Polri: Tersangka Penjual Data Kependudukan Tak Bobol Sistem Dukcapil

Kompas.com - 16/08/2019, 07:04 WIB
Wadir Tipidsiber Bareskrim Polri, Kombes Asep Safrudin (ketiga dari kanan) saat konferensi pers di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Kamis (15/8/2019). KOMPAS.com/Devina HalimWadir Tipidsiber Bareskrim Polri, Kombes Asep Safrudin (ketiga dari kanan) saat konferensi pers di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Kamis (15/8/2019).
Penulis Devina Halim
|
Editor Krisiandi

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri mengungkapkan, data pribadi yang dijual melalui situs temanmarketing.com bukan didapat dengan membobol pusat data kependudukan milik Direktorat Jenderal Kependudukan dan Catatan Sipil Kementerian Dalam Negeri.

Wadir Tipidsiber Bareskrim Polri, Kombes Asep Safrudin mengatakan, penjual yang berinisial C (32) mendapatkan data untuk dijual dari pelaku lain yang berinisial I.

Polisi sedang mendalami bagaimana tersangka I mendapatkan data tersebut.

"Mereka mendapatkannya itu dari salah satu produsen juga dan itu sedang kami dalami. Namun yang jelas, mereka tidak melakukan illegal access terhadap sistem yang ada di Dukcapil," ujar Asep saat konferensi pers di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Kamis (15/8/2019).

Baca juga: Polisi Buru Pemasok Data Kependudukan yang Dijual Lewat Situs Web

Sementara itu, Direktur Jenderal Dukcapil Kementerian Dalam Negeri Zudan Arif Fakrulloh pun memastikan keamanan pusat data kependudukan.

Menurut Zudan, pusat data mereka telah memiliki pengamanan untuk mencegah hal-hal serupa.

"Ini perlu kami tegaskan alhamdulillah sistem kita, terus kita jaga dan tidak di-intercept. Data kita terjaga rapi dengan pengamanan fisik maupun sistem," kata Zudan di konferensi pers yang sama.

Zudan pun mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati dalam memberikan data kependudukan.

Secara khusus, ia menyebut perihal layanan financial technology (fintech). Menurutnya, masyarakat perlu hati-hati saat memberikan data kepada fintech karena rawan disalahgunakan.

Sebelumnya, polisi telah menangkap tersangka C di daerah Cilodong, Depok, Jawa Barat, pada 6 Agustus 2019.

Baca juga: Tersangka Jual Beli Data Kependudukan Raup Untung Rp 250.000 Per Hari

Tersangka C diketahui menyimpan jutaan data pribadi warga negara Indonesia yang terdiri dari 761.435 nomor ponsel, 129.421 kartu kredit, 1.162.864 Nomor Induk Kependudukan (NIK), 50.854 Nomor Kartu Keluarga (KK), dan 64.164 nomor rekening.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X