Walhi Sebut Karhutla Terjadi karena Manusia Tak Mau Beradaptasi dengan Alam

Kompas.com - 21/09/2019, 13:53 WIB
Petugas SAR Direktorat Sabhara Polda Jambi memadamkan kebakaran lahan gambut milik salah satu perusahaan di Puding, Kumpeh Ilir, Muarojambi, Jambi, Rabu (11/9/2019). Asap kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Jambi telah mengakibatkan aktivitas belajar mengajar di beberapa kota/kabupaten setempat terganggu dan terpaksa diliburkan, sementara upaya pemadaman masih terus dilakukan sejumlah pihak. ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/foc. ANTARA FOTO/Wahdi SeptiawanPetugas SAR Direktorat Sabhara Polda Jambi memadamkan kebakaran lahan gambut milik salah satu perusahaan di Puding, Kumpeh Ilir, Muarojambi, Jambi, Rabu (11/9/2019). Asap kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Jambi telah mengakibatkan aktivitas belajar mengajar di beberapa kota/kabupaten setempat terganggu dan terpaksa diliburkan, sementara upaya pemadaman masih terus dilakukan sejumlah pihak. ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/foc.
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Kebakaran hutan dan lahan yang berulang kali terjadi dinilai merupakan akibat dari sikap manusia. Manusia dinilai tidak mau beradaptasi dengan alam, terutama dengan ekosistem gambut.

Juru Kampanye Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Zenzi Suhadi mengatakan, ekosistem gambut yang dimanfaat dengan pendekatan adaptif tidak akan menyebabkan bencana seperti kebakaran hutan.

"Sebenarnya manusia dari dulu sudah ada di ekosistem gambut ini. Perbedaannya, kalau masyarakat tradisional dia mengelolanya itu dengan adaptasi, mereka beradaptasi menyesuaikan budidayanya," kata Zenzi dalam sebuah diskusi di kawasan Cikini, Sabtu (21/9/2019).


Sebaliknya, saat ini, masyarakat justru memodifikasi lahan gambut supaya sesuai dengan budidaya tertentu yang diinginkan, misalnya kelapa sawit, yang justru merusak ekosistem gambut.

Baca juga: Panjang Sekat Penahan Api di Lahan Gambut Capai 3250 Meter

"Api dan musim panas di Indonesia ini sudah ada dari ratusan tahun yang lalu tapi tidak ada kebakaran. Sekarang faktor utamanya bukan musim panas, faktor utamanya itu meningkatnya kerentanan pada ekosistem gambut itu," ujar Zenzi.

Ia juga menilai masyarakat peladang bukan menjadi aktor yang menyebabkan kebakaran hutan. Sebab, saat ini merupakan masa panen bagi mereka yang mustahil menjadi penyebab pembakaran lahan.

Oleh karena itu, ia meminta aparat pemerintah untuk menguak kelompok-kelompok yang akan diuntungkan dengan pembakaran lahan.

"Yang harus dibongkar adalah bagaimana korporasi ini menyamarkan pelaku pembakaran yang mereka bayar seolah ini peladang," kata Zenzi.

Baca juga: Cegah Api Menyebar, Pemerintah Bikin Sekat di Lokasi Kebakaran Gambut

Seperti diketahui, kebakaran hutan dan lahan di wilayah Sumatera dan Kalimantan terjadi dalam beberapa waktu terakhir.

Akibatnya, kabut asap menyelimuti sejumlah kota dan mengganggu aktivitas serta kesehatan warga.

Merujuk dari data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Kamis (19/9) pukul 16.00 WIB, total ada 328.724 hektar lahan yang terbakar dengan 4.319 titik panas selama Januari-Agustus 2019.

Provinsi Kalimantan Tengah memiliki titik api paling banyak sejumlah 1.996 titik, kemudian diikuti Kalimantan Barat (1.150); Kalimantan Selatan (199); Sumatera Selatan (194); Jambi (105); dan Riau (14). 

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X