KOMPAS.com
 — Acara peringatan Hari Ulang Tahun Ke-68 Kemerdekaan RI di depan Istana Merdeka, Jakarta, telah berlalu. Untuk acara selama satu jam itu, dibutuhkan waktu lebih dari satu bulan untuk persiapannya.

Dalam acara geladi bersih, Kamis pagi, 15 Agustus lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hadir di panggung kehormatan. Presiden memang hampir tidak pernah absen mengikuti kegiatan ini.

Seusai mengikuti tahapan demi tahapan upacara, Presiden langsung menyampaikan lima koreksinya. Para menteri yang hadir berdiri mengelilingi Presiden dan menyimak.

Pembawa acara lamban

”Ada beberapa koreksi. Pertama, saya lihat semangatnya perlu ditingkatkan. Semangat itu termasuk pembawa acara, terlalu slow tadi,” katanya.

”Jadi, pembawa acara dinaikkan semangatnya, dinaikkan temponya, kemudian jangan terlalu rendah. Kalau semua slow, semua nanti kebawa. Padahal, ini hari merdeka, kita perlu energi untuk meramaikan ulang tahun kemerdekaan kita,” ujarnya.

Komandan upacara juga tidak luput dari koreksi Yudhoyono. Laporan yang disampaikan komandan upacara dinilai kurang semangat, belum ada penekanan- penekanan. Langkah komandan upacara juga diminta dipercepat.

”Dipercepat tempo langkahnya, tak-tak-tak. Demikian juga aba-abanya. Itu yang saya lihat karena saya sembilan kali jadi inspektur upacara, jadi mengerti mana yang kurang, mana yang sudah bagus,” kata Presiden.

Paduan suara juga tidak lepas dari koreksi Presiden. Menurut dia, lagu daerah yang dibawakan terlalu banyak dan lama sehingga perlu dikurangi. Lantas, lagu ”Bangga Jadi Anak Indonesia” yang dinyanyikan dinilai terlalu lambat temponya.

Volume pengeras suara juga tidak lepas dari koreksi Yudhoyono. ”Sound system sudah saya minta dinaikkan. Karena kalau sound system kurang, gegap gempitanya itu tidak muncul. Padahal, kekuatannya di situ,” katanya.