Corona Berdampak pada Ekonomi, Pejabat Diminta Tak Asal Bunyi

Kompas.com - 29/02/2020, 11:37 WIB
Ilustrasi virus corona ShutterstockIlustrasi virus corona
Penulis Ihsanuddin
|


JAKARTA, KOMPAS.com - Politisi Partai Golkar Muhammad Misbakhun menyayangkan komentar sejumlah pejabat terkait virus Corona (Covid-19).

Misbakhun menilai komentar asal dari sejumlah pejabat dan birokrat berpotensi membuat kondisi perekonomian bertambah buruk.

Menurut dia, pasar yang sedang panik dan menghadapi tekanan tidak semestinya ditimpali komentar-komentar yang memperburuk situasi.

"Para birokratnya, komentarnya atau statement di publik tidak memberikan suasana dan situasi tenang malah bikin situasi semakin memburuk. Seharusnya memberikan sinyal-sinyal positif," kata Misbakhun kepada wartawan, Sabtu (29/2/2020).

Baca juga: Pemprov DKI Pastikan Tak Ada Penderita Virus Corona

Anggota Komisi XI itu menjelaskan, efek penyebaran virus corona sudah mulai membuat rupiah terdepresiasi sehingga nilai tukar dolar AS (USD) sudah di kisaran Rp 14.200.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang pada akhir 2019 masih di atas level 6.000, belakangan sempat merosot ke kisaran 5.200.

Misbakhun menegaskan, IHSG dan kurs rupiah merupakan dua indikator utama perekonomian.

"Kalau yang terserang dua unsur indikator perekonomian Indonesia yaitu nilai tukar dan IHSG, saya yakin akan berpengaruh secara psikologis ke perekonomian kita secara umum lalu berlanjut ke sektor-sektor fundamental lainnya," ujarnya.

Oleh karena itu, mantan pegawai Kementerian Keuangan tersebut menegaskan, harus ada kebijakan tepat untuk mengantisipasi efek penyebaran virus corona.

Baca juga: Pimpinan DPR Desak Mendagri Bentuk Desk Corona

“Kalau itu salah penanganan, ini bisa membuat situasi makin buruk,” katanya.

Misbakhun mengatakan, Indonesia memiliki banyak daerah dengan karakteristik masing-masing. Menurut dia, antisipasi atas efek penyebaran virus corona juga harus memperhatikan karakter wilayah.

Politikus asal Pasuruan, Jawa Timur itu lantas mencontohkan Yogyakarta. Mengutip data BI, Misbakhun mengatakan bahwa 55 persen perekonomian Yogyakarta ditopang oleh pariwisata.

Namun, Misbakhun memperkirakan penyebaran virus corona juga akan berimbas terhadap pariwisata Yogyakarta. Oleh karena itu, hal-hal yang berpotensi mengganggu penopang perekonomian Yogyakarta harus diantisipasi.

“Tantangannya ke depan, virus corona pastinya akan memberikan dampak. Jadi menguatkan Jogja ini harus terus menarik wisata domestik, lokal Nusantara,” ujarnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X