BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan APRIL Asia Group

Perbaiki Hutan Rawa Gambut, Restorasi Ekosistem Riau Catat Kemajuan Signifikan

Kompas.com - 06/06/2021, 15:00 WIB
Hutan Gambut utuh terbesar di Sumatera.

DOK. Humas Grup APRILHutan Gambut utuh terbesar di Sumatera.

KOMPAS.com - Program restorasi dan konservasi lahan gambut terbesar di Sumatera, Restorasi Ekosistem Riau (RER), kembali mencatatkan berbagai kemajuan pada tahun ketujuh pelaksanaan.

Kemajuan yang dimaksud terkait upaya menjaga dan melindungi lahan gambut. Lahan ini merupakan habitat bagi flora dan fauna yang dilindungi.

Pencapaian upaya restorasi ekosistem di hutan rawa gambut dirangkum dalam Laporan Kemajuan RER 2020.

Laporan tersebut dipublikasikan bertepatan dengan perayaan Hari Lingkungan Hidup (HLH) Sedunia atau World Environment Day tiap 5 Juni. Tahun ini, perayaan HLH Sedunia jatuh pada Sabtu (5/6/2021) dan mengambil tema “Restorasi Ekosistem”.

Baca juga: Sinergi Swasta dan Pemerintah dalam Memastikan Pencapaian SDGs di Tengah Pandemi

Untuk diketahui, RER merupakan program restorasi ekosistem yang diinisiasi produsen pulp dan kertas Grup APRIL sejak 2013.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Grup APRIL termasuk bagian dari Grup Royal Golden Eagle (RGE) yang mengelola sekelompok perusahaan manufaktur berbasis sumber daya alam (SDA) dan beroperasi secara global.

Melalui RER, Grup APRIL berkomitmen melindungi, merestorasi, dan mengonservasi ekosistem di lahan gambut.

Tak hanya itu, RER turut andil dalam menjaga stok karbon dan melestarikan keanekaragaman hayati di konsesi seluas 150.693 hektare (ha) di Riau. Besaran lahan tersebut setara dengan luas kota London.

Pencapaian RER sesuai Laporan Kemajuan 2020

Dalam kesempatan tersebut, External Affairs Director RER Nyoman Iswarayoga menyampaikan beberapa hal penting atas pencapaian pihaknya dalam Laporan Kemajuan RER 2020.

Baca juga: Menengok Kesiapan Swasta Tangani Karhutla 2021

Pertama dan kedua, peningkatan inventarisasi flora serta fauna. Ketiga, kesuksesan menjaga hutan restorasi dari kebakaran selama tujuh tahun berturut-turut. Keempat, prakarsa penelitian keanekaragaman hayati.

“ Serta mendukung penyelamatan Harimau Sumatera (bernama) Corina,” papar Iswarayoga dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Sabtu.

Iswarayoga menjelaskan, RER berhasil mengidentifikasi 823 spesies flora dan fauna di dalam kawasan restorasi hingga 2020. Jumlah ini bertambah 26 jenis dibandingkan tahun sebelumnya.

Rinciannya adalah 76 spesies mamalia, 308 spesies burung, 101 spesies amfibi dan reptil, 192 spesies pohon, 89 spesies ikan, serta 57 spesies serangga (Odonata) di Semenanjung Kampar dan Pulau Padang.

Baca juga: Menilik Berbagai Upaya Indonesia untuk Mencegah Perubahan Iklim

Dari angka tersebut, imbuh dia, sebanyak 66 spesies terdaftar di Daftar Merah International Union for Conservation of Nature (IUCN). Sebanyak 39 spesies masuk kategori rentan dan 17 spesies dalam kategori hampir punah. Kemudian, 10 spesies masuk kategori terancam punah.

Terdapat pula 115 spesies yang masuk dalam daftar Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES). Sementara itu, sebanyak 99 spesies tercatat sebagai varietas yang dilindungi oleh pemerintah Indonesia.

Selain peningkatan inventarisasi flora dan fauna, RER ikut terjun menjadi bagian dari usaha Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kementerian LHK) Republik Indonesia (RI) dalam melepasliarkan Harimau Sumatera bernama Corina.

Sebelumnya, Corina ditemukan terjerat di kawasan perkebunan warga di Semenanjung Kampar yang berbatasan dengan area RER pada Maret 2020.

Baca juga: APRIL2030: Aksi Nyata Wujudkan Akselerasi SDGs Satu Dekade ke Depan

Area restorasi RER terpilih menjadi lokasi pelepasliaran Corina setelah melalui berbagai kajian. Pengkajian ini termasuk mempertimbangkan kondisi alamiah hutan, keberadaan satwa mangsa, perlindungan aktif, serta kemungkinan interaksi antara masyarakat dan harimau yang dirasa cukup kecil.

Pada 2020, RER juga menyelesaikan survei pertama Odonata dari empat survei yang direncanakan. Survei ini berhasil mengidentifikasi 57 spesies capung dan capung jarum di kawasan RER Semenanjung Kampar.

Adapun sembilan di antaranya tercatat sebagai spesies yang keberadaannya pertama kali terekam di Provinsi Riau. Sementara itu, empat di antaranya pertama kali terekam di Pulau Sumatera dan satu spesies, yakni Amphicnemis bebar, sebagai varietas pertama yang tercatat di Indonesia.

Peran penting RER lainnya adalah pemantauan migrasi burung raptor yang telah terekam sebanyak 302 penampakan burung. Melalui Asian Waterbird Census (AWC), RER dapat memantau 440 burung dengan delapan spesies yang berbeda dalam sehari.

Baca juga: SDGs Era New Normal: Pentingnya Sinergi Swasta dan Pemerintah Wujudkan Kesejahteraan Sosial Masyarakat

Adapun penelitian itu semakin memperkuat peran RER sebagai kawasan restorasi dan konservasi keanekaragaman hayati.

Bahkan, selama tujuh tahun terakhir, area RER di Semenanjung Kampar tercatat tidak mengalami kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Pencapaian tersebut dapat berjalan berkat komitmen kuat dalam upaya restorasi, perlindungan hutan, serta pelibatan langsung masyarakat di dalamnya.

Komitmen APRIL2030

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) Sihol Aritonang mengatakan, pencapaian yang diraih RER tidak lepas dari metode yang ditetapkan Grup APRIL, yakni pendekatan produksi-proteksi, khususnya di wilayah Semenanjung Kampar. Hal ini dilakukan sebagai wujud komitmen APRIL2030 yang diluncurkan oleh perusahaan pada November 2020.

Selain itu, Grup APRIL juga telah menyelesaikan pembangunan pusat penelitian Eco-Research Camp setelah empat tahun perencanaan.

Eco-Research Camp berfungsi sebagai pusat ilmu pengetahuan lahan gambut tropis untuk ilmuwan dan akademisi nasional maupun internasional serta pemangku kepentingan.

Fasilitas tersebut ditujukan bagi peneliti dan akademisi yang ingin merasakan pengalaman langsung cara merestorasi ekosistem di lapangan.

Baca juga: Bahu-membahu Bantu Tingkatkan Pendapatan Masyarakat di Era Pandemi

Tak hanya pembangunan Eco-Research Camp, perusahaan juga terus mendukung lanskap yang berkembang di area operasional lewat APRIL2030. Project ini dilakukan dengan dukungan terhadap inisiatif restorasi melalui kolaborasi dan kerja sama.

Bahkan, perusahaan telah menyiapkan pendanaan hingga 10 juta dollar AS per tahun untuk investasi di bidang lingkungan dalam 10 tahun ke depan. Dana ini didapat dari setiap ton serat yang digunakan dalam produksi.

“RER tidak hanya mendukung program restorasi ekosistem dan keanekaragaman hayati di Indonesia. Namun, RER juga mendukung upaya pemerintah dalam mengendalikan perubahan iklim dengan mengurangi emisi karbon,” jelas Sihol.

Perusahaan, lanjut Sihol, juga mendukung perlindungan dan pelestarian satwa liar di Indonesia lewat APRIL2030. Perlindungan ini termasuk kepada jenis satwa yang terancam punah melalui kemitraan dan kerja sama.

Komitmen APRIL2030 sendiri bertujuan untuk memberikan dampak positif bagi alam, iklim, dan lingkungan. Tujuan ini sekaligus mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan bagi perusahaan.

Sebagai informasi, RER merupakan perwujudan nyata komitmen perusahaan dalam mendorong penerapan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs). Khususnya pada poin 15, yakni Life on Land (Ekosistem Daratan) dan 13, Climate Action (Penanganan Perubahan Iklim).


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Stepanus Robin Ubah Keterangan di Sidang, KPK: Akan Kami Ungkap Kebenarannya

Stepanus Robin Ubah Keterangan di Sidang, KPK: Akan Kami Ungkap Kebenarannya

Nasional
Menanti Tindakan Korektif Pimpinan KPK atas Malaadministrasi TWK

Menanti Tindakan Korektif Pimpinan KPK atas Malaadministrasi TWK

Nasional
Pembatasan Waktu Makan 20 Menit di Warteg yang Tuai Polemik...

Pembatasan Waktu Makan 20 Menit di Warteg yang Tuai Polemik...

Nasional
Duduk Perkara Kekerasan Tentara terhadap Warga di Merauke Versi TNI AU

Duduk Perkara Kekerasan Tentara terhadap Warga di Merauke Versi TNI AU

Nasional
[POPULER NASIONAL] 2.069 Pasien Covid-19 Meninggal dalam Sehari | KPK Diminta Tindaklanjuti Temuan Ombudsman

[POPULER NASIONAL] 2.069 Pasien Covid-19 Meninggal dalam Sehari | KPK Diminta Tindaklanjuti Temuan Ombudsman

Nasional
KSAU Minta Maaf dan Tindak Tegas Prajurit Pelaku Kekerasan terhadap Warga di Merauke

KSAU Minta Maaf dan Tindak Tegas Prajurit Pelaku Kekerasan terhadap Warga di Merauke

Nasional
Mensos Risma Minta Kepala Daerah Kawal Penyaluran Bansos

Mensos Risma Minta Kepala Daerah Kawal Penyaluran Bansos

Nasional
Periksa Hengky Kurniawan, KPK Dalami Pembagian Tugas dengan Aa Umbara di Bandung Barat

Periksa Hengky Kurniawan, KPK Dalami Pembagian Tugas dengan Aa Umbara di Bandung Barat

Nasional
Periksa Saksi, KPK Dalami Penerimaan dan Penggunaan Uang Eks Penyidik Stepanus Robin

Periksa Saksi, KPK Dalami Penerimaan dan Penggunaan Uang Eks Penyidik Stepanus Robin

Nasional
Kuasa Hukum Yakin Hakim Kabulkan Permohonan Praperadilan Angin Prayitno Aji

Kuasa Hukum Yakin Hakim Kabulkan Permohonan Praperadilan Angin Prayitno Aji

Nasional
Megawati Instruksikan Kader PDI-P Bantu Penanganan Pandemi Lewat Kegiatan Partai

Megawati Instruksikan Kader PDI-P Bantu Penanganan Pandemi Lewat Kegiatan Partai

Nasional
Mendagri: Saya Ingin Lihat Pemda Mana yang Sukses Bentuk Tim Tracing Covid-19

Mendagri: Saya Ingin Lihat Pemda Mana yang Sukses Bentuk Tim Tracing Covid-19

Nasional
Kemendikbud Ristek Tegaskan Asesmen Nasional Tak Digunakan untuk Menilai Individu Murid

Kemendikbud Ristek Tegaskan Asesmen Nasional Tak Digunakan untuk Menilai Individu Murid

Nasional
TNI AU Minta Maaf dan Tahan 2 Prajuritnya yang Lakukan Kekerasan ke Warga di Merauke

TNI AU Minta Maaf dan Tahan 2 Prajuritnya yang Lakukan Kekerasan ke Warga di Merauke

Nasional
Dugaan Pelanggaran Etik dalam Proses TWK Tak Cukup Bukti, KPK: Dewas Sudah Periksa 42 Bukti

Dugaan Pelanggaran Etik dalam Proses TWK Tak Cukup Bukti, KPK: Dewas Sudah Periksa 42 Bukti

Nasional
komentar di artikel lainnya