Rosihan Anwar dan Musim Gugur Jurnalisme

Kompas.com - 14/04/2011, 20:11 WIB
EditorI Made Asdhiana

Kalau elite politik itu tidak hirau, serahkan pada rakyat untuk memvonisnya pada Pemilu 2009. "Kita tunggu, apa vonis rakyat tahun 2009 nanti. Dan pers harus tunjukkan siapa dan apa yang mesti kita pilih nanti," kata Rosihan Anwar.

Namun, pada usia senjanya kini—10 Mei 2006 nanti dia persis berulang tahun ke-84—ia mengaku, tugas dan tujuan hidup cuma untuk menyenangkan setiap orang. "Tapi kalau saya sekarang jadi wartawan, apalagi menjadi pemimpin redaksi atau editor, saya mesti pikir bagaimana mencari strategi, bagaimana menyusun agenda supaya peranan pers tetap besar."

Menyimak naskah pidato pengukuhannya Wartawan Engkau Pahlawan Dalam Hatiku, kita menemukan sosok Rosihan Anwar tetaplah sebagai Rosihan sebagai jurnalis pers perjuangan. "Sekarang coba Anda lihat peringatan Soekarno waktu itu, kita tidak rela menjadikan Indonesia a nation of coolies, and a coolie among the nations."

Tapi ia juga tahu, wartawan bukanlah politisi. Ia harus tahu politik, tetapi ia tidak bermain politik praktis.

Jadi, media massa ini punya kewajiban dekat dengan rakyat, mendidik, dan mencerahkan mereka. Dan jangan kapok. Pers harus bekerja terus-menerus, menuntaskan satu masalah ke satu masalah. "Harus ada kegigihan, konsistensi, tekun, sampai selesai. Karena itu orang dapat kesan, SBY ini apa kerjanya ini."

Meski yang ia temui sekarang adalah fakta yang menunjukkan bangsa ini tengah dalam kondisi terpuruk, pemegang penghargaan Bintang Mahaputra Utama II (1973), Piagam Penghargaan Pena Mas Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat (1979), serta Bintang Rizal, Filipina (1977) itu, tetap optimistik.

Ia tahu, sebagaimana pernah ditulisnya:  journalist write in water, here today, and gone tomorrow.

Tapi kehadiran Rosihan, suami dari Siti Zuraida Sanawi, dan tokoh sejarah ini sebenarnya telah hadir dalam pentas sejarah Indonesia dengan bermakna.

Ia mengajarkan kecerdasan bercerita-nyaris satu-satunya wartawan kawakan pencerita yang memesona laporan dan eseinya serta greget keberanian, tapi juga ketulusan.

Ia mengakui, ia pernah berkaca pada kakak ipar dan teman sekelasnya, Usmar Ismail, legenda perfilman nasional itu, tentang ketuntasan dan kesungguhan dalam kerja.

"Saya menangis tiga kali dalam hidup saya. Ketika almarhum Usmar Ismail meninggal dunia di tengah usia produktifnya, kehilangan Soedjatmoko—karibnya—, dan melihat bocah Irian yang menderita," ujar ayah dari Dr Aida Fathya Darwis, Omar Luthfi Anwar MBA, dan Dr Naila Karima ini.

Catatan: Tulisan ini dimuat di Kompas edisi Sabtu 6 Mei 2006, ketika almarhum Rosihan Anwar menerima gelar doctor honoraris causa dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Halaman:
Baca tentang


    Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    PPNI: Jika Satu Perawat Sakit, Negara Ini Kehilangan Kesempatan Melayani 1.000 Orang

    PPNI: Jika Satu Perawat Sakit, Negara Ini Kehilangan Kesempatan Melayani 1.000 Orang

    Nasional
    Dugaan PPNI soal Sumber Penularan Covid-19 di Lingkungan Tenaga Medis

    Dugaan PPNI soal Sumber Penularan Covid-19 di Lingkungan Tenaga Medis

    Nasional
    Kejagung Periksa 3 Pengusaha Ekspedisi Laut Terkait Kasus Impor Tekstil

    Kejagung Periksa 3 Pengusaha Ekspedisi Laut Terkait Kasus Impor Tekstil

    Nasional
    Kasus Jiwasraya Jilid II, Kejagung Periksa Mantan Dirut BEI dan 12 Saksi Lain

    Kasus Jiwasraya Jilid II, Kejagung Periksa Mantan Dirut BEI dan 12 Saksi Lain

    Nasional
    Doni Monardo: Apabila Data Pasien Covid-19 Dibuka, Itu Sangat Membantu

    Doni Monardo: Apabila Data Pasien Covid-19 Dibuka, Itu Sangat Membantu

    Nasional
    Usai Dicecar Hakim soal Janji Hadirkan Ki Gendeng, Kuasa Hukum Cabut Gugatan UU Pemilu

    Usai Dicecar Hakim soal Janji Hadirkan Ki Gendeng, Kuasa Hukum Cabut Gugatan UU Pemilu

    Nasional
    Mahfud MD: Shalat Idul Adha dan Penyembelihan Hewan Kurban Harus dengan Protokol Kesehatan

    Mahfud MD: Shalat Idul Adha dan Penyembelihan Hewan Kurban Harus dengan Protokol Kesehatan

    Nasional
    Ini Prediksi Terbaru Jokowi Soal Puncak Covid-19 di Indonesia...

    Ini Prediksi Terbaru Jokowi Soal Puncak Covid-19 di Indonesia...

    Nasional
    Kemenkes Belum Atur Sanksi Terkait Pelanggaran Batas Tertinggi Biaya Rapid Test

    Kemenkes Belum Atur Sanksi Terkait Pelanggaran Batas Tertinggi Biaya Rapid Test

    Nasional
    Djoko Tjandra Dianggap Imigrasi Penuhi Kriteria, Apa Syarat Pembuatan Paspor?

    Djoko Tjandra Dianggap Imigrasi Penuhi Kriteria, Apa Syarat Pembuatan Paspor?

    Nasional
    Polisi Tetapkan Satu Tersangka Kasus Penipuan Proyek Asian Games 2018

    Polisi Tetapkan Satu Tersangka Kasus Penipuan Proyek Asian Games 2018

    Nasional
    Gugus Tugas Covid-19 dan KLHK Kerja Sama Tangani Limbah APD

    Gugus Tugas Covid-19 dan KLHK Kerja Sama Tangani Limbah APD

    Nasional
    Targetkan Tes Covid-19 Tembus 30.000 per Hari, Ini Upaya Gugus Tugas

    Targetkan Tes Covid-19 Tembus 30.000 per Hari, Ini Upaya Gugus Tugas

    Nasional
    Jokowi Sebut 18 Lembaga akan Dibubarkan Dalam Waktu Dekat

    Jokowi Sebut 18 Lembaga akan Dibubarkan Dalam Waktu Dekat

    Nasional
    Soal Djoko Tjandra, Mendagri: Yang Salah Itu Kenapa Bisa Masuk Indonesia

    Soal Djoko Tjandra, Mendagri: Yang Salah Itu Kenapa Bisa Masuk Indonesia

    Nasional
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X