Kisah Petugas Pemilu 2019 di Beijing, Melek 36 Jam hingga Perjalanan 200 Kilometer...

Kompas.com - 21/04/2019, 08:46 WIB
Ilustrasi persiapan pemilu luarnegeri: Video conference pencocokan dan penelitian (coklit) serentak dari ruang operation room di Kantor KPU, Jakarta, Selasa (17/4). KPU menggelar coklit data pemilih Pemilu 2019 secara serentak pada 17 April hingga 17 Mei 2018, baik bagi pemilih di dalam negeri maupun di luar negeri. KOMPAS/ALIF ICHWANIlustrasi persiapan pemilu luarnegeri: Video conference pencocokan dan penelitian (coklit) serentak dari ruang operation room di Kantor KPU, Jakarta, Selasa (17/4). KPU menggelar coklit data pemilih Pemilu 2019 secara serentak pada 17 April hingga 17 Mei 2018, baik bagi pemilih di dalam negeri maupun di luar negeri.

JAKARTA, KOMPAS.com - Kisah inspiratif dan penuh perjuangan datang dari mereka yang terlibat sebagai petugas penyelenggara pemilu di penjuru Tanah Air dan berbagai negara.

Kali ini, kisah datang dari para petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara Luar Negeri (KPPSLN) di Beijing, China.

Faqih Ma'arif, mahasiswa Beijing University of Aeronautics and Astronautics yang dikenal dengan sebutan Beihang University, salah satunya.

Dikutip dari Antara, Kandidat doktor bidang struktur gedung asal Sleman, DI Yogyakarta, itu merasa terpanggil untuk menjadi bagian dari penyelenggara pemilu bagi warga negara Indonesia di Ibu Kota China tersebut.

Ia pun merelakan waktu berkumpul dengan keluarga di kampung halaman terpotong karena harus segera kembali ke Beijing atas panggilan Panitia Pemilu Luar Negeri (PPLN) setempat.

Baca juga: Ini Hasil Perhitungan Suara Pilpres 2019 di Sejumlah Negara

Demikian pula dengan Lenny Damayanti, anggota KPPSLN Beijing, yang berdomisili di Kota Tianjin.

Gadis berusia 22 tahun itu hampir setiap hari selama masa pemungutan dan penghitungan suara menempuh perjalanan hampir 200 kilometer.

Tiket kereta api cepat kelas ekonomi dari Tianjin menuju Beijing bertarif 54 RMB atau sekitar Rp 113.000 tidak pernah dimintakan ganti.

Sebagai pelajar di negeri orang, Lenny tentu membutuhkan uang. Akan tetapi, bukan itu alasannya memilih terlibat sebagai petugas KPPSLN Beijing.

"Bukan uang tujuan saya ikut tes ini," ujar mahasiswi S1 Tianjin University of Science and Technology ini, saat diwawancarai para anggota PPLN Beijing pada pertengahan Februari 2019.

Baca juga: CEK FAKTA: Hasil Exit Poll Pemilu Luar Negeri Beredar di Medsos

Saat aktivitasnya di KPPSLN sampai larut malam, Lenny terpaksa "nebeng" di rumah temannya karena kereta api terakhir dari Stasiun Beijingnan ke Tianjinxi berangkat pukul 23.00.

Saat PPLN Beijing mengumumkan lowongan KPPSLN secara daring, banyak WNI yang berminat untuk melamar.

Setelah melalui seleksi administrasi dan wawancara, terpilihlah sebanyak 25 orang anggota KPPSLN.

Mereka dari kalangan pelajar dan masyarakat umum pemegang paspor Indonesia.

Bekerja lebih awal

Sejak dilantik pada 2 Maret 2019, mereka langsung "tancap gas" bekerja siang-malam di salah satu ruangan di Kedutaan Besar RI di Beijing.

Berbeda dengan di Indonesia, anggota KPPSLN Beijing bekerja lebih awal karena harus mempersiapkan pengiriman surat suara kepada WNI yang tinggal di 18 provinsi/munisipalitas di China ditambah Mongolia melalui pos.

Tingginya tingkat partisipasi pemilih, baik yang datang langsung ke TPS pada 14 April 2019 maupun yang dikirim surat suara melalui pos mulai 17 Maret 2019, tidak pernah mereka duga.

Baca juga: Ribuan Suara Pemilu Luar Negeri Nyasar, Ini Penjelasan KPU

"Yang didatangi langsung C6 (formulir pemberitahuan dari KPU kepada pemilih agar memberikan hak suaranya) saja tidak sampai segitu. Lah di sini yang C6-nya dikirim via pos dan bahkan ada yang online, tapi yang milih banyak banget," kata Faqih.

Pada Pemilu 2019, tingkat partisipasi WNI yang menggunakan hak pilihnya sebesar 76 persen.

Angka ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan Pemilu 2014, yang tingkat partisipasi WNI di China di bawah 50 persen.

Kecewa dituding curang

KPPSLN Beijing terbilang unik karena anggotanya perpaduan antara generasi muda milenial dan generasi tua.

Selain anggota KPPSLN Bejing termuda berusia 22 tahun, ada juga yang berusia lebih dari 60 tahun dan telah beberapa kali terlibat sebagai penyelenggara.

Akan tetapi, perbedaan generasi ini tak menjadi sekat kerja sama. Mereka sama-sama rela tidak tidur untuk menghindari kesalahan dalam rekapitulasi dan input data hasil penghitungan suara.

