Pulang Kampung - Kompas.com

Pulang Kampung

Kompas.com - 02/08/2013, 20:58 WIB
KOMPAS/RADITYA HELABUMI Kendaraan yang akan menyeberang ke Sumatera melalui Pelabuhan Merak, Banten, menunggu giliran masuk ke kapal roro, Rabu (15/8/2012) malam. | KOMPAS/RADITYA HELABUMI
Catatan Kaki Jodhi Yudono

Apa kabar kawan-kawan? Moga-moga anda senantiasa diberi kebaikan oleh pemilik segala kebaikan: Tuhan.

Bagaimana dengan lebaran kali ini, apakah anda juga pulang mudik seperti saya? Membawa serta keluarga menuju rumah di mana orang tua dan saudara-saudara kita bermukim di kampung atau kota kecil yang jauh dari hiruk-pikuk Jakarta?

Saya sungguh bersyukur, bahwa ternyata saya memiliki kampung. Sekali lagi kampung! Sebuah tempat bagi saya untuk menemukan kembali kepingan-kepingan jiwa saya yang berantakan oleh kesibukan kota Jakarta.

Kampung, ya kampung, nama lain untuk desa atau kelurahan yang merupakan satuan pembagian administratif daerah yang terkecil di bawah kecamatan/mukim/distrik/banua (benua). Kampung sebagai sinonim dari istilah desa ini dipakai di beberapa tempat. Di Lampung, istiah kampung dipakai di (Kab. Lampung Tengah, Tulangbawang, Tulangbawang Barat, Mesuji, dan Way Kanan), Papua dan Kalimantan Timur (Berau dan Kutai Barat).

Kampung bagi saya adalah 'rumah' untuk mengawali pergi dan pulang. Serupa pusaka yang senantiasa terekam di benak dan hati kendati saya telah menjelajah ke tempat-tempat yang jauh. Sebab, di kampung itulah saya diajari kebaikan pekerti dan ketulusan hati.

Makanya saya suka keheranan, manakala ada orang yang menyebut 'kampungan' kepada orang yang kurang berbudi. Entah siapa yang memulai, orang kota sering berolok-olok kepada mereka yang norak dan tak tahu aturan dengan sebutan "kampungan!". Padahal yang kerap tak tahu tata-krama biasanya orang kota, kenapa sekali-sekali kita tak menyebutnya "kotaan", begitu?

Kata kampung, konon, diambil dari bahasa Portugis; campo, tempat perkemahan. Nama-nama daerah di Kamboja juga sering disebut kompong yang merupakan sebuah distrik yang seringkali dipakai sebagai nama provinsinya. Istilah kampung dalam bahasa Aceh disebut gampong dan dalam bahasa Minang disebut kampuang.

Setelah setahun meninggalkan ibu, saudara dan tetangga di kampung, kini saya kembali lagi hendak menjenguk kampung saya. Sebuah perjalanan paling akbar bagi orang Indonesia, bahkan mungkin peristiwa migrasi paling besar di dunia setiap tahunnya. Dari data Kementerian Perhubungan, total jumlah pemudik tahun 2013 mencapai 30 juta orang. Para pemudik tersebut dibagi ke dalam dua bagian yakni pengguna kendaraan pribadi dan pengguna kendaraan umum.

"Total jumlah pemudik menggunakan kendaraan umum dan pribadi diperkirakan lebih dari 30 juta manusia," ujar Menteri Perhubungan EE Mangindaan, Kamis (1/8/2013).

Menhub mengungkapkan pada tahun ini diperkirakan jumlah yang melakukan perjalanan mudik menggunakan angkutan umum saja ada 18.098.837 orang. Sementara itu jumlah kendaraan pribadi yang akan dipergunakan untuk perjalanan mudik tahun ini adalah diperkirakan sebanyak 3.027.263 unit untuk sepeda motor dan mobil pribadi sebanyak 1.756.775 unit

Ya, ya... dalam dua minggu ke depan jutaan orang akan memenuhi jalanan menuju asal muasal cerita: kampung!

Mobil, kereta, pesawat, kapal laut, bus dan motor dipilih orang sesuai selera mereka untuk mudik ke kampung halaman.

Kendati keluarga saya kerap berpindah tempat di kala saya masih kecil hingga remaja, tapi tetap masih di sekitar wilayah Jawa Tengah bagian selatan, tepatnya di eks-Karesidenan Banyumas. Wilayah yang cukup jauh dari pusat kekuasaan negeri ini. Karenanya, saya merasa tetap masih memiliki kampung.

Pernah pada suatu masa, keluarga saya tinggal di sebuah perkebunan, lalu di perkampungan yang tandus–keduanya di Kabupaten Cilacap. Dan kini, keluarga saya menetap di kota kecil bernama Wangon, Kabupaten Banyumas. Sebuah kota yang mendadak ramai tiap kali lebaran tiba, lantaran berada di persimpangan jalan menuju Bandung, Cilacap, Yogyakarta, dan Tegal.

