Reza Indragiri Amriel
Ahli Psikologi Forensik

Bekerja di bidang psikologi forensik untuk berbagai lembaga. Konsultan Lentera Anak Foundation.

Lansia (Semestinya) Bahagia

Kompas.com - 29/05/2022, 16:43 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

TANGGAL 29 Mei dikenal sebagai Hari Lanjut Usia Nasional. Mengacu UU Kesejahteraan Lansia, yang disebut lansia adalah orang yang berusia di atas 60 tahun.

Angka yang sama juga dipakai Organisasi Kesehatan Dunia PBB sebagai patokan bawah usia lansia (elderly).

Jadi, terhitung sejak 22 Juni 2021, Presiden Jokowi—yang lahir 21 Juni 1961—sudah menapakkan kakinya di gerbang usia 60 tahun.

Alhasil, semakin sahlah bagi Jokowi untuk unjuk kepedulian pada warga lansia. Bukan semata karena Jokowi adalah presiden, tapi juga karena Jokowi tahun ini termasuk dalam kategori lansia.

Sisi lain, karena usia lansia acap dianggap sebagai usia dengan berbagai kerentanan, maka masyarakat layak menaruh perhatian lebih pada Jokowi. Jokowi selaku warga lansia, utamanya.

Membandingkan foto resmi Presiden Jokowi antara 2014 dan 2019, memang terlihat penuaan di wajahnya.

Penuaan itu tampak, misalnya, pada kantung bawah mata yang menebal dan membuat mata Jokowi menyipit.

Garis di sekitar bibir dan pipi bawah semakin banyak dan dalam. Celah antara leher dan kerah depan juga tak lagi ada, akibat kulit leher yang mengendur.

Warna rambutnya antara 2014 dan 2019 memang tetap sama. Tapi kita bisa tebaklah: seperti banyak dilakukan lansia lainnya, itu rekayasa zat pewarna.

Dari sisi panca indera, setidaknya Jokowi sampai sekarang tetap tak berkacamata. Walau berkas menggunung di atas meja, tapi Jokowi sepertinya tetap rajin mengonsumsi vitamin mata.

Dengan mata yang sehat, setiap dokumen bisa Jokowi baca seksama hingga titik komanya.

Presiden lebih cepat menua

Tentu, tanda-tanda itu bukan hanya akibat pertambahan usia. Khusus bagi presiden, ada “accelerated aging theory“.

Teori itu menjelaskan bahwa beban sebagai kepala negara, dengan stres berlipat ganda, dipandang sebagai penyebab mengapa proses penuaan itu berlangsung lebih kencang pada presiden.

Bahkan, untuk setiap satu tahun yang dilalui presiden, dampaknya terhadap penuaan adalah setara dengan dua tahun.

Namun stresnya Jokowi jangan buru-buru dipandang negatif lho. Presiden memang harus stres, karena itulah wujud betapa Jokowi memasukkan berbagai persoalan secara serius ke dalam pikirannya.

Stres adalah penanda betapa Jokowi menyelami statusnya sebagai orang yang diasumsikan paling bertanggung jawab atas kehidupan ratusan juta manusia di Indonesia.

Lagi pula, kendati accelerated aging theory tampaknya berlaku pada Jokowi, tapi tidak serta-merta itu berdampak buruk. Toh sebagai presiden, Jokowi punya akses lebih luas ke layanan kesehatan.

Dari sisi kesejahteraan finansial pun tetap stabil. Begitu pula akses ke sumber-sumber kenyamanan dan ketenteraman lainnya.

Dengan akses selengkap itu, meski tanda penuaan itu terlihat kentara di raut wajahnya, namun kualitas hidup Presiden Jokowi secara keseluruhan tetaplah positif.

Ada peluang besar baginya untuk melampaui rata-rata usia harapan hidup pria Indonesia: 69,30 tahun (BPS, 2018).

Sampai di situ, sepintas tersedia alasan bagi kampanye 'Jokowi Tiga Periode'. Namun, berbagai penilaian dan survei terkini justru seolah membuktikan kebenaran second term curse.

Bahwa, di masa kedua kekuasaannya, sekian banyak indikator negatif tampak mengemuka. Mulai dari tingkat demokratisasi, kebijakan yang berjarak dari kondisi real masyarakat, indeks korupsi yang anjlok, dan meningginya ketidakpuasan publik terhadap kinerja otoritas penegakan hukum.

Tambahan lagi, Förstel H dari Departemen Psikiatri dan Psikoterapi, Technische Universität München, buru-buru mengingatkan lewat studinya.

Observasi yang Förstel lakukan terhadap para penguasa dalam kurun 1990 hingga 2020 di empat puluhan negara mengonfirmasi bahwa berada di singgasana kekuasaan senyatanya meningkatkan risiko berbagai masalah yang diakibatkan oleh pertambahan bilangan usia.

Alhasil, pada titik ini terbenarkan tentangan terhadap kampanye 'Jokowi Tiga Periode' dan digantikan oleh '#2024gantian'.

Nah, dengan lika-liku usia pemimpin sedemikian rupa, patutlah kita menggantungkan harapan bahwa Hari Lanjut Usia Nasional tahun ini tak berakhir pada Ahad jam 24.00 pekan kelima bulan ini.

Hari Lanjut Usia Nasional sebatas jam weker yang semestinya mengingatkan kita, terlebih Presiden Jokowi, bahwa negara hadir bukan sebatas memperpanjang usia harapan hidup lansia, tapi juga membawa bingkisan kebahagiaan bagi mereka.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pilpres 2024: Berebut Narasi Ruang Publik

Pilpres 2024: Berebut Narasi Ruang Publik

Nasional
Polri Akan Pecat Ferdy Sambo Tersangka Pembunuhan Berencana Brigadir J

Polri Akan Pecat Ferdy Sambo Tersangka Pembunuhan Berencana Brigadir J

Nasional
Ferdy Sambo dan Kasus Brigadir J, dari Belasungkawa Berujung Tersangka

Ferdy Sambo dan Kasus Brigadir J, dari Belasungkawa Berujung Tersangka

Nasional
Datangkan Orangtua, Cara Timsus Bikin Bharada E Ungkap Fakta Penembakan Brigadir J

Datangkan Orangtua, Cara Timsus Bikin Bharada E Ungkap Fakta Penembakan Brigadir J

Nasional
Peneliti UGM: KPK Tertinggal dari Kejaksaan Terkait Penindakan

Peneliti UGM: KPK Tertinggal dari Kejaksaan Terkait Penindakan

Nasional
Mahfud kepada Keluarga Brigadir J: Mohon Bersabar dan Percaya Penegak Hukum

Mahfud kepada Keluarga Brigadir J: Mohon Bersabar dan Percaya Penegak Hukum

Nasional
Golkar, PPP, PAN, dan PSI Daftar ke KPU Jadi Calon Peserta Pemilu Hari Ini

Golkar, PPP, PAN, dan PSI Daftar ke KPU Jadi Calon Peserta Pemilu Hari Ini

Nasional
Cerita Ketua RT Ikut Polisi Geledah Rumah yang Ditempati Brigadir J...

Cerita Ketua RT Ikut Polisi Geledah Rumah yang Ditempati Brigadir J...

Nasional
4 Kali Ultimatum Presiden Jokowi Tuntaskan Kasus Brigadir J

4 Kali Ultimatum Presiden Jokowi Tuntaskan Kasus Brigadir J

Nasional
Komnas HAM Harap Bisa Periksa Ferdy Sambo meski Berstatus Tersangka

Komnas HAM Harap Bisa Periksa Ferdy Sambo meski Berstatus Tersangka

Nasional
Mahfud Sebut Motif Sambo Bunuh Brigadir J Sensitif, Hanya Boleh Didengar Orang Dewasa

Mahfud Sebut Motif Sambo Bunuh Brigadir J Sensitif, Hanya Boleh Didengar Orang Dewasa

Nasional
Jejak Ferdy Sambo di Kasus Brigadir J: Dinonaktifkan dari Kadiv Propam, Dicopot, lalu Jadi Tersangka

Jejak Ferdy Sambo di Kasus Brigadir J: Dinonaktifkan dari Kadiv Propam, Dicopot, lalu Jadi Tersangka

Nasional
[POPULER NASIONAL] Irjen Ferdy Sambo Tersangka Pembunuhan Brigadir J | Kompolnas Tanggapi Isu soal Jadi 'Jubir' Polri

[POPULER NASIONAL] Irjen Ferdy Sambo Tersangka Pembunuhan Brigadir J | Kompolnas Tanggapi Isu soal Jadi "Jubir" Polri

Nasional
Polisi Angkut 1 Boks Kontainer Usai Geledah Rumah Sambo

Polisi Angkut 1 Boks Kontainer Usai Geledah Rumah Sambo

Nasional
Pengacara Minta Polisi Tetap Usut Dugaan Pelecehan Seksual terhadap Istri Sambo

Pengacara Minta Polisi Tetap Usut Dugaan Pelecehan Seksual terhadap Istri Sambo

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.