Muchdi divonis bebas. Vonis ini sangat kontroversial dan kasus ini tengah ditinjau ulang, serta 3 hakim yang memvonisnya bebas kini tengah diperiksa.

***
Mengapa Munir harus "didiamkan" selama-lamanya? Adakah dia serupa monster bagi aparat keamanan Indonesia waktu itu? Maka, marilah kita telusuri jejak Munir yang juga kerap disapa Cak Munir itu.

Dimulai pada 16 April 1996, saat Munir mendirikan Komosi untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan (KontraS) serta menjadi Koordinator Badan Pekerja di LSM ini. Di lembaga inilah nama Munir mulai bersinar, saat dia melakukan advokasi terhadap para aktivis yang menjadi korban penculikan rezim penguasa Soeharto. Perjuangan Munir tentunya tak luput dari berbagai teror berupa ancaman kekerasan dan pembunuhan terhadap diri dan keluarganya. Usai kepengurusannya di KontraS, Munir ikut mendirikan Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia, Imparsial, di mana ia menjabat sebagai Direktur Eksekutif.

Saat menjabat Koordinator KontraS namanya melambung sebagai seorang pejuang bagi orang-orang hilang yang diculik pada masa itu. Ketika itu dia membela para aktivis yang menjadi korban penculikan Tim Mawar dari Kopassus yang dipimpin oleh Prabowo Subianto.

Atas perjuangannya yang tak kenal lelah, dia pun memeroleh The Right Livelihood Award di Swedia (2000), sebuah penghargaan prestisius yang disebut sebagai Nobel alternatif dari Yayasan The Right Livelihood Award Jacob von Uexkull, Stockholm, Swedia di bidang pemajuan HAM dan Kontrol Sipil terhadap Militer di Indonesia. Sebelumnya, Majalah Asiaweek (Oktober 1999) menobatkannya menjadi salah seorang dari 20 pemimpin politik muda Asia pada
milenium baru dan Man of The Year versi majalah Ummat (1998).

Kasus-Kasus yang pernah ditangani Munir anatara lain; sebagai Penasihat Hukum masyarakat Nipah, Madura, dalam kasus permintaan pertanggungjawaban militer atas pembunuhan tiga petani Nipah Madura, Jawa Timur; 1993. Penasihat Hukum Sri Bintang Pamungkas (Ketua Umum PUDI) dalam kasus subversi dan perkara hukum Administrative Court (PTUN) untuk
pemecatannya sebagai dosen, Jakarta; 1997. Penasihat Hukum Muchtar Pakpahan (Ketua Umum SBSI) dalam kasus subversi, Jakarta; 1997. Penasihat Hukum Dita Indah Sari, Coen Husen Pontoh, Sholeh (Ketua PPBI dan anggota PRD) dalam kasus subversi, Surabaya;1996. Penasihat Hukum mahasiswa dan petani di Pasuruan dalam kasus kerusuhan PT. Chief Samsung;
1995. Penisehat Hukum bagi 22 pekerja PT. Maspion dalam kasus pemogokan di Sidoarjo, Jawa Timur; 1993. Penasihat Hukum DR. George Junus Aditjondro (Dosen Universitas Kristen Satyawacana, Salatiga) dalam kasus penghinaan terhadap pemerintah, Yogyakarta; 1994. Penasihat Hukum dalam kasus hilangnya 24 aktivis dan mahasiswa di Jakarta; 1997-1998.
Penasihat Hukum dalam kasus pembunuhan besar-besaran terhadap masyarakat sipil di Tanjung Priok 1984; sejak 1998. Penasihat Hukum kasus penembakan mahasiswa di Semanggi, Tragedi 1 dan 2; 1998-1999. Anggota Komisi Penyelidikan Pelanggaran HAM di Timor Timur; 1999. Penggagas Komisi Perdamaian dan Rekonsiliasi di Maluku. Penasehat Hukum dan
Koordinator Advokat HAM dalam kasus-kasus di Aceh dan Papua (bersama KontraS).


Sedemikian banyak yang diperbuat Munir untuk membela mereka yang menjadi korban penindasan dan kasus-kasus kemanusiaan bangsa ini. Dan dari sekian kasus, memaksa Munir harus berhadap-hadapan dengan aparat keamanan. Lantaran keberaniannya menanggung risiko, mulai yang berbentuk ancaman fisik hingga pegatnya nyawa, membuat Munir
disegani oleh kawan dan lawan.