Oleh karena itu, para petugas penyelenggara pemilu di KPPSLN Beijing ini mengaku kecewa ketika beberapa pihak menuding adanya kecurangan.

"Betapa kecewanya kalau ada rekan sesama KPPS yang dituduh curang karena kami ini bekerja mulai pagi sampai pagi lagi," kata anggota KPPSLN Beijing, Tirta Leonardi.

Mahasiswa S1 jurusan Elektro di Beijing Institute of Technology itu mengakui, pemilu tahun ini lebih rumit dibandingkan 5 tahun lalu.

Kerumitan itu antara lain terkait pengisian formulir mulai dari daftar pemilih hingga input data hasil penghitungan suara.

"Setiap tahap membutuhkan validasi akurat dari beberapa orang yang terlibat, termasuk setiap anggota PPLN. Sangat kecil peluangnya untuk berbuat curang," kata Tirto.

Ia menyebutkan, butuh kejelian dalam mengisi setiap formulir pemungutan, penghitungan, dan input data Situng. Bahkan, tanpa terasa, mereka tak memejamkan mata selama 36 jam, mulai Rabu (17/4/2019) pagi hingga Kamis (18/4/2019) sore.

Hingga tahapan penyelenggaraan usai, para petugas KPPSLN Beijing belum menerima honor yang menjadi hak mereka.

Meski demikian, kata Faqih, ia dan para petugas lainnya tak menanyakan soal itu. KPU sudah menganggarkan dana bagi para petugas yang terlibat dalam penyelenggaraan pemilu.

"Kami merasa terhormat karena bisa bantu negara sendiri di luar negeri yang tidak bisa dihargai dengan suatu apa pun," kata Faqih, yang juga Ketua Pusat Kajian Sains dan Teknologi Bidang Hak Kekayaan Intelektual Perhimpunan Pelajar Indonesia di Tiongkok itu.

Baca tentang
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Sumber Antara
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ayah di Salatiga Tularkan Covid-19 ke Tiga Anggota Keluarganya

Ayah di Salatiga Tularkan Covid-19 ke Tiga Anggota Keluarganya

Nasional
Ketua KPK Minta Kepala Daerah Stop Poles Citra dengan Dana Penanganan Covid-19

Ketua KPK Minta Kepala Daerah Stop Poles Citra dengan Dana Penanganan Covid-19

Nasional
Pemerintah: Tidak Pakai Masker Jadi Faktor Penyumbang Kasus Positif Covid-19 Terbanyak

Pemerintah: Tidak Pakai Masker Jadi Faktor Penyumbang Kasus Positif Covid-19 Terbanyak

Nasional
UPDATE 11 Juli: Pemerintah Telah Periksa 1.038.988 Spesimen Covid-19

UPDATE 11 Juli: Pemerintah Telah Periksa 1.038.988 Spesimen Covid-19

Nasional
1.671 Kasus Baru Covid-19 dari 28 Provinsi, Jatim Terbanyak dengan 409

1.671 Kasus Baru Covid-19 dari 28 Provinsi, Jatim Terbanyak dengan 409

Nasional
UPDATE 11 Juli: ODP Covid-19 Sebanyak 34.887 Orang, PDP 13.752 Orang

UPDATE 11 Juli: ODP Covid-19 Sebanyak 34.887 Orang, PDP 13.752 Orang

Nasional
UPDATE: 1.190 Pasien Sembuh Covid-19, Rekor Terbanyak Sejak 2 Maret 2020

UPDATE: 1.190 Pasien Sembuh Covid-19, Rekor Terbanyak Sejak 2 Maret 2020

Nasional
UPDATE 11 Juli: Tambah 66, Pasien Covid-19 Meninggal Dunia Jadi 3.535 Orang

UPDATE 11 Juli: Tambah 66, Pasien Covid-19 Meninggal Dunia Jadi 3.535 Orang

Nasional
UPDATE 11 Juli: Bertambah 1.190, Jumlah Pasien Sembuh Covid-19 Jadi 34.719 Orang

UPDATE 11 Juli: Bertambah 1.190, Jumlah Pasien Sembuh Covid-19 Jadi 34.719 Orang

Nasional
UPDATE: Kini Ada 74.018 Kasus Covid-19 di Indonesia, Bertambah 1.671

UPDATE: Kini Ada 74.018 Kasus Covid-19 di Indonesia, Bertambah 1.671

Nasional
Anggota Komisi IX DPR: Gratiskan Rapid Test Covid-19 untuk Warga Tidak Mampu

Anggota Komisi IX DPR: Gratiskan Rapid Test Covid-19 untuk Warga Tidak Mampu

Nasional
Penyintas Covid-19: Jangan Takut Cek Kesehatan jika Merasakan Gejala Terpapar Corona

Penyintas Covid-19: Jangan Takut Cek Kesehatan jika Merasakan Gejala Terpapar Corona

Nasional
Kemenkumham Diminta Tak Larut Dalam Glorifikasi Keberhasilan Ekstradisi Maria Lumowa

Kemenkumham Diminta Tak Larut Dalam Glorifikasi Keberhasilan Ekstradisi Maria Lumowa

Nasional
Masyarakat Diminta Tidak Bicara Keras demi Cegah Penularan Covid-19

Masyarakat Diminta Tidak Bicara Keras demi Cegah Penularan Covid-19

Nasional
Pilkada Digelar Desember, Ma'ruf Amin Harap Tak Akibatkan Gelombang Kedua Covid-19

Pilkada Digelar Desember, Ma'ruf Amin Harap Tak Akibatkan Gelombang Kedua Covid-19

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X