Di Wangon itulah kini ibu saya menghabiskan masa tuanya bersama beberapa adik yang tinggal di sekitar rumah ibu. Kiriman putera-puteri dan uang pensiunan sebagai kepala Sekolah Dasar, cukuplah bagi ibu untuk belanja sehari-hari, menyumbang orang hajatan, iuran RT, membayar pajak bumi dan bangunan, membayar listrik, telepon  dan PAM, membeli jajan untuk cucu-cucunya, serta pergi ke dokter apabila rematiknya kambuh.

Maka saya, serta jutaan warga republik ini, pada lebaran kali ini pun, bagai semut yang merayap memenuhi jalur pantura dan jalur-jalur lainnya di negeri ini, baik lewat udara, darat, dan laut, menuju lubang tempat awal keberangkatan berada: kampung!

Jalan berjejal, sengatan matahari, kemacetan berjam-jam, tak menyurutkan kami, “semut-semut” yang sedang mencari jalan pulang ke rumah. Bahkan di antara kami, sedemikian abainya dengan keselamatan jiwa sendiri. Lihatlah, mereka yang berkendara motor dengan bawaan yang melimpah, tak jarang mereka juga membawa serta anak kecil yang harus siap merasai sabetan udara pantura yang panas di kala siang, dingin di waktu malam, dan tentu pula penuh jelaga polusi lantaran ribuan kendaraan merayap di sana saban detiknya.

Ya, ya…Kampung, pada akhirnya memang tak lagi menunjuk pada sebuah tempat terpencil yang jauh dari peradaban metropolitan. Tak ada listrik, telepon, televisi. Cuma ada suara jengkerik dan belalang di kala malam, atau lenguhan kerbau di waktu siang.

Kampung, kini telah berubah menjadi sebuah terminologi tempat kaum urban berangkat mencari kehidupan di kota-kota besar sekaligus tempat kembali buat tetirah dan bersilaturahim dengan sanak famili serta buat mengukur kesuksesan atau kegagalan.

Untunglah saya memiliki ibu yang tak pernah bertanya tentang berapa kini gaji saya, apa saja yang telah saya miliki selama tinggal di Jakarta. Ibu sudah cukup berbahagia jika tiap lebaran saya bisa pulang. Kesehatan saya sekeluarga ketika bertemu ibu, kata beliau, sudah cukup membahagiakan hati.

Begitu saya tiba di rumah beliau, biasanya Ibu berdiri di muka pintu dengan tangan terbuka, siap menyambut saya sekeluarga.

Ibu tak banyak bertanya. Beliau segera memeluk saya dengan sepenuh cinta. Demikianlah adanya tiap kali lebaran datang, ibu dan kami anak-anaknya senantiasa digulung oleh gelombang keharuan yang datang dari samudera kasih sayang sepanjang waktu.

Di hadapan ibu, saya seperti menyaksikan segala perbuatan yang selama ini saya lakukan kepada ibu. Dan bagai jarum-jarum yang jatuh ke atas lantai, kesalahan-kesalahan saya bergemerincingan memenuhi hati saya.

Saya tahu, ibu tak berharap apa-apa dari saya. Tapi rasanya, saya belum berbuat apa pun untuk membahagiakan ibu. Padahal ibu…

Seperti juga ibu anda wahai kawan-kawan, dia adalah mata air kasih sayang yang mengaliri jiwa-jiwa kita sepanjang hayat.

Ah, maafkan saya, telah melibatkan anda dalam keharuan mengenang ibu saya. Begitulah, selama berada di kampung, saya biasanya juga merasa menjadi kanak-kanak kembali. Saya ketemu dengan teman-teman di kala sekolah dasar. Ketemu dengan guru-guru saya yang kini telah sepuh. Sambil mengudap kacang bawang, kue nastar dan wajik kiriman bude Ar di ruang tamu, saya mengenangkan masa kanak-kanak bersama mereka.

Seperti daunan mangga di halaman rumah ibu yang rontok ke bumi tiap waktu. Begitulah usia, berguguran dimakan zaman. Dan tiap kali selesai shalat Ied, ketika para tetangga dan saudara datang ke rumah ibu untuk bersalaman, mendadak kami menyadari betapa kami tak lagi muda. Bapak saya telah mendahalui kami semua menghadap Ilahi. Pun Pak Guru Paryono serta para tetangga yang dulu turut mewarnai hidup kami, serta beberapa tetangga dan saudara yang telah pergi lebih dahulu berpulang.

Hmm…, saya benar-benar bersyukur bahwa saya memiliki kampung yang menjadi akar tunggang yang menopang daun dan dahan kehidupan saya yang terus tumbuh bersama waktu.

Di luar urusan keluarga, teman dan kerabat, saya juga pernah mendapatkan kehangatan dan keindahan dari para tetangga yang bergotong-royong membangun rumah, suasana pengajian di mushola, kesenian kuda lumping, lengger, sintren, angguk, padi yang menguning di sawah dan tegalan, serta tentu saja kehidupan satwa dan rimbunnya pepohonan yang dulu mengepung kampung.

@JodhiY


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorJodhi Yudono

Close Ads X