BNPB Sebut Belum Ada Penurunan Status Awas Gunung Agung - Kompas.com

BNPB Sebut Belum Ada Penurunan Status Awas Gunung Agung

Estu Suryowati
Kompas.com - 05/12/2017, 18:02 WIB
Erupsi Gunung Agung terlihat dari salah satu Pura di Kubu, Karangasem, Bali, 26 November 2017. Gunung Agung terus menyemburkan asap dan abu vulkanik dengan ketinggian yang terus meningkat, mencapai ketinggian 3.000 meter dari puncak. Letusan juga disertai dentuman yang terdengar sampai radius 12 kilometer.AFP PHOTO / SONNY TUMBELAKA Erupsi Gunung Agung terlihat dari salah satu Pura di Kubu, Karangasem, Bali, 26 November 2017. Gunung Agung terus menyemburkan asap dan abu vulkanik dengan ketinggian yang terus meningkat, mencapai ketinggian 3.000 meter dari puncak. Letusan juga disertai dentuman yang terdengar sampai radius 12 kilometer.

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, sampai saat ini belum ada penurunan status awas Gunung Agung di Bali.

"Tidak ada penurunan status awas. Meskipun sejak 30 November sampai sekarang tidak ada erupsi, bahkan terjadi penurunan abu atau asap yang keluar dari kawah," kata Sutopo dalam paparan di Jakarta, Selasa (5/12/2017).

Gunung Agung sebelumnya mengalami erupsi magmatik sejak 25 November 2017 pukul 21.00 Wita hingga 30 November 3017 sore.

Sutopo menjelaskan, kondisi terkini hasil dari pengamatan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menunjukkan secara visual relatif tenang.

(Baca juga: Kamis Pagi, Gunung Agung Kembali Diguncang Gempa Tremor Berkelanjutan)

Gunung Agung mengeluarkan asap kawah bertekanan lemah-sedang, berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tipis-sedang, dan tinggi 1.000 meter di atas puncak kawah.

Dari sisi kegempaan, menurut Sutopo, dalam 24 jam terakhir gempa dangkal (low frequency) terus terdeteksi. Ini yang mengindikasikan adanya aliran fluida magma pada pipa magma di kedalaman sekitar dua kilometer.

"Jadi pengisian magma ke kawah masih terus berlangsung, meskipun intensitasnya melambat dibandingkan saat erupsi tanggal 25-30 November," kata Sutopo.

Lebih lanjut, dia mengatakan, emisi gas SO2 atau sulfur dioksida pada saat erupsi (25-29 November) mencapai 5.000-10.000 ton per hari. Namun, pada 30 November tiba-tiba menurun 20 kali lipat dari sebelumnya.

(Baca juga: Gunung Agung Meletus, Pengungsi Mencapai 43.358 Jiwa)

Sementara itu pantauan satelit menunjukkan, sejak tanggal 30 November hingga sekarang masih terjadi pertumbuhan lava, namun melambat menjadi 10 meter, dari sebelumnya 100 meter pada saat erupsi.

Total lava yang ada di kubah kawah 20 juta meter kubik. Saat ini baru mengisi sepertiganya.

"Jadi, kalau ada media atau informasi menyampaikan terjadi lelehan lava menuruni lereng Gunung Agung, itu hoaks, berita tidak benar. Sampai sekarang terjadi pengisian tetapi melambat. Itulah yang menyebabkan kalau malam hari terlihat cahaya," ucap Sutopo.

Dengan belum adanya penurunan status Gunung Agung, maka rekomendasi yang diberikan BNPB juga tidak berubah.

Sutopo menjelaskan, tidak boleh ada aktivitas masyarakat di dalam radius 8 kilometer dan ditambah perluasan sektoral ke arah utara-timur laut dan tenggara-selatan-barat daya sejauh 10 kilometer dari kawah.

Kompas TV Asap tipis juga keluar dari puncak gunung hingga ketinggian 1.000 meter.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisEstu Suryowati
EditorBayu Galih
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM