"Nubuat" Nagarakartagama, Kelud, dan Kepemimpinan Nasional

Kompas.com - 02/04/2014, 09:00 WIB
Beberapa wisatawan, Selasa (11/3/2014), melihat kawasan sekitar kawah Gunung Kelud dari jarak sekitar 4 kilometer di jalan utama menuju kawah di Desa Sugihwaras, Ngancar, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Sejak Sabtu pekan lalu, Pemerintah Kabupaten Kediri membuka obyek wisata Kelud meskipun masih dalam radius terbatas 3 kilometer dari kawah. KOMPAS/DEFRI WERDIONOBeberapa wisatawan, Selasa (11/3/2014), melihat kawasan sekitar kawah Gunung Kelud dari jarak sekitar 4 kilometer di jalan utama menuju kawah di Desa Sugihwaras, Ngancar, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Sejak Sabtu pekan lalu, Pemerintah Kabupaten Kediri membuka obyek wisata Kelud meskipun masih dalam radius terbatas 3 kilometer dari kawah.
Penulis Ahmad Arif
|
EditorPalupi Annisa Auliani
KOMPAS.com — TAHUN saka masa memanah surya (1256 Saka atau 1334 Masehi) dia lahir untuk menjadi narpati. Selama dalam kandungan di Kahuripan, telah tampak tanda keluhuran. Gempa bumi, kepul asap, hujan abu, guruh halilintar menyambar-nyambar. Gunung Kampud (Kelud) bergemuruh membunuh durjana, penjahat musnah dari negara. Itulah tanda bahwa Batara Girinata menjelma sebagai Raja Besar....”


Nukilan kitab Nagarakertagama gubahan Prapanca (Slamet Muljana, 2006) itu menyebut letusan Gunung Kelud telah menandai lahirnya raja besar Majapahit, Hayam Wuruk. Presiden Soekarno agaknya memahami betul kisah ini.

Dalam biografi yang ditulis Cindy Adams (1971), Soekarno menggunakan letusan Gunung Kelud pada 1901 untuk membangun ”keistimewaan” dirinya. ”Masih ada pertanda lain ketika aku dilahirkan. Gunung Kelud, yang tidak jauh letaknya dari tempat kami, meletus. Orang meramalkan, ini penyambutan terhadap bayi Soekarno,” kata Soekarno.

Upaya mengaitkan peristiwa alam (makrokosmos) dengan dimensi kemanusiaan (mikrokosmos) memang telah lama dikenal masyarakat nusantara. Kegagalan dan kesuksesan penguasa pada masa lalu sering dikaitkan dengan bagaimana menjalin relasi dengan ”penguasa alam”. Untuk itu, dibutuhkan kecerdasan membaca pertanda dari perilaku alam ini.

Kelud, yang berada di pusaran kebudayaan Jawa, termasuk yang dianggap sarat pertanda, misalnya letusan Kelud pada akhir Juni 1811, yang terjadi sebulan sebelum serbuan Inggris ke nusantara, menandai perubahan besar di Jawa. ”... perubahan besar tampaknya tecermin juga pada peristiwa alam tatkala gunung berapi di Jawa Timur, Gunung Kelud, meletus,” tulis Peter Carey (Kuasa Ramalan, 2011).

Pada 1901, letusan Kelud dianggap menandai awal gerakan politik Indonesia, letusannya pada 1919 menandai awal gerakan Kebangsaan Indonesia dan pada 1966 menandai pergantian Orde Lama menjadi Orde Baru.

Daya ubah

Sebagai penanda, bencana alam kemudian kerap dijadikan titik tolak pergerakan sosial-politik. Sejarawan Sartono Kartodirjo (Pemberontakan Petani Banten, 1966) menyebutkan, letusan Gunung Krakatau di Selat Sunda pada Agustus 1883 mengubah alam pikir masyarakat Banten. ”Tak disangsikan lagi, wabah penyakit ternak, demam, kelaparan, dan disusul letusan Krakatau telah menjadi pukulan hebat penduduk,” tulis Sartono.


Letusan Krakatau, menurut Sartono, mengubur lahan pertanian di bagian barat afdeling Caringin dan Anyer. Kesengsaraan petani ini bertemu dengan gerakan sosial-keagamaan, Ratu Adil, memantik kesadaran rakyat untuk melawan Belanda yang dianggap biang dari segala kesengsaraan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dua bulan setelah letusan Krakatau, kerusuhan pecah di Serang. Seorang serdadu Belanda ditikam, pelakunya kabur di tengah keramaian. Kejadian berulang sebulan kemudian. Serentetan perlawanan terhadap Belanda terus dilakukan hingga pada Juli 1888 pecahlah pemberontakan petani Banten.

