Rosihan Anwar dan Musim Gugur Jurnalisme

Kompas.com - 14/04/2011, 20:11 WIB
EditorI Made Asdhiana

Padahal nyali dan elan vital wartawan dan perusahaan pers, persis ada di situ: kepercayaan publik.

Soekarno ke SBY

Itu sebabnya, generasi wartawan tua, yang mengalami zaman penjajahan, revolusi fisik, dan prakemerdekaan, tahu benar bahwa pelaku-pelaku sejarah Indonesia, para pemimpinnya, sungguh-sungguh memiliki kepribadian, memiliki outstanding. Dan pengalaman sosial dengan para tokoh sejarah itu membentuk mindset tertentu di kalangan wartawan.

Syahrir, Hatta, Soekarno, Panglima Besar Jenderal Soedirman, TB Simatupang, Jenderal Nasution, Sultan Hamengku Buwono IX, bagi Rosihan dan generasinya adalah sejumlah pelaku sejarah dengan integritas dan visi yang mengagumkan.

Para pelaku sejarah itu menjalin hubungan profesional dengan wartawan karena memiliki common ground yang sama.

"Syahrir baru saya kenal setelah dia menjadi perdana menteri sekitar tahun 1945, saat saya menjadi Redaktur Pelaksana Koran Merdeka. Terbuka lagi mata saya, vista baru. Umur 36 tahun sudah jadi PM. Dengan Hatta dan Soekarno saya bicara, kulturnya sama. Sebab kita pendidikan Barat, zaman Belanda. Kami cuma sekolah menengah atas (AMS), tapi saya bisa mengerti dia mengerti. Hal ini tidak dapat saya katakan pada Soeharto. Soeharto lain, dunianya lain, nggak ngerti saya. Jadi ada kesenjangan dengan Soeharto."

Yang tidak diperoleh generasi wartawan sekarang, menurut Rosihan, ialah pemimpin yang berbobot. Pemimpin yang ada, karakternya mungkin menarik, tapi tidak mencapai bobot seperti pemimpin zaman dulu.

Mereka, disebutnya one of the many. "Kalau diumpamakan dengan film Holywood, mereka ini seperti The Man With The Grey Flannelsuit."

Singkat kata, pemimpin sekarang bukan pemimpin. Di sisi lain, jurnalisme tidak merambat di ruang kosong.

Soekarno, Hatta, Syahrir, dan orang lain yang amat memberi inspirasi kepada rakyat dan mendorong pers dan wartawannya berlomba mengambil peran yang sejajar.

Dulu rumusannya jernih: kemerdekaan, pembebasan, keadilan sosial. "Maaf saja, SBY dan Jusuf Kalla tidak memberi inspirasi apa-apa," kata putra keempat Asisten Demang zaman Belanda, bernama Anwar gelar Maharadja Soetan di Kubang Nan Dua, Sumatera Barat itu. Tidak ada pemimpin sekarang yang bisa membawa masyarakat ke suatu tempat yang tinggi, ibarat Nabi Musa.

Jika peranan media massa tidak bisa mengubah keadaan, ini artinya ada gap antara elite politik dan media massa. Kalau elite politik dan pers tidak bisa bekerja sama, ini juga payah. Media massa akan terus bekerja menurut fungsinya. Membela rakyat terhadap penindasan, penjajahan, kekurangan ekonomi, dan sebagainya.

Dalam zaman globalisasi sekarang, pers harus terus mendidik masyarakat. Menunjukkan ke mana negara dan bangsa ini harus bergerak. "Dan pers juga mesti berani mengatakan, kamu ini sudah kebangetan. Ndak boleh pers diam saja."

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang


    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Anggota DPR Nilai Pendanaan Operasi pada Draf Perpres TNI Atasi Terorisme Tak Sesuai UU

    Anggota DPR Nilai Pendanaan Operasi pada Draf Perpres TNI Atasi Terorisme Tak Sesuai UU

    Nasional
    Satgas Covid-19 Minta Pemda Waspadai Munculnya Klaster Pengungsian

    Satgas Covid-19 Minta Pemda Waspadai Munculnya Klaster Pengungsian

    Nasional
    Ini Kronologis Penggunaan Helikopter Firli Bahuri yang Berujung Pelanggaran Etik

    Ini Kronologis Penggunaan Helikopter Firli Bahuri yang Berujung Pelanggaran Etik

    Nasional
    'Pandemi Belum Selesai, DKI Jakarta Belum Aman dari Covid-19...'

    "Pandemi Belum Selesai, DKI Jakarta Belum Aman dari Covid-19..."

    Nasional
    Satgas Covid-19: Kampanye yang Kumpulkan Massa Dilarang!

    Satgas Covid-19: Kampanye yang Kumpulkan Massa Dilarang!

    Nasional
    Satgas Covid-19: Jangan Tunggu 5.000 Kasus Per Hari untuk Disiplin

    Satgas Covid-19: Jangan Tunggu 5.000 Kasus Per Hari untuk Disiplin

    Nasional
    Dirjen EBTKE Ajak Semua Pihak Berinovasi Kembangkan Pemanfaatan Energi Surya

    Dirjen EBTKE Ajak Semua Pihak Berinovasi Kembangkan Pemanfaatan Energi Surya

    Nasional
    Jaksa Agung Janji Usut Tuntas Dalang Kebakaran di Kejaksaan Agung

    Jaksa Agung Janji Usut Tuntas Dalang Kebakaran di Kejaksaan Agung

    Nasional
    Warga Padang yang Tak Patuh Pakai Masker Kebanyakan Pemotor dan Pengguna Angkot

    Warga Padang yang Tak Patuh Pakai Masker Kebanyakan Pemotor dan Pengguna Angkot

    Nasional
    UPDATE 24 September: Tambah 1.133 Kasus Covid-19 di Jakarta, Total 1.664 Pasien Meninggal

    UPDATE 24 September: Tambah 1.133 Kasus Covid-19 di Jakarta, Total 1.664 Pasien Meninggal

    Nasional
    Satgas: Berita Konspirasi Pengaruhi Peningkatan Kasus Covid-19

    Satgas: Berita Konspirasi Pengaruhi Peningkatan Kasus Covid-19

    Nasional
    Pengunduran Diri Febri Diansyah Disayangkan Koleganya di KPK

    Pengunduran Diri Febri Diansyah Disayangkan Koleganya di KPK

    Nasional
    Satgas: Penambahan Kasus Covid-19 Tinggi, Ini Terkait dengan Pilkada

    Satgas: Penambahan Kasus Covid-19 Tinggi, Ini Terkait dengan Pilkada

    Nasional
    Komisioner KPU: Jika Tunda Pilkada, Jangan-jangan Tahun Depan Semakin Tak Mungkin...

    Komisioner KPU: Jika Tunda Pilkada, Jangan-jangan Tahun Depan Semakin Tak Mungkin...

    Nasional
    Jumat Besok, DPR dan Pemerintah Mulai Bahas Klaster Ketenagakerjaan di RUU Cipta Kerja

    Jumat Besok, DPR dan Pemerintah Mulai Bahas Klaster Ketenagakerjaan di RUU Cipta Kerja

    Nasional
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X