Nama Munir kala itu memang menggetarkan mereka yang suka bicara dengan kekerasan. Di lain sisi, Munir adalah kawan sekaligus pembela mereka yang teraniaya. Ini saya rasakan betul saat Jakarta sedang "musim" demonstrasi pada Mei 1998.

Pada sebuah hari di bulan Mei 1998, Ketika demo mahasiswa sedang berlangsung di sekitar Semanggi, saya dan beberapa rekan wartawan yang berlalu di depan gerombolan tentara yang sedang istirahat di jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, diteriaki oleh tentara-tentara muda itu, "Sana lapor ke Munir, kita nggak takut."

Entah apa maksud dari ucapan salah satu tentara yang kemudian diikuti tertawa penuh ejekan itu kepada kami. Tapi saya menangkap, mereka sungguh jeri kepada Munir. Mereka paham, Munir adalah musuh bersama, lantaran sepak terjang Munir barangkali dianggap menjadi penghalang pekerjaan mereka "meneggakkan" keamanan di bumi pertiwi ini.

Kami tentu saja tak melayani guraun sengit para tentara itu. Tapi dalam hati saya, sungguh hebat lelaki berperawakan kecil dengan kumis kemerahan bernama Munir itu. Namanya sudah menjadi momok yang menakutkan bagi pihak keamanan yang berbekal senjata dan kekuasaan.

Munir ya Munir Said Thalib (lahir di Malang, Jawa Timur, 8 Desember 1965). Saya mengenalnya dari kejauhan, meski sekali dua pernah juga bertemu muka dengannya. Pada pertemuan pertama di kawasan Blok M kala itu, saya langsung bersimpati kepadanya. Seorang lelaki dengan nama besar itu sungguh bersahaja. Ke mana-mana berkendara motor sendirian. Sebuah tindakan yang menurut saya cukup ceroboh. Mengingat pekerjaannya yang menantang bahaya. Tapi begitulah Munir, urat takutnya jangan-jangan sudah putus, sehingga tak ada yang perlu ditakuti, meski ancaman yang bisa membahayakan dirinya datang bertubi-tubi.

Saat berdekatan dengannya, saya juga merasakan aura kesederhanaan. Tak ada wangi parfum meruap, juga tak ada hiasan badan seperti arloji atau kalung emas yang jamak dipakai oleh banyak pengacara yang memiliki nama populer seperti dirinya. Dari kawan-kawan yang dekat dengannya, saya mendapat cerita, benda termewah yang pernah dimilikinya hanya
sebuah mobil Toyota Mark II keluaran tahun ’81 seharga sepuluh juta rupiah yang dibelinya secara mencicil. Munir suka mengutak atik soundsystem mobilnya itu, karena dia suka mendengar musik. Munir pun pernah punya impian untuk memiliki studio kedap suara didalam rumahnya agar dia bisa bebas mendengar musik musik kesukaannya. Tapi impian itu
belum pernah tercapai, “Rumah kami pun terlalu sempit untuk ditambah ruangan seperti itu” tutur Suciwati, isteri Munir. Saat sang istri membelikan kemeja di salah satu mall walaupun dengan harga diskon 50%, Munir bukannya senang, malah terlihat stress.

Mengenangkan MUnir, adalah mengenangkan luka sejarah yang tak bisa disembuhkan. Ya, seperti luka-luka lainnya yang begitu banyak menganga di sekujur tubuh negeri ini. Luka "Tragedi 1965", DOM Aceh, Priok, tragedi 27 Juli, tragedi Poso, Sampit, Trisakti, dan lain-lain.

Entahlah, kabut begitu gelap menutupi nyaris semua tragedi kemanusiaan di negeri ini. Termasuk pada kasus pembunuhan Munir. Bahkan Presiden, jabatan tertinggi di negeri ini, seperti tak berdaya ketika berhadapan dengan tragedi kemanusiaan yang menimpa rayatnya. Berapa kali presiden berganti, masih juga hanya sampai pada koma, belum sampai titik.

Semoga penantian Suciwati akan jawaban, siapa sesungguhnya dalang pembunuh suaminya akan terjawab. Tentu, yang mati tak akan kembali, tapi bahwa pertanyaan harus mendapatkan jawaban adalah sebuah keniscayaan. Sebab dari sana, moga-moga akan menyiutkan nyali para pemburu kekuasaan yang tega menghilangkan nyawa seseorang. Selanjutnya, kita pun bisa belajar kembali, bagaimana cara menghargai dan mengormati mereka yang berbeda dari kita.

@JodhiY 


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorJodhi Yudono

Close Ads X