Kompas.com - 02/01/2014, 19:50 WIB
Vihara Ekayana Buddhist Centre, Jakarta Barat, Senin (5/8/2013), pascaledakan bom pada Minggu malam. Terjadi ledakan bom berdaya ledak kecil dan ditemukan sebuah bom yang gagal meledak di dalam vihara. AP PHOTO / TATAN SYUFLANAVihara Ekayana Buddhist Centre, Jakarta Barat, Senin (5/8/2013), pascaledakan bom pada Minggu malam. Terjadi ledakan bom berdaya ledak kecil dan ditemukan sebuah bom yang gagal meledak di dalam vihara.
Penulis Ihsanuddin
|
EditorHindra Liauw

JAKARTA, KOMPAS.com — Daftar nama sejumlah wihara ditemukan dalam lokasi penggerebekan di rumah terduga teroris di Ciputat, Tangerang Selatan, Rabu (1/1/2014) pagi. Penemuan tersebut diduga merupakan sebuah tanda pergeseran pola teroris yang semula mengincar gereja dan hotel ataupun tempat keramaian tertentu.

Lalu mengapa teroris mulai mengincar wihara sebagai target mereka? Peneliti terorisme, Sidney Jones menilai, hal tersebut bukanlah sesuatu yang baru. Hal ini, menurutnya telah terjadi sejak tahun 2012 lalu.

"Pada saat itu, sejumlah umat Buddhis di Myanmar melakukan kekerasan terhadap umat Muslim (Rohingya)," kata Sidney saat dihubungi Kompas.com, Kamis (2/1/2014).

Penyerangan terhadap wihara diduga terjadi karena faktor balas dendam. Awal mulanya, baru umat Muslim garis keras di Myanmar saja yang melakukan perlawanan. Namun, pelan-pelan isu konflik antarumat beragama di Myanmar itu menyebar dan diketahui seluruh dunia, termasuk oleh pelaku terorisme di Indonesia.

JK: Jangan serang umat Buddha

Pasca-insiden ledakan di Vihara Ekayana Graha, para pemimpin bangsa menyerukan agar tak ada penyerangan terhadap umat Buddha. Wakil Presiden 2004-2009 Jusuf Kalla (JK), misalnya, meminta umat Islam di Indonesia tidak melakukan aksi balas dendam terhadap aksi kekerasan yang menimpa etnis Rohingya di Myanmar. Tekanan terhadap kelompok agama dapat memicu pembalasan di tempat lainnya.

"Kita juga harapkan, di dalam negeri, kita jangan mengadakan suatu aksi," kata JK di Kantor Dewan Mesjid Indonesia (DMI), Jakarta, Senin (5/8/2013).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Rohingnya: Stop kekerasan di Indonesia

Secara terpisah, para pengungsi Rohingya di Indonesia meminta kelompok-kelompok tak bertanggung jawab untuk menghentikan aksi teror atas nama Rohingya di Indonesia.

"Kami ada dalam kesusahan. Kami tidak mau orang lain susah lagi seperti kami," kata pengungsi Rohingya, Muhammad Hanif, kepada Kompas.com.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Soal Isu Reshuffle, Nasdem: Kita Ikut Saja

Soal Isu Reshuffle, Nasdem: Kita Ikut Saja

Nasional
UPDATE 6 Desember: Korban Jiwa Erupsi Gunung Semeru Kini 15 Orang, 27 Orang Hilang

UPDATE 6 Desember: Korban Jiwa Erupsi Gunung Semeru Kini 15 Orang, 27 Orang Hilang

Nasional
RI Presidensi G20, Jokowi Samakan dengan Perjuangan Bung Karno Dukung Negara Merdeka

RI Presidensi G20, Jokowi Samakan dengan Perjuangan Bung Karno Dukung Negara Merdeka

Nasional
PMI Kirim 2 Unit Hagglund ke Lokasi Erupsi Semeru

PMI Kirim 2 Unit Hagglund ke Lokasi Erupsi Semeru

Nasional
Propam Polri Awasi Penanganan Kasus Bripda Randy Bagus

Propam Polri Awasi Penanganan Kasus Bripda Randy Bagus

Nasional
Menteri PPPA Tekankan Pentingnya Peran Perempuan Cegah Anak dari Ancaman Kejahatan Digital

Menteri PPPA Tekankan Pentingnya Peran Perempuan Cegah Anak dari Ancaman Kejahatan Digital

Nasional
52 Eks Pegawai KPK Hadir untuk Ikuti Sosialisasi Jadi ASN Polri

52 Eks Pegawai KPK Hadir untuk Ikuti Sosialisasi Jadi ASN Polri

Nasional
Azis Syamsuddin Didakwa Suap Eks Penyidik KPK Rp 3,6 Miliar

Azis Syamsuddin Didakwa Suap Eks Penyidik KPK Rp 3,6 Miliar

Nasional
Presiden Jokowi: Kita Harus Berwatak 'Trendsetter', Bukan 'Follower'

Presiden Jokowi: Kita Harus Berwatak "Trendsetter", Bukan "Follower"

Nasional
Jokowi: Globalisasi Lahirkan Hiperkompetisi, Kita Harus Memenangkannya

Jokowi: Globalisasi Lahirkan Hiperkompetisi, Kita Harus Memenangkannya

Nasional
Jokowi: Sekarang Kita Memimpin Negara-negara Terkaya...

Jokowi: Sekarang Kita Memimpin Negara-negara Terkaya...

Nasional
Beri Penghargaan Gratifikasi ke Individu, KPK: Kalau ke Lembaga Malah Kena OTT

Beri Penghargaan Gratifikasi ke Individu, KPK: Kalau ke Lembaga Malah Kena OTT

Nasional
Ketua DPR Minta Kebutuhan Warga Terdampak Erupsi Semeru Harus Jadi Prioritas

Ketua DPR Minta Kebutuhan Warga Terdampak Erupsi Semeru Harus Jadi Prioritas

Nasional
Jokowi: Kita Jadi Satu dari 5 Negara yang Berhasil Kendalikan Covid-19 di Level 1

Jokowi: Kita Jadi Satu dari 5 Negara yang Berhasil Kendalikan Covid-19 di Level 1

Nasional
Jokowi: Saat Lockdown di mana-mana, Kita Hati-hati Kendalikan Pandemi dan Ekonomi

Jokowi: Saat Lockdown di mana-mana, Kita Hati-hati Kendalikan Pandemi dan Ekonomi

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.