"DKI Kepengin Pemimpin Baru, Indonesia Kelihatannya Juga..." - Kompas.com

"DKI Kepengin Pemimpin Baru, Indonesia Kelihatannya Juga..."

Fabian Januarius Kuwado
Kompas.com - 12/10/2017, 21:58 WIB
Peneliti Senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro dalam acara diskusi di bilangan Cikini, Jakarta, Sabtu (30/7/2016)KOMPAS.com/Nabilla Tashandra Peneliti Senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro dalam acara diskusi di bilangan Cikini, Jakarta, Sabtu (30/7/2016)

JAKARTA, KOMPAS.com - Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Siti Zuhro berpendapat, Pilkada DKI Jakarta berpotensi menjadi cerminan pada Pilpres 2019 mendatang.

Artinya, jika mayoritas masyarakat di Ibu Kota menginginkan pemimpin baru, demikian pula dengan masyarakat Indonesia.

"Di DKI, ternyata kepengin (pemimpin) yang baru. Nah, Indonesia ini kelihatannya juga akan menginginkan munculnya pemimpin (baru)," ujar Siti dalam acara diskusi di kawasan SCBD, Jakarta, Kamis (12/10/2017).

Meski demikian, sosok Joko Widodo sebagai petahana tetap tidak mudah dikalahkan oleh penantang. Selain memiliki jejaring yang sudah mapan, popularitas Jokowi juga masih tinggi.

(Baca juga: Perolehan Suara Capres 2019 Dipengaruhi Figur Pendampingnya)

Sekarang, tinggal penantang mencari celah untuk mengalahkan Jokowi. Salah satu caranya, adalah dengan mengevaluasi program Jokowi selama lima tahun dan menarasikannya di publik.

Jika penantang jeli menangkap apa yang diabaikan pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla, serta mampu meyakinkan publik bahwa kepemimpinannya lebih baik dari Jokowi, bukan tak mungkin hasil Pilpres 2019 sama seperti Pilkada DKI Jakarta

"Nah, hasil evaluasinya tadi akan menimbulkan resistensi atau tidak di publik? Menimbulkan preferensi baru atau tidak? Tergantung itu," ujar Siti.

(Baca juga: Survei Indikator: 68,3 Persen Puas dengan Kinerja Jokowi-JK)

Soal siapa sosok yang mampu menyaingi Jokowi, Siti tak mau menyebut nama. Ia hanya menjabarkan beberapa kriteria.

"Jangan cacat integritas intinya. Kalau sudah pernah maling, pernah nyuri, korupsi, melanggar etika, melanggar norma, itu digoreng sudah pasti. Susah," ujar Siti.

Kompas TV Gatot: Jabat Panglima TNI, Tak Etis Ingin Jadi Capres

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisFabian Januarius Kuwado
EditorBayu Galih
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM