Sayidiman Suryohadiprodjo: Indonesia yang Saya Impikan...

Kompas.com - 19/01/2021, 10:18 WIB
Almarhum Letjen (Purn) Sayidiman Suryohadiprojo ketika menerima Pangdam Jaya Mayjen Dudung Abdurachman di kediamannya di Kebayoran Baru, 14 Desember 2020. (Dok. Penerangan Kodam Jaya/Jayakarta) Dok. Penerangan Kodam Jaya/JayakartaAlmarhum Letjen (Purn) Sayidiman Suryohadiprojo ketika menerima Pangdam Jaya Mayjen Dudung Abdurachman di kediamannya di Kebayoran Baru, 14 Desember 2020. (Dok. Penerangan Kodam Jaya/Jayakarta)
Editor Bayu Galih

"IMPIAN saya tentang Indonesia Merdeka adalah terbangunnya satu negara sebagai wahana bagi bangsa Indonesia untuk mencapai kesejahteraan, kemajuan dan keadilan bagi seluruh rakyatnya.

Negara demikian harus menyelenggarakan pendidikan yang luas dan meliputi berbagai aspek kehidupan, baik yang bersifat ilmu pengetahuan maupun teknologi, yang menghasilkan ahli-ahli dalam teori tetapi juga pakar-pakar yang cakap dalam praktik, seperti memimpin dan mengelola pabrik.

Namun, di samping itu juga kuat karakternya agar tidak sekadar menjadi alat atau agen bangsa lain."

Letnan Jenderal (Purn) Sayidiman Suryohadiprojo, 7 Mei 2020

***

Innalillahi wa inna ilaihi rajiuunn...

Selamat jalan, Jenderal Sayidiman Suryohadiprojo (21 September 1927-16 Januari 2021).
Beristirahat selamanya di Taman Makam Pahlawan Utama, Kalibata, Jakarta pada Minggu, 17 Januari 2021.

Pembuka tulisan ini adalah nukilan dari sebuah tulisan delapan halaman yang dikirimkan almarhum Jenderal Sayidiman Suryohadiprojo kepada saya lewat pesan WhatsApp pada 9 Mei 2020.

Saya pasti bukan satu-satunya orang yang dikirimi almarhum tulisan ini. Akan tetapi, untuk saya, tulisan yang dikirim Pak Sayid, demikian saya memanggil almarhum, di masa kita semua sedang berkurung diri di tengah wabah pandemi Covid-19, sangat menggugah.

Tulisan yang memacu semangat kita yang sedang turun, untuk terus memelihara, merawat dan membesarkan Indonesia menjadi negara yang merdeka dalam arti yang sesungguhnya.

"Indonesia yang Saya Impikan", demikian judul tulisan itu, berarti dikirim tujuh bulan sebelum kepergiannya untuk selamanya, 16 Januari 2021, dalam usia 93 tahun lebih 4 bulan.

Pak Sayidiman tanpa kenal lelah seperti terbaca dalam semua tulisannya kembali mengingatkan dan berpesan untuk tak pernah lelah, amanah dan bekerja tulus membangun Indonesia, dalam segala bidang yang kita tekuni.

Tulisan ini pula yang sepuluh tahun lalu dikompilasi menjadi sebuah buku yang disunting St Sularto dan diterbitkan Penerbit Buku Kompas. Judul buku itu Guru-guru Keluhuran: Rekaman Monumental Mimpi Anak Tiga Zaman.

Para tokoh diminta memberikan masing-masing tulisan inspiratif tentang apa mimpi dan harapan mereka sebagai anak tiga zaman. Zaman kolonial Belanda, kolonial Jepang dan kemerdekaan. Sungguh sebuah buku belajar mencintai dan berbuat untuk bangsa, bagi anak muda.

Penerbit Buku Kompas menempatkan tokoh-tokoh dalam kompilasi tulisan. Mereka adalah: Adrian B Lapian, BRA Mooryati Soedibyo, Ciputra, Conny Semiawan, Daoed Joesoef, Emil Salim, HAR Tilaar, Koento Wibisono Siswomihardjo, Mangombar Ferdinand Siregar, Melly G Tan, dan MT Zen.

Ada pula Myra Sidharta, RP Soejono, Rosihan Anwar, Santoso S Hamijoyo, Saparinah Sadli, Sayidiman Suryohadiprojo, Sediono MP Tjondronegoro, Sjamsoe'oed Sadjad, Soekanto SA, Soemarno Soedarsono, Toeti Heraty, dan Winarno Surakhmad.

Ada satu benang merah nasihat mereka, yaitu: Pendidikan. Pendidikanlah yang bisa membebaskan dan memerdekakan bangsa ini. Para sesepuh bangsa ini –beberapa di antaranya telah meninggal dunia, masing-masing mengisahkan dengan gaya bertutur soal perjuangan hidup mereka di tiga zaman tersebut.

Saya menyederhanakan beberapa kalimat asli almarhum dalam "Indonesia yang Saya Impikan", tanpa menghilangkan maknanya.

Pak Sayidiman menuliskan:

"Saya pandang pentingnya peran pendidikan, agar semua unsur bangsa Indonesia dapat berkembang maju secara harmonis. Pendidikan juga penting untuk membangun semangat juang manusia Indonesia.

Sebab, bangsa Indonesia hidup dalam alam yang serba murah dan mudah dibandingkan dengan kehidupan bangsa yang tinggal di wilayah empat musim. Akibatnya, kita manja dan kurang semangat juang.

Kemudian, ini menjadi rintangan dan tantangan berat untuk dapat memanfaatkan segala karunia Allah berupa kekayaan alam dan bumi untuk kesejahteraan kita.

Orang Indonesia harus sama kuat semangat juangnya dengan orang Korea-Jepang-China yang selalu bergulat dengan musim dingin yang bisa kejam, dengan alam yang kurang subur, tanpa kekayaan bumi yang berarti. Semua orang Indonesia dari semua etnik perlu kita bangun semangat juangnya.

Melalui pendidikan juga akan kita hilangkan kesenjangan yang masih ada antara daerah serta etnik yang berlainan.

Sehingga dengan kemampuan masing-masing yang terus berkembang, semua orang, semua etnik, semua daerah makin maju dan menjadikan bangsa dan negara Indonesia juga maju. Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya semboyan saja."

Buku terakhir

Saya beruntung mendapat kesempatan wawancara dengan almarhum Pak Sayid pada 6 Agustus 2019. Wawancara panjang, dan ketika itu saya datang bersama anak sulung yang ingin mendapat wejangan dari sesepuh TNI ini.

Seluruh isi wawancara mengulas cara pandang beliau tentang pendidikan dan kepemimpinan, khususnya kepemimpinan TNI yang diamatinya belakangan ini.

Semuanya tertuang pada buku barunya yang diperkenalkan kepada saya saat itu, berjudul Masyarakat Pancasila (Altheras, 2019). Salah satu tentara yang gemar menulis dan rutin menerbitkan buku ini, kemudian menyerahkan satu eksemplar buku yang kemudian menjadi buku terakhirnya ini.

Bagian paling utama dari buku ini kembali menegaskan pentingnya pendidikan sebagai dasar pembentukan seorang pemimpin.

"Dalam kehidupan, ada orang-orang yang lahir dengan bakat kepemimpinan yang kuat. Orang-orang ini tak banyak memerlukan bimbingan yang kuatuntuk menjadi pemimpin yang efektif.

Akan tetapi, orang-orang yang bakatnya kurang kuatjuga dapat menjalankan kepemimpinan yang efektif melalui pendidikan dan latihan yang mengembangkan bakatnya itu. Dalam satu masyarakat, juga dalam masyarakat Pancasila, diperlukan pelaksanaan kepemimpinan di berbagai bidang dan tingkatan yang tidak sedikit jumlahnya.

Itu sebabnya keberhasilan kepemimpinan tak dapat dibatasi pada orang-orang yang berbakat tinggi saja. Dengan pembinaan intensif, akan diperoleh cukup banyak orang yang dapat menjalankan kepemimpinan efektif di negeri ini." (Suryohadiprojo, 2019, hal. 47)

***

Republik Indonesia kembali kehilangan seorang pemikir negara, pejuang di medan pertempuran sejak usia remaja, tentara-pejuang yang amanah dan kuat memegang Sapta Marga dan tak putus berpikir, menulis dalam berbagai opini dan buku.

Tokoh yang langka, karena ia salah satu dari sangat sedikit angkatan pertama Akademi Militer yang lulus pada angkatan pertama tahun 1947.

Dalam wawancara tahun lalu, Pak Sayid menyebut angka tinggal 7 orang termasuk dirinya, yang masih ada. Saat itu nama Akmil masih Militarie Akademie, atau biasa disebut dalam sejarah sebagai MA Yogya.

Pertempuran Plataran

Pak Sayidiman juga adalah saksi hidup pertempuran Plataran Yogyakarta di tahun 1949. Pada saat itu, para kadet (taruna) diturunkan untuk meredam serangan pasca-agresi militer kedua pada 19 Desember 1948.

Zaman itu, kadet MA Yogya melakukan “latihan pertempuran” yang sesungguhnya. "Latihan kami memang nyawa taruhannya", demikian penjelasan Pak Sayidiman mengenang puluhan temannya gugur dalam pertempuran.

Kini, di tempat pertempuran itu berdiri Monumen Plataran, yang terletak di Dusun Plataran, Desa Selomartani, Kecamatan Kalasan, Sleman. Monumen ini untuk mengenang puluhan pejuang Indonesia yang gugur saat pertempuran dengan Belanda pada tanggal 24 Februari 1949.

Pada 24 Februari 2020, dalam peringatan Pertempuran Plataran, Letnan Jenderal (Purn) Sayidiman Suryohadiprojo hadir di Plataran bersama beberapa anggota Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI).

Sampai menjelang akhir hayatnya, Pak Sayid adalah Ketua Dewan Pertimbangan Pusat LVRI (2010-2017). Peringatan 71 tahun Pertempuran Plataran itu dikunjunginya bersama Gubernur Akademi Militer saat itu, Mayjen TNI Dudung Abdurachman oleh Akademi Militer Magelang.

Menurut Gubernur Akmil, senyatanya raut bahagia Pak Sayidiman tampak ketika diajak kembali ke tempat itu dan bertemu beberapa kawan lama.

Selamat jalan Pak Sayidiman, peninggalan utama Bapak sangat jelas: belasan buku dan puluhan tulisan di berbagai media massa. Semoga, generasi pewaris Republik Indonesia, bisa melanjutkan perjuangan ini. Aamiin...

Depok, 19 Januari 2021.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Panglima TNI: Dharma Pertiwi Turut Berpartisipasi dalam Pembangunan Nasional

Panglima TNI: Dharma Pertiwi Turut Berpartisipasi dalam Pembangunan Nasional

Nasional
Kalapas Gunung Sindur: Napi Teroris Awalnya Hormat Bendera Saja Tidak Mau

Kalapas Gunung Sindur: Napi Teroris Awalnya Hormat Bendera Saja Tidak Mau

Nasional
Dua Tersangka Kasus Korupsi di Bakamla Segera Disidang

Dua Tersangka Kasus Korupsi di Bakamla Segera Disidang

Nasional
Korupsi BPJS Ketenagakerjaan, Kejagung Periksa Deputi Direktur Manajemen Risiko Investasi

Korupsi BPJS Ketenagakerjaan, Kejagung Periksa Deputi Direktur Manajemen Risiko Investasi

Nasional
Didakwa Terima Suap Rp 25,7 Miliar, Edhy Prabowo: Saya Tak Bersalah

Didakwa Terima Suap Rp 25,7 Miliar, Edhy Prabowo: Saya Tak Bersalah

Nasional
Jadi Relawan Vaksin Nusantara, Mantan Menkes Siti Fadilah: Ini Bukan Vaksinasi, tapi Penelitian

Jadi Relawan Vaksin Nusantara, Mantan Menkes Siti Fadilah: Ini Bukan Vaksinasi, tapi Penelitian

Nasional
Kepala Bappenas: Pemerintah Terbuka pada Semua Usulan Pembangunan Ibu Kota Baru

Kepala Bappenas: Pemerintah Terbuka pada Semua Usulan Pembangunan Ibu Kota Baru

Nasional
Pengamat Pertahanan Nilai Denwalsus Kemhan Tidak Bermasalah

Pengamat Pertahanan Nilai Denwalsus Kemhan Tidak Bermasalah

Nasional
Fraksi PKS Dukung Rencana Jokowi Bahas Persoalan di Myanmar Lewat KTT ASEAN

Fraksi PKS Dukung Rencana Jokowi Bahas Persoalan di Myanmar Lewat KTT ASEAN

Nasional
Raja Salman Beri Hadiah 15 Ton Kurma Istimewa untuk Umat Islam di Indonesia

Raja Salman Beri Hadiah 15 Ton Kurma Istimewa untuk Umat Islam di Indonesia

Nasional
Dakwaan Jaksa: Edhy Prabowo Pakai Uang Suap Rp 833,4 Juta untuk Belanja Barang Mewah Bersama Istri di AS

Dakwaan Jaksa: Edhy Prabowo Pakai Uang Suap Rp 833,4 Juta untuk Belanja Barang Mewah Bersama Istri di AS

Nasional
Sengketa Pilkada Sabu Raijua, MK Anulir Pencalonan Orient Karena Dinilai Berkewarganegaraan AS

Sengketa Pilkada Sabu Raijua, MK Anulir Pencalonan Orient Karena Dinilai Berkewarganegaraan AS

Nasional
Paslon Orient-Thobias Didiskualifikasi, PDI-P Minta KPU dan Bawaslu Tanggung Jawab

Paslon Orient-Thobias Didiskualifikasi, PDI-P Minta KPU dan Bawaslu Tanggung Jawab

Nasional
Isu Reshuffle Mencuat, Politisi Golkar: Kita Cukup Tunggu Saja

Isu Reshuffle Mencuat, Politisi Golkar: Kita Cukup Tunggu Saja

Nasional
Polri Bolehkan Mudik Sebelum 6 Mei, Pimpinan Komisi III Ingatkan Soal Pengawasan

Polri Bolehkan Mudik Sebelum 6 Mei, Pimpinan Komisi III Ingatkan Soal Pengawasan

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X