Kompas.com - 07/01/2014, 18:17 WIB
Deviardi atau Ardi berusaha menutupi wajahnya dengan jaket saat hendak ditahan usai diperiksa selama lebih dari 22 jam oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Gedung KPK, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (14/8/2013). Pelatih golf ini diduga menjadi kurir dalam kasus penyuapan Kepala SKK Migas, Rudi Rubiandini dan ditangkap KPK pada Selasa (13/8/2013) malam. 
WARTA KOTA/HENRY LOPULALANDeviardi atau Ardi berusaha menutupi wajahnya dengan jaket saat hendak ditahan usai diperiksa selama lebih dari 22 jam oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Gedung KPK, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (14/8/2013). Pelatih golf ini diduga menjadi kurir dalam kasus penyuapan Kepala SKK Migas, Rudi Rubiandini dan ditangkap KPK pada Selasa (13/8/2013) malam.
|
EditorHindra Liauw

JAKARTA, KOMPAS.com — Pelatif golf mantan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas) Rudi Rubiandini, Deviardi, menghadapi sidang perdananya di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta tanpa ditemani penasihat hukumnya. Menurut pria yang akrab disapa Ardi itu, pengacaranya tidak bisa hadir karena sedang melaksanakan ibadah umrah.

“Anda menghadiri sidang sendirian tanpa kuasa hukum?” tanya Ketua Majelis Hakim Matheus Samiadji di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Selasa (7/1/2014).

“Iya, lagi umrah, Yang Mulia. Pengacaranya Pak Effendi Saman,” jawab Deviardi.

Hakim kemudian menjelaskan bahwa sidang tidak perlu ditunda hanya karena terdakwa tidak didampingi kuasa hukumnya. Deviardi yang mengenakan kemeja warna putih itu pun menyatakan tidak keberatan jika harus menjalani sidang seorang diri.

Kursi yang seharusnya ditempati tim penasihat hukum terlihat kosong. Hanya terdapat dua orang staf kuasa hukum Deviardi yang duduk di kursi belakang. Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi kemudian membacakan dakwaan Deviardi.

“Itu stafnya Pak Effendi Saman, Yang Mulia,” jelas Deviardi.

Deviardi didakwa menerima uang untuk Rudi sebesar 200 ribu dollar Singapura dan 900 ribu dollar AS dari bos Kernel Oil Singapura, Widodo Ratanachaitong, dan PT Kernel Oil Private Limited Indonesia. Kemudian  menerima 522.500 dollar AS dari Presiden Direktur PT Kaltim Parna Industri, Artha Meris Simbolon. Uang dari Artha juga untuk Rudi yang saat itu menjabat Kepala SKK Migas.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.