Merdeka dalam Keberagaman: Doa untuk Jokowi, Penyiar Nyinyir, dan First Travel Halaman 1 - Kompas.com

Merdeka dalam Keberagaman: Doa untuk Jokowi, Penyiar Nyinyir, dan First Travel

Aji Chen Bromokusumo
Kompas.com - 21/08/2017, 14:27 WIB
Presiden ke-3 Republik Indonesia, BJ Habibie (kiri), Istri Presiden Republik Indonesia, Iriana Joko Widodo (kedua dari kiri), Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (ketiga dari kiri), Presiden ke-5 Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri (keempat dari kiri), Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla (keempat dari kanan), Istri Wakil Presiden Republik Indonesia, Mufidah Kalla (ketiga dari kanan), Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (kedua dari kanan), Istri Presiden ke-6 Republik Indonesia, Kristiani Herrawati Yudhoyono berpose bersama saat perayaan HUT Kemerdekaan ke-72 Republik Indonesia di Istana Negara, Jakarta, Kamis (17/8/2017). SETPRES/AGUS SUPARTO Presiden ke-3 Republik Indonesia, BJ Habibie (kiri), Istri Presiden Republik Indonesia, Iriana Joko Widodo (kedua dari kiri), Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (ketiga dari kiri), Presiden ke-5 Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri (keempat dari kiri), Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla (keempat dari kanan), Istri Wakil Presiden Republik Indonesia, Mufidah Kalla (ketiga dari kanan), Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (kedua dari kanan), Istri Presiden ke-6 Republik Indonesia, Kristiani Herrawati Yudhoyono berpose bersama saat perayaan HUT Kemerdekaan ke-72 Republik Indonesia di Istana Negara, Jakarta, Kamis (17/8/2017). SETPRES/AGUS SUPARTO

SUDAH beberapa tahun belakanngan saya jarang menonton siaran langsung perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia. Entah kenapa, tahun ini 2017 saya ingin menontonnya.

Upacara di pagi hari tuntas saya tonton dengan perasaan campur aduk, terutama karena semakin hiruk pikuknya politik Indonesia dan gempuran tak berkesudahan terhadap pemerintahan sah konstitusional duet Jokowi-JK.

Sore harinya kebetulan juga entah kenapa coba menyalakan televisi. Tayangan di layar televisi membuat saya terkesiap! Warna-warni cerah berbagai pakaian daerah dari berbagai penjuru Indonesia memenuhi layar televisi. Tema perayaan yaitu “Merdeka dalam Keberagaman” terasa begitu sederhana namun menghentak.

Pesan sangat kuat bergaung ke seluruh Nusantara dan dunia: Inilah Indonesia yang beragam etnis, beragam agama, beragam kepercayaan, bukan Indonesia lain yang berkiblat ngawur ke satu ajaran tertentu.

Tak ada warna-warna monoton dan monokrom. Tak ada gaya satu busana tertentu. Dada sungguh bergemuruh, sesak dengan rasa haru dan bangga yang sudah lama sekali tidak pernah hadir, tak terasa airmata haru membayang di pelupuk mata.

Esok harinya, tanggal 18 Agustus 2017 di halaman utama Kompas cetak dan e-paper menyajikan potongan adegan “Merdeka dalam Keberagaman” yang dibingkai luar biasa oleh fotografer Kompas.

Kemudian di halaman dalam tersaji foto apik Presiden Jokowi beserta Ibu Negara dan Wakil Presiden Jusuf Kalla beserta istri bersama para mantan presiden Republik Indonesia. Momentum kebersamaan ini sudah dinantikan sejak lama.

Sementara di grup-grup Whatsapp berseliweran foto-foto Megawati bersalaman dengan SBY dengan raut muka masing-masing yang sudah mencair setelah ketegangan di antara beliau berdua sekian tahun belakangan.

Inilah makna kemerdekaan yang sesungguhnya. Merdeka dalam berpolitik, merdeka dalam bernegara, semuanya untuk negeri tercinta Indonesia.

Berseliweran juga di grup-grup Whatsapp foto yang penuh warna itu disandingkan dengan foto upacara tokoh politik yang warnanya cenderung kusam yang menampilkan wajah orang-orang tanpa senyum, kaku, dan tegang. Sungguh sangat kontras.

Sehari sebelum perayaan Hari Kemerdekaan, pada 16 Agustus 2017, Presiden Jokowi menyampaikan pidato kenegaraan dalam Sidang Istimewa tahunan MPR. Dalam kesempatan itu politisi Partai Keadilan Sejahtera Tifatul Sembiring mendoakan agar Jokowi tambah gemuk. Doa Tifatul ramai diperbincangkan para warganet.

Sekilas memang tidak ada yang salah dengan doa tersebut. Namun demikian, dalam kegiatan berskala nasional dan dalam rangka memeringati Kemerdekaan Republik Indonesia ke-72, doa semacam itu sepertinya tidak pada tempatnya.

Bukan sekali ini saja Tuhan diajak berpolitik. Para politisi Indonesia sudah jamak mengajak bahkan memaksa Tuhan turun gelanggang.  Doa “gemukkanlah badan beliau yang semakin kurus” terasa tidak enak didengar.

Namun, mari kita tetap berpikir positif dan menjaga kewarasan politik kita. Mari kita tetap berpikir positif bahwa doa Tifatul adalah doa terbaik yang diunjukkan untuk bangsa Indonesia dan Presiden Jokowi.

Masih sehubungan dengan doa tersebut, yang paling menyedihkan adalah komentar penyiar muda salah satu stasiun televisi swasta melontarkan kalimat yang menurut saya cenderung nyinyir: “Amin. Kita doakan Jokowi menjadi gemuk, asal bukan rekeningnya yang bertambah gemuk”.

Mungkin penyiar itu bermaksud bercanda. Tapi, seperti juga doa Tifatul, canda yang tidak pada tempatnya. Perayaan sakral Kemerdekaan Indonesia ke-72 dan sosok Kepala Negara yang notabene tengah disiarkan secara publik bukan tempat yang pantas untuk dijadikan bahan bercandaan.

Page:
EditorHeru Margianto
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM