MA Minta Publik Tak Pesimistis atas Upaya KPK Kembali Jadikan Novanto Tersangka - Kompas.com

MA Minta Publik Tak Pesimistis atas Upaya KPK Kembali Jadikan Novanto Tersangka

Fachri Fachrudin
Kompas.com - 06/10/2017, 22:25 WIB
Kepala Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat pada Mahkamah Agung (MA), Abdullah, di gedung MA, Jakarta, Jumat (6/10/2017).Fachri Fachrudin Kepala Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat pada Mahkamah Agung (MA), Abdullah, di gedung MA, Jakarta, Jumat (6/10/2017).

JAKARTA, KOMPAS.com - Mahkamah Agung (MA) menilai, Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK) dapat menemukan alat bukti yang tepat untuk bisa menjerat Setya Novanto sebagai tersangka pada kasus dugaan korupsi proyek e-KTP.

Putusan gugatan praperadilan menyatakan pembatalan penetapan tersangka Novanto oleh KPK.

Meskipun, hakim Pengadilan Jakarta Selatan, Cepi Iskandar, yang memimpin sidang praperadilan menyatakan bahwa alat bukti yang sudah digunakan dalam perkara sebelumnya tidak bisa digunakan untuk menangani perkara selanjutnya.

Menurut Kepala Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat pada MA, Abdullah, KPK memiliki banyak bukti terkait kasus korupsi e-KTP. Ia meminta semua pihak yakin KPK bisa menyelesaikan kasus ini dengan tuntas.

"Bahkan sekarang mau kerja sama dengan FBI, tentunya akan ditemukan alat-alat bukti baru. Enggak usah pesimistislah," kata Abdullah di MA, Jakarta, Jumat (6/10/2017).

Baca: Ini Pertimbangan Hakim Cepi Batalkan Status Tersangka Setya Novanto

Abdullah menegaskan, putusan Cepi pada praperadilan hanya menggugurkan status tersangka Setya, bukan tindak pidananya.

Oleh karena itu, KPK masih bisa menjerat Setya dengan bukti yang tepat sesuai perannya pada kasus tersebut.

"Bahwa pada saat mengadili praperadilan hanya formilnya saja, tidak menyangkut pidananya. Perbuatan pidanya itu dilakukan atau tidak dilakukan, semuanya terpulang pada KPK," kata dia.

Abdullah juga mengingatkan KPK agar lebih cermat menggunakan barang bukti untuk menetapkan seseorang sebagai tersangka.

"Enggak usah tergesa-gesa kalau tergesa-gesa, ada plus dan minusnya," kata dia.

Baca juga: Rekam Jejak Hakim Cepi Iskandar yang Memimpin Praperadilan Novanto

Kerja sama KPK dengan FBI dalam pencarian bukti mengacu Pasal 12 ayat 1 huruf h Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK. 

Sebelumnya, dalam sidang putusan praperadilan yang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat (30/9/2017), Hakim Cepi mengabulkan gugatan praperadilan yang diajukan Setya.

Hakim menyatakan, penetapan tersangka Setya dalam kasus dugaan korupsi kartu tanda penduduk elektronik (E-KTP) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi tidak sah.

KPK diminta untuk menghentikan penyidikan terhadap Setya.

Ada sejumlah pertimbangan yang mendasari Hakim Cepi membuat putusan tersebut.

Pertama, Cepi menilai penetapan tersangka Novanto oleh KPK sudah dilakukan di awal penyidikan.

Padahal, menurut Hakim, harusnya penetapan tersangka dilakukan di akhir tahap penyidikan suatu perkara. Hal itu harus dilakukan untuk menjaga harkat dan martabat seseorang.

Selain itu, Cepi juga mempermasalahkan alat bukti yang digunakan KPK.

Hakim menilai alat bukti yang diajukan berasal dari penyidikan terhadap Irman dan Sugiharto, mantan pejabat Kementerian Dalam Negeri yang sudah divonis bersalah melakukan korupsi E-KTP.

Hakim menilai, alat bukti yang sudah digunakan dalam perkara sebelumnya tidak bisa digunakan untuk menangani perkara selanjutnya.

Kompas TV Kuasa Hukum Setya Novanto, Fredrich membantah informasi bahwa Setnov menerima pemberian jam tangan mewah oleh Johannes Marliem.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisFachri Fachrudin
EditorInggried Dwi Wedhaswary
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM