Kompas.com - 06/10/2021, 10:41 WIB
Pengendara sepeda motor melintas dekat mural bertemakan disiplin bermasker untuk pencegahan penularan COVID-19 di Mataram, NTB, Minggu (29/8/2021). ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/rwa. ANTARA FOTO/AHMAD SUBAIDIPengendara sepeda motor melintas dekat mural bertemakan disiplin bermasker untuk pencegahan penularan COVID-19 di Mataram, NTB, Minggu (29/8/2021). ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/rwa.

JAKARTA, KOMPAS.com - Ahli epidemiologi Indonesia di Griffith University Dicky Budiman menyoroti kasus Covid-19 di Tanah Air yang terus mengalami penurunan setelah lonjakan pada Juli 2021.

Dicky mengatakan, International Health Metrics memprediksi sekitar 29 persen penduduk Indonesia sudah terpapar Covid-19 sampai akhir September.

Jumlah tersebut, kata dia, menunjukkan sangat banyak penyintas Covid-19 di Indonesia.

"Dan ini salah satu yang artinya menjelaskan bahwa terjadi imunitas kombinasi natural (dari penyintas Covid-19) dan yang melalui vaksinasi. Artinya ini membuat barrier sementara ini," kata Dicky saat dihubungi Kompas.com, Rabu (6/10/2021).

Baca juga: Ancaman Varian Baru Covid-19 Mengintai Jakarta Usai PON XX Papua

Namun, Dicky mengatakan, imunitas yang timbul dari penyintas Covid-19 tidak bertahan lama yaitu rata-rata 2-3 bulan.

Oleh karenanya, kata dia, lonjakan kasus Covid-19 tetap harus diwaspadai mengingat imunitas dari para penyintas bisa menurun. Terlebih, mereka yang belum divaksinasi.

"Maka Oktober, November, Desember itu lah masa yang sangat rawan, ketika imunitasnya yang menjadi penyintas ini menurun dan tapi belum sempat divaksinasi, masalahnya 60 persen lebih kan belum divaksinasi total," ujarnya.

Di sisi lain, Dicky mengatakan, kasus Covid-19 terlihat menurun karena masyarakat terbiasa tetap berada di rumah jika merasa sakit.

Terlebih, kata dia, intervensi 3T yaitu testing, tracing, dan treatment di daerah-daerah di luar Pulau Jawa-Bali masih sangat kurang.

"Di masyarakat namanya sakit itu 70 persen di rumah apalagi saat ini pergerakan Delta keluar Jawa yang notabennya kalau sakit di rumah, jarang ke RS. Apalagi intervensi 3T di daerah luar Jawa sangat kurang dibandingkan aglomerasi," ucapnya.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.