Peter Carey juga mencatat, letusan Merapi pada 1822 membangkitkan harapan rakyat akan datangnya Ratu Adil menjelang pecahnya Perang Jawa. Pangeran Diponegoro, yang memimpin perlawanan terhadap Belanda, menurut Carey, menganggap letusan Merapi sebagai penanda bahwa saatnya telah tiba. ”Sambil menyaksikan Gunung (Merapi) terbakar dan bumi bergoyang, ia tersenyum dalam hati karena maklum bahwa peristiwa ini adalah pertanda amarah Allah,” tulis Carey.

Tak bisa dimungkiri, bencana alam yang bersifat katastropik memang memiliki daya ubah. Bukan hanya perubahan pada bentang alam, melainkan juga kesadaran manusia. Inilah barangkali yang membuat letusan gunung api kerap jadi penanda. Bencana alam adalah momentum perubahan!

Kita tentu masih ingat tsunami Aceh pada pengujung 2004, yang dianggap menandai fase baru tata politik kawasan di ujung barat negeri ini. Setelah 32 tahun konflik berdarah melanda Aceh, perjanjian damai akhirnya ditandatangani pada Agustus 2005.

Akankah letusan Kelud awal tahun ini menandai akan terpilihnya pemimpin besar yang bisa membawa perubahan negeri? Yang pasti, perubahan itu kini berada di ujung jari rakyat...




Sumber KOMPAS
Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

KPK Alami Keterbatasan Personel saat Pandemi, Mobilitas Dikurangi, Program Kerja Beralih ke Daring

KPK Alami Keterbatasan Personel saat Pandemi, Mobilitas Dikurangi, Program Kerja Beralih ke Daring

Nasional
Ajak Masyarakat Peduli Nakes, Dompet Dhuafa Serukan Gerakan “Surat untuk Nakes”

Ajak Masyarakat Peduli Nakes, Dompet Dhuafa Serukan Gerakan “Surat untuk Nakes”

Nasional
Ombudsman: Kalau Tata Cara Peralihan Status Selesai di PP, Tak Ada Perdebatan Alih Status Pegawai KPK

Ombudsman: Kalau Tata Cara Peralihan Status Selesai di PP, Tak Ada Perdebatan Alih Status Pegawai KPK

Nasional
Periksa Saksi, KPK Dalami Pengeluaran Dana Sarana Jaya untuk Lahan di Munjul

Periksa Saksi, KPK Dalami Pengeluaran Dana Sarana Jaya untuk Lahan di Munjul

Nasional
YLBHI Sebut Ombudsman Berhasil Bongkar Adanya Skenario dalam Penyelenggaraan TWK

YLBHI Sebut Ombudsman Berhasil Bongkar Adanya Skenario dalam Penyelenggaraan TWK

Nasional
Stok Vaksin Covid-19 Ada 55 Juta Dosis: 40 Juta Bulk, Sisanya Vaksin Jadi

Stok Vaksin Covid-19 Ada 55 Juta Dosis: 40 Juta Bulk, Sisanya Vaksin Jadi

Nasional
Kader PAN Gugat Zulkifli Hasan, Tuntut Ganti Rugi Rp 100 Miliar

Kader PAN Gugat Zulkifli Hasan, Tuntut Ganti Rugi Rp 100 Miliar

Nasional
Menteri Trenggono Minta Politeknik Kementerian KP Perkuat Potensi Wirausaha Peserta Didik

Menteri Trenggono Minta Politeknik Kementerian KP Perkuat Potensi Wirausaha Peserta Didik

Nasional
MK Tolak Sengketa PSU Pilkada Kalsel, Begini Respons Denny Indrayana

MK Tolak Sengketa PSU Pilkada Kalsel, Begini Respons Denny Indrayana

Nasional
Soal ivermectin, ICW Masih Belum Terima Surat Somasi Moeldoko

Soal ivermectin, ICW Masih Belum Terima Surat Somasi Moeldoko

Nasional
Akan Polisikan ICW Pakai UU ITE Dinilai Langgengkan Praktik Kriminalisasi, Moeldoko Disarankan Pakai UU Pers

Akan Polisikan ICW Pakai UU ITE Dinilai Langgengkan Praktik Kriminalisasi, Moeldoko Disarankan Pakai UU Pers

Nasional
Irjen KKP: Kebijakan Ekspor Benur Dibuka Usai Studi Banding ke Australia

Irjen KKP: Kebijakan Ekspor Benur Dibuka Usai Studi Banding ke Australia

Nasional
Makna dan Pesan dari Maraknya Baliho Puan Maharani...

Makna dan Pesan dari Maraknya Baliho Puan Maharani...

Nasional
KSAU Resmi Copot Danlanud Johannes Abraham Dimara Merauke, Penggantinya Dilantik

KSAU Resmi Copot Danlanud Johannes Abraham Dimara Merauke, Penggantinya Dilantik

Nasional
Ketua DPR: Segera Bayarkan Insentif Tenaga Kesehatan

Ketua DPR: Segera Bayarkan Insentif Tenaga Kesehatan